Menilik Kreativitas Lewat Lomba Masakan Khas Kota Wali

Caos Dahar Lorogending Makanan Kesukaan Sunan Kalijaga

545
LOMBA MASAK : Tim penilai melakukan penilaian dalam lomba masakan khas Demak di Pendopo, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LOMBA MASAK : Tim penilai melakukan penilaian dalam lomba masakan khas Demak di Pendopo, kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Ada yang menarik di Pendopo Kabupaten Demak, Jalan Kiai Singkil, Kota Demak, kemarin. Di area gedung utama pertemuan itu banyak berdiri meja yang di atasnya tersaji berbagai macam makanan khas Kota Wali. Di antaranya adalah makanan caos dahar Lorogeding makanan kesukaan Sunan Kalijaga.

DEMAK, Wahib Pribadi

MAKANAN caos dahar Lorogeding makanan kesukaan Sunan Kalijaga yang disajikan Setda Pemkab Demak ini, turut dilombakan dalam acara tersebut. Lomba yang dibuka Kabag Pemerintahan Umum, Edi Suntoro tersebut diikuti 47 organisasi perangkat daerah (OPD), termasuk dari 14 kecamatan.

Menurut Edi, lomba ini digelar untuk memperkenalkan kembali keanekaragaman kuliner masakan khas Demak. Selain itu, melestraikan dan menanamkan rasa cinta pada makanan lokal. Makanan yang tersaji dinilai dari sisi kekhasan masakan yang menyatu dalam sistem sosial budaya masyarakat setempat. Kemudian, cita rasa dan kandungan gizi serta cara penyajian. Untuk cara penyajian ini, termasuk menghindarkan wadah makanan dari kontaminasi bakteri. “Lomba ini menjadi bagian dari rangkaian HUT Demak ke-514,” katanya.

Tim penilai adalah Ketua PKK Ny Suntari, Ketua Dharma Wanita Persatuan Ny Nani Amrin, SKM, MKes dan lainnya. Kabag Humas Pemkab Demak, Endah Cahya Rini mengatakan bahwa makanan Lorogending yang disajikan dari Setda menjadi perhatian khusus dalam lomba tersebut. Sebab, makanan ini mengandung nilai sejarah kewalian.

“Makanan Lorogending ini menjadi sajian wajib bagi warga Kelurahan Kadilangu saat ada selamatan atau kenduri. Sedangkan, arti caos dahar merupakan bahasa kromo inggil yang berarti memberi makan,” katanya.

Menu Lorogending terdiri atas nasi golong (bentuk bulat) dibungkus daun pisang. Kemudian, dilengkapi dengan urap daun mengkudu (pace), trancam berbahan dasar terong dan kacang panjang. Ada sayur bening, daun kelor dan bubuk kedelai. Sedangkan, lauknya ikan gereh petek, lele dan ingkung ayam jago.

Nasi golong mengandung makna, manunggaling kawula gusti (bersatunya makhluk dengan sang Khalik). Sedangkan, urap mengkudu diartikan agar makhluk dapat menyatu dengan Sang khalik. Karena itu, suka atau tidak suka, wajib melaksanakan semua gending (irama) kehidupan baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Bubuk kedelai punya makna sebagai manusia harus bisa mengurangi tidur serta berani melakukan tirakat (lelaku prihatin) untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.

“Adapun makna lauk gereh adalah, rakyat kecil harus tetap memiliki semangat untuk berbakti pada negara. Sedangkan, ikan lele sebagai simbol aktif bergerak sehingga aparat harus kuat walaupun dalam keadaan kekurangan,” katanya.

Kemudian, ingkung ayam jago menjadi simbol kekuatan besar bagi pemimpin yang harus benar-benar jago. “Untuk minuman jasre atau jahe, sereh dan gula merah dimaksudkan sebagai penghangat tubuh sekaligus pelengkap makanan caos dahar,” ujarnya.

Dalam lomba ini, juara 1 diraih PDAM, juara 2 RSUD Sunan Kalijaga, juara 3 Kecamatan Mijen. Juara harapan 1 BPBD, harapan 2 Satpol PP dan harapan 3 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here