Kukuh Sudarmanto, Satu-satunya Camat Bergelar Doktor di Indonesia

Pernah Jadi Presiden Mahasiswa dan Komandan Menwa

739
DOKTOR ILMU HUKUM: Kukuh Sudarmanto Alugoro bersama istri, anak, dan dosen Unissula pengujinya. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DOKTOR ILMU HUKUM: Kukuh Sudarmanto Alugoro bersama istri, anak, dan dosen Unissula pengujinya. (DIAZ AZMINATUL ABIDIN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Camat Banyumanik Kukuh Sudarmanto Alugoro boleh jadi satu-satunya camat di Indonesia yang bergelar doktor (S3). Ia lulus dari Program Doktor Ilmu Hukum (PDIH) Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang awal Maret lalu dengan IPK 3,8 atau cumlaude.

DIAZ AZMINATUL ABIDIN

 

DI tengah kesibukan bekerja, tak banyak pejabat yang masih meluangkan waktunya untuk menimba ilmu di bangku perguruan tinggi. Namun beda dengan Kukuh Sudarmanto Alugoro. Camat Banyumanik ini tetap bersemangat menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Kerja kerasnya pun tak sia-sia. Ia berhasil lulus program doktor dengan predikat cumlaude. Kukuh meraih gelar doktor dengan disertasi berjudul ”Rekonstruksi Perlindungan Hukum Camat dalam Pelaksanaan Pilkada yang Berbasis Nilai Keadilan”.

Dalam disertasinya itu, Kukuh membeberkan pentingnya perlindungan hukum terhadap camat agar mampu bersikap netral saat pelaksanaan pilkada. Sebab, posisi camat sangat sentral untuk menggerakkan warga mendukung partai tertentu. ”Camat itu primadona sebagai alat politik. Karena sebagai ASN (aparat sipil negara), camat bisa menggerakkan warganya dari tingkat kecamatan hingga kelurahan untuk memilih mendukung partai tertentu. Namun camat harus netral dan membutuhkan perlindungan hukum,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain sibuk kuliah S3, di tengah rutinitasnya sebagai abdi masyarakat, Kukuh juga aktif menulis ide dan gagasan. Sejumlah artikelnya pernah dimuat di koran harian maupun majalah. Baginya, menulis adalah bentuk keaktifan warga negara berpartisipasi menyalurkan ide atau mengkritisi terhadap suatu masalah. ”Karena hobi saya membaca, saya jadi senang ikut urun rembuk tentang masalah yang sedang trending lewat tulisan. Sumbang saran itu dari kita untuk kita sebagai warga negara,” katanya.

Falsafah kerja ayah tiga anak ini, yakni kerja keras dan disiplin tinggi untuk melayani masyarakat. Pengalaman kerja di beberapa instansi pemerintah, seperti Bappeda, Bagian Tata Pemerintahan (Tapem), dan Sekretaris Kecamatan Pedurungan, telah mengantarkan dia menduduki pejabat eselon III/A berturut-turut. Dimulai sebagai Camat Tugu, Camat Semarang Barat, Camat Semarang Selatan, dan saat ini Camat Banyumanik.  Hal tersebut menambah ilmu dan wawasan suami dari Anisa Kukuh ini dalam bidang pelayanan publik.

”Kuncinya hanya melakukan pendekatan terhadap semua pihak. Baik itu atasan maupun bawahan. Melalui pendekatan personal, dari situ kita jadi tahu apa yang diinginkan masing-masing pihak,” bebernya.

Bagi Kukuh, apa yang saat ini diraih tak lepas dari kerja keras yang ditempanya. Penerapan disipilin dalam diri, pernah mengantarkannya sebagai mahasiswa teladan. Mantan Komandan Menwa ini bercerita, dirinya pernah didaulat menjadi ”Presiden Mahasiswa” saat menimba ilmu di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sebuah pengalaman tak terlupakan baginya, karena saat itu Kukuh dipilih menggantikan Priyo Budi Santoso, yang tak lain adalah mantan Wakil DPR RI.

”Mungkin hanya saya di Indonesia, camat yang sempat merasakan jadi presiden, walaupun hanya presiden mahasiswa. Tapi tanggung jawab yang dibebankan pada saya saat itu juga besar, karena saya harus mendengar dan menampung aspirasi dari semua rekan mahasiswa. Alhamdullilah semua dapat saya lalui, dan saya merasa bangga bisa merasakannya,” ujar alumnus Magister Manajemen Universitas Diponegoro (MM Undip) Semarang  ini sambil tersenyum.

Dukungan Keluarga

Di sisi lain, bicara tentang keluarga kecilnya, ayah dari Bayu Satyaki, 29; Ayu Melati RAK, 24, dan Shariayu Rizky AAK, 11, ini merasa terharu. Ia mengaku, ketiga buah hatinya, serta kedua orang tuanya, Soekarno Djojo Santoso dan  Yatini Djojo Santoso, membawa pengaruh besar dalam perjalanaan hidupnya.

Keluarga baginya tetap prioritas utama. Kepada ketiga anaknya, Kukuh menanamkan nilai-nilai luhur sebagai manusia budaya. Sementara, penerapan disiplin sejak dini bagi Kukuh sangat penting ditanamkan. Karena baginya kunci keberhasilan diri adalah disiplin tinggi.

Penyuka pecel daun turi, sate besusul, dan botok mlanding/teri ini selalu menyempatkan berkumpul bersama keluarga di sela-sela kegiatan padat yang dihadapi. Mendudukkan porsi masing-masing sebagai bapak, ibu, serta anak perlu dan sering berbagi cerita satu sama lain. Ia mengagumi sosok Nabi Muhammad SAW menjadi pemimpin dalam rumah tangga.

”Khusus dalam menghadapi masalah, baik itu dalam keluarga maupun di tempat kerja, saya punya kiat untuk pemecahannya. Yakni, lihat secara empiris,  kaji dengan akademis, gunakan insting, jangan lupa bantu dengan berdoa dan memohon kepada-Nya. Bila perlu konsultasikan dengan pihak yang lebih tahu atau lebih senior. Moto hidup saya sabar, ngalah, magito-gito. Insya Allah luhur wekasane,” paparnya.

Saat disinggung tentang obsesi ke depan, peraih predikat juara I Diklat PIM III, dan juara I Diklat ADUM ini mengaku, ingin terus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, di samping adanya perlindungan hukum bagi camat dalam pelaksanaan pilkada yang berbasis nilai keadilan.

”Saya berharap kinerja terhadap pelayanan masyarakat dapat terus ditingkatkan. Sebagai abdi masyarakat, sudah sepatutnya kita memberi pelayanan terbaik demi kepuasan publik. Dengan pelayanan masyarakat yang baik, akan tercipta hubungan harmonis antara pemerintah dan masyarakat, konflik dapat diminimalisasi, dampaknya negara jadi aman, tenteram,” bebernya.

Terakhir, Kukuh berpesan kepada sesama untuk senantiasa membantu dan berbuat baik terhadap lainnya. ”Sesuai falsafah hidup saya, suatu kebaikan yang kita tanam, akan menggema dan menjadi investasi yang luar biasa dalam menjalani hidup ini,” katanya. (*/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here