Jalan Pintas ke Sekolah, Siswa Seberangi Sungai

313
PEGANGAN TAMBANG: Sejumlah siswa SDN Jabungan, Banyumanik, harus menyeberang Sungai Kethek setiap berangkat dan pulang sekolah. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEGANGAN TAMBANG: Sejumlah siswa SDN Jabungan, Banyumanik, harus menyeberang Sungai Kethek setiap berangkat dan pulang sekolah. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Puluhan siswa SD Negeri Jabungan, Banyumanik, setiap harinya harus uji nyali dengan menyeberang Sungai Kethek yang berarus cukup deras. Para siswa harus berhat-hati untuk menyeberang sungai lantaran licinnya bebatuan. Seutas tali tambang berwarna putih sengaja dipasang warga sekitar sebagai alat bantu pegangan agar siswa tidak jatuh terpeleset. ”Kondisi ini sudah berlangsung lama bahkan sudah sekitar 25 tahunan, setiap hari siswa dan warga memilih melintasi sungai untuk sekolah atau  ke dukuh sebelah. Dulunya memang ada jembatan, tapi selalu rusak dihantam banjir,” kata Rokhadi, warga sekitar kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dikatakan, antara Dukuh Kaum, Sindoro dan Kidul Gunung serta Dukuh Salakan dan Gubug Sari di Kelurahan Jabungan memang belum memiliki akses jalan yang memadai. Satu-satunya jalan pintas ya dengan menyeberangi Sungai Kethek. ”Jika lewat jalan raya, jarak tempuh bisa sampai 5 kilometer. Apalagi daerah sini tidak ada angkutan umum,” ujarnya.

Dikatakan, jika musim kemarau ketinggian air paling hanya selutut dengan lebar sungai yang diseberangi hanya sekitar 10 meter. Sebaliknya, kalau musim hujan ketinggian air sampai 1 meter lebih dan berarus deras. Sedangkan lebar sungai bertambah hingga 20 meteran. ”Sehingga kalau hujan tiba, tidak ada yang berani menyeberang,” ucapnya.

Salah satu siswa kelas 3 SDN Jabungan, Ahmad, mengaku sudah terbiasa menyeberangi sungai untuk berangkat dan pulang sekolah. Saat menyeberang, ia harus menyimpan sepatunya ke dalam tas yang telah dibungkus tas plastik agar tidak basah. ”Hanya pegangan tali tambang, Mas, kalau menyeberang kami gandengan biar tidak hanyut. Cuman kadang kepleset karena batunya licin, tapi ya kami nggak takut,” ucapnya.

Rahman Oktafianto, siswa lainnya, mengaku, jika saat hujan, dirinya diantar orang tuanya dengan jarak 5 kilometer. Sementara jika tidak hujan, ia memilih berangkat bersama teman-temannya dengan menyeberangi sungai.

Kepala SDN Jabungan, Suryanto, mengakui, jika banyak siswanya yang lebih suka menyeberang sungai karena bisa mempersingkat waktu. ”Ada 40-an anak yang setiap harinya menyeberang sungai dari total 156 siswa kami,” katanya.

Wakil Wali Kota Semarang Heaverita Gunaryanti Rahayu mengaku sudah mendengar keluhan warga tersebut. Sayangnya jembatan permanen belum bisa dibangun lantaran harus menunggu anggaran pembangunan 2018 mendatang. ”Kalau dalam waktu dekat untuk membangun jembatan permanen belum bisa, soalnya tidak mungkin dianggarkan di APBD Perubahan 2017 ini,” kata Mbak Ita yang sempat mengunjungi lokasi, kemarin.

Meski demikian, kata dia, pemkot akan berkoordinasi dengan Koramil dan Polsek setempat untuk membangun jembatan gantung yang akan diarahkan melalui kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), sembari menunggu penganggaran di tahun depan dengan besaran sekitar Rp 7 miliar-Rp 9 miliar.

Selain jembatan dan sarana transportasi, pekerjaan rumah pemkot lainnya adalah mendirikan SMP negeri baru di daerah tersebut. Sebab, SMP negeri terdekat berada di daerah Ngesrep yang jaraknya relatif jauh. (den/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here