Jumala Multazam, Ketua Yayasan Sekolah Alam Ar-Ridho yang Juga Motivator

Pernah Bangkrut, Gaji Minus untuk Bayar Utang

671
TITIK BALIK: Jumala Multazam menunjukkan bukunya, Impossible Is Nothing. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TITIK BALIK: Jumala Multazam menunjukkan bukunya, Impossible Is Nothing. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sebelum karirnya sukses saat ini, Jumala Multazam pernah mengalami masa kelam. Bahkan, Ketua Yayasan Sekolah Alam Ar-Ridho yang juga motivator ini pernah meminta Allah SWT untuk segera mengambil nyawanya. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

JUMALA Multazam memiliki kisah hidup penuh liku. Pria kelahiran Kudus, 16 September 1964 ini mengaku pada kurun waktu 1999-2003 merupakan masa kehidupan kelamnya. Saat itu, ia mengalami kebangkrutan dalam bisnis. Bahkan sampai menanggung utang yang tidak kecil.

Suami dari Sulistiyani ini menceritakan, kejadiannya bermula saat ia ingin belajar bisnis. Modalnya diperoleh dengan cara berutang. Kebetulan saat itu ia masih bekerja sebagai staf biasa di PT Telkom. Bisnis yang dirintisnya tersebut bergerak di bidang perdagangan dengan menggandeng orang lain. Namun ternyata orang kepercayaannya itu kurang ilmu dan kurang terkontrol, hingga akhirnya usahanya bangkrut. Praktis, Jumala harus mengangsur utangnya menggunakan gajinya. Bahkan, gajinya sampai minus. Ia juga harus gali lubang tutup lubang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

”Ketika saya bangkrut, saya benar-benar dalam hidup yang berat. Sampai sering terlintas dan bertanya ke Allah, kapan saya meninggal dunia, karena banyaknya menanggung utang. Usia saya saat itu masih 39 tahun,” kenang motivator yang tinggal di Jalan Bukti Kelapa Kopyor X Blok B4 No 7, Perumahan Bukit Kencana Jaya, Tembalang, Semarang ini.

Namun demikian, dari kejadian itu, Jumala justru sadar seperti ada panggilan dari Allah agar ia semakin dekat dengan agamanya (Islam). Ia pun semakin rajin beribadah dan aktif mengikuti kajian-kajian agama. Namun meskipun semakin rajin mendekatkan diri pada Allah, kondisi ekonominya tak kunjung membaik, bahkan semakin buruk. Waktu itu, mobilnya sempat terbakar, hingga kemudian dijual. Uang hasil penjualannya dipakai membeli mobil bekas. Celakanya, mobil bekasnya itu kerap rusak dan mogok, membuat dirinya merasa putus asa.

”Padahal saya rajin ibadah, setiap berdoa hingga meneteskan air mata, tapi kok hidup saya masih susah? Setiap saya doa seperti ini ’betapa berat hidupku ya Allah, tolonglah aku’‎. Tapi doa itu tidak bertahan lama, karena saya malu kepada Allah. Saya merasa baru diuji begitu saja kok sudah putus asa. Kalau istilah Jawanya saya ini sambate ngaru oro (mengeluhnya berlebihan),” kata ayah empat anak: Nahdatin Hasanah, Fadil Hilmi, Shafira Nur ‎Aliyya, dan Alwan Abdel Jabbar ini.

Saat itu, ia membandingkan para pejuang agama zaman dahulu tidak mengeluh saat memperjuangkan Islam. Tentunya jauh lebih berat ketimbang dirinya yang cuma diberi cobaan tidak punya uang dan banyak utang. Ia juga sempat teringat kalau orang naik haji, maka jelas tidak ada yang miskin, karena mampu untuk segi biayanya, meskipun diberi oleh orang lain.

”Dari situ, kemudian saya mengubah doa saya, ’Ya Allah berangkatlah saya haji, tapi lunaskanlah utang saya dulu.’ Doa ini saya panjatkan terus siang malam secara rutin hingga menangis. Akhirnya awal 2003 saya mulai mendapat titik terang,” kenangnya.

Jalan terang itu ia alami pada 2003 ketika kantornya (PT Telkom) memberangkatkan dirinya ke luar negeri untuk tugas belajar selama satu minggu.‎ Dari kegiatan itu, uang pesangon yang diberikan kantor tidak digunakan untuk membeli oleh-oleh, melainkan untuk membayar utang hingga lunas. Beberapa bulan kemudian begitu ajaibnya, ia ditawari untuk diajak menunaikan ibadah haji gratis oleh sahabatnya. Singkat cerita, ia pun berangkat ke Tanah Suci. Selama di Makkah, ia menyampaikan dua hal sangat penting dalam doanya.

”Ya Allah saya menyesal datang ke sini sendirian, karena saya melihat mereka yang datang dengan istri terlihat begitu nikmat, bolehkan 5 tahun lagi saya diberangkatkan untuk mengantar ke sini langsung bersama istri saya.”

Doa keduanya adalah ”Ya Allah perbaikilah ekonomi keluarga saya dan berikanlah kemampuan untuk berbagi kepada orang banyak agar tidak mengalami peristiwa nahas ekonomi seperti yang saya alami.”

Sejak saat itu, ia merasa ekonominya semakin baik dan sangat baik. Dalam setiap kesempatan ia mendapatkan banyak ilmu tentang motivasi dan rutin mengikuti training motivasi hingga Jumala memiliki sertifikat internasional sebagai NLP trainer dan NLP Coach dari NF NLP Florida. Bahkan ia memiliki kesempatan untuk belajar dengan Anthony Robbins dari Amerika Serikat. Anthony adalah seorang motivator termahal abad ini.

Baginya untuk memotivasi orang lain, maka ia harus terus belajar yang dilakukannya langsung bersama motivator Judy Reez dari Inggris. ”Dari itu semua, saya jadi motivator secara perlahan, baik di publik, untuk universitas, dan profesional, bahkan buku saya juga banyak diminati alumni. Alumni saya juga banyak psikolog-psikolog dan dokter spesialis‎,” akunya.

Jumala mengaku, lima tahun berikutnya sejak haji pertama, doanya terkabul lagi, yakni untuk berangkat haji kali kedua bersama istrinya. Dari berbagai kejadian itu, perlahan berbagai anugerah datang. Di kantornya, ia dipercaya menjadi Kepala Humas PT Telkom Divre IV Jateng dan DI Jogjakarta. Selain itu, Jumala menjadi Ketua Yayasan Sekolah Alam Ar-Ridho Semarang serta motivator dan pendiri Visi Sukses Indonesia.

Ia juga telah menerbitkan buku Visi Sukses Publishing yang best seller. Sejumlah buku lain juga diterbitkan, di antaranya mengenai pemberdayaan diri, melejitkan diri, dan komunikasi efektif. Buku Motivational Spiking, (lebih kepada buku komunikasi efektif), serta buku Impossible Is Nothing (melejitkan prestasi) atau Break Through.

Jumala menyatakan, ada pengembangan baru dari teknik NLP, yakni CTC. Konsep itu yang menemukan dirinya, yakni teknik Creative Trauma Cleansing. Bahkan hak patennya sudah didaftarkan ke HAKI pada Februari 2016 lalu. ”Saya ndak pernah bercita-cita jadi motivator, jadi tebersit akibat bangkrut dan berdoa di Makkah saja, bagaimanapun bangkrut itu jadi anugerah,” ujarnya.

Jumala meyakini banyak pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman hidupnya, seperti doa yang sungguh-sungguh dan terus-menerus nantinya Allah pasti mengabulkannya. Ketika sedang terjatuh jangan berhenti‎, karena yang terpenting bukan peristiwa jatuhnya, melainkan bagaimana menyikapi untuk bisa bangkit dan mengakhiri dengan kemenangan atau kejayaan dan semua sudah dibuktikannya.
Selain itu, lanjut dia, keberhasilan tidak tergantung dari siapa diri kita sekarang? Atau punya apa kita sekarang? Melainkan tergantung dari keyakinan kita ingin menjadi apa? Jadi, sangat tergantung dari keyakinan apa yang kita yakini dan memiliki komitmen untuk meraih itu. Menurutnya, apakah orang miskin atau berpendidikan, semua itu tidak masalah, karena impossible itu tidak ada.

Impossible hanya ada di dalam pikiran, bukan kenyataan begitu juga kata Muhammad Ali (petinju dunia) dan itu cocok dengan firman Allah, kan sudah jelas Allah kalau menghendaki sesuatu tinggal Kun Fayakun. Untuk membuktikannya bisa dibaca pada buku kedua saya,” katanya setengah promosi. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here