Dua Siswi SD Diduga Disekap Dua Hari

309
DISEKAP: Rumah korban dugaan penyekapan, CAA dan TDM di Rowosari, Tembalang. (HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DISEKAP: Rumah korban dugaan penyekapan, CAA dan TDM di Rowosari, Tembalang. (HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Dua bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) di daerah Rowosari, Tembalang, Semarang diduga disekap selama dua hari di sebuah kamar kos di daerah Tlogosari, Pedurungan. Dua siswi kakak adik tersebut adalah TDM, dan adiknya CAA, masing-masing kelas 4 dan 1 SD Negeri Rowosari 02. Keduanya warga Rowosari Krasak RT 5 RW 3 Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang. Putri nomor tiga dan empat Bahrudin ini disekap oleh seorang perempuan bernama Ayu sejak Sabtu (18/3) lalu, dan dipulangkan pada Minggu (19/3).

”Dua anak saya diantar sama pelakunya pada Minggu malam. Tapi hanya sampai Klipang saja. Setelah itu, dua putri saya pulang naik motor,” ungkap Bahrudin saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya, Senin (20/3) kemarin.
Bahrudin menceritakan, peristiwa dugaan penyekapan itu bermula ketika dua putrinya pamit pergi ke rumah neneknya yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. TDM dan CAA berangkat naik sepeda motor berboncengan pada Sabtu (18/3) siang.
”Waktu itu sepulang sekolah, dua anak saya pamit mau ke rumah neneknya naik motor saya,” jelasnya.
Saat perjalanan keluar gang rumahnya, tiba-tiba keduanya berpapasan dengan pelaku yang diketahui bernama Ayu. Kedua korban mengenal Ayu karena masih tetangga. Ayu pun menghentikan motor korban, dengan alasan minta diantar ke daerah Pucanggading menemui kekasihnya. Motor pun dikendarai Ayu, sedangkan TDM dan CAA memboncengkan di belakang.

Sampai di sebuah rumah di Pucanggading, ternyata pacar Ayu tidak ada. Ayu pun lantas membawa dua korban menuju tempat kosnya di daerah Tlogosari. Hingga malam hari, kedua korban tak tidak diperbolehkan pulang. Ayu justru mengajak kedua korban menuju Simpang Lima.

”Anak saya diajak jalan-jalan ke Simpang Lima sampai subuh. Kata anak saya, pulang ke kos Minggu (19/3) sekitar pukul 02.00 dini hari. Di situ (kos) anak saya juga gak boleh pulang, dan gak boleh tidur sampai pukul 05.00 pagi,” terangnya.
Karena hingga malam kedua putrinya tidak kunjung pulang, tentu saja Bahrudin menjadi bingung. Apalagi keduanya juga tidak mengirim kabar, yang diduga lantaran tidak diperbolehkan Ayu. Bahrudin pun berupaya mencari keberadaan anaknya. Namun hingga Minggu pagi tidak membuahkan hasil.

”Sudah saya cari ke mana-mana nggak ketemu. Malam Minggu saya sampai ke Simpang Lima mencari gak ketemu. Terus pagi hari saya juga muter-muter mencari gak ketemu juga,” ujarnya.

Bahrudin sempat menanyakan kepada para tetangganya. Informasi dari tetangganya, diketahui jika kedua putrinya diajak pergi sama Ayu. Sebab, salah satu tetangganya sempat mengetahui ketika sedang di jalan. Namun, tetangganya tersebut tidak menaruh curiga, karena Ayu juga warga setempat.

”Ada yang bilang sempat tahu pas melintas di jembatan keluar dari kampung. Sekitar jam 14.00 (Minggu) saya lapor sama pak RT, para tetangga juga menyarankan agar saya lapor ke Polsek Tembalang,” katanya.

Bahrudin mengatakan, sebelum peristiwa itu terjadi, putrinya juga sempat ditemui Ayu dengan alasan sama, yakni diminta untuk mengantar menemui kekasihnya. Namun hal itu tidak dihiraukan oleh putrinya lantaran sudah mengetahui latar belakang dan perilaku Ayu.

”Kalau gak salah hari sebelum Rabu, adiknya ketemu sama Ayu, disuruh menyampaikan kepada kakaknya. Cuman kakaknya bilang ndak usah orangnya (Ayu) gak bener. Gak ditanggepin anak saya,” ucapnya.
Namun upaya putrinya untuk menghindari pelaku rupanya tak membuahkan hasil. Puncaknya, TDM dan CAA bertemu saat hendak pergi ke rumah neneknya pada Sabtu (18/3) siang.

Menurut Bahrudin, Ayu merupakan perempuan warga kampung setempat. Ia sempat melihat wajah Ayu ketika hendak menuju rumahnya. ”Sempat pas hari Kamis saya duduk di depan rumah tetangga. Kayaknya dia mau nemui anak saya. Tapi sampai gang depan, dia (Ayu) balik lagi, mungkin tahu kalau ada saya,” ujarnya.

Bahrudin juga menjelaskan, perilaku atau dandanan Ayu tidak mencerminkan layaknya seorang perempuan yang baik. Menurut penilaian Bahrudin, Ayu seperti halnya anak jalanan.

”Dia kan anak jalanan, sering nongkrong di jalanan. Kalau pas saya melihat dia, tangan kanan kirinya tatoan. Kaki kanan kirinya juga. Rambut lurus sebahu dicat merah,” jelasnya.

Pihaknya berharap, peristiwa yang menimpa kedua putrinya mendapat perhatian serius oleh aparat polisi. Harapannya, kejadian serupa tidak menimpa korban lain.

”Kalau bisa pelakunya ditangkap, diproses sesuai hukum. Memang tidak dianiaya, tapi kejadian ini sangat mengkhawatirkan orang tua. Anak saya juga masih shock, trauma,” tandasnya.

Kapolsek Tembalang, Kompol Bagyo, mengakui, adanya pelaporan dari warga Kelurahan Rowosari yang menerangkan anaknya tidak pulang diduga lantaran disekap. Namun usai melakukan pelaporan, ternyata anaknya sudah kembali ke rumah.

”Kemarin orang tuanya diantar Pak RT datang ke mapolsek melaporkan anaknya belum pulang. Setelah mereka dari mapolsek, mengabari saya kalau anaknya sudah pulang,” ungkapnya.

Terkait dugaan adanya tindak penyekapan terhadap kedua anak tersebut, Bagyo mengatakan akan melakukan penyelidikan dan pendalaman apabila terdapat indikasi tersebut.

”Itu kemarin karena diajak bermain. Orang yang mengajak juga jelas. Intinya diajak pergi belum pulang. Tapi nanti kita dalami. Kalau memang ada indikasi seperti itu (penyekapan) ya orang tua (korban) kita arahkan ke PPA Polrestabes Semarang. Kita teruskan ke penyidik PPA. Karena anak-anak kan ada penyidiknya khusus,” tegasnya. (mha/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here