Murtisari, Dosen UKSW Penerjemah Novel Perempuan Kembang Jepun

Bukan Semata karena Uang tapi Passion

570
Elisabet Titik Murtisari (Christian Paskah PS/Jawa Pos Radar Semarang)
Elisabet Titik Murtisari (Christian Paskah PS/Jawa Pos Radar Semarang)

Dosen Universitas Kristen Satya Wacana Elisabet Titik Murtisari adalah penerjemah novel Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang yang fenomenal. Ia dipilih oleh Lian Gouw, penulis di Amerika untuk menerjemahkan novel tersebut hingga terbitlah Potions and Paper Cranes.

Christian Paskah PS

KESEHARIAN Titik –begitu perempuan ini biasa dipanggil— adalah dosen jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Kristen Satya Wacana. Ia biasa mengampu mata kuliah tatabahasa (grammar) dan penerjemahan (translation). Sebelum menjadi dosen, bersama dua temannya yang lain, ia adalah penerjemah bahan kajian linguistik di Jakarta sehingga terbiasa dengan hal-hal yang akademis.

Titik mengambil S2 dan S3 dalam bidang penerjemahan di Negeri Kangguru, Australia, dan kembali ke Salatiga pada 2012. Dari sinilah tawaran untuk menerjemahkan Perempuan Kembang Jepun bermula.

”Sebenarnya, ’paksaan’ ini datang dari teman saya. Walaupun dia meyakinkan bahwa saya mampu melakukan ini, saya merasa bahwa diri saya belum keder untuk melakukan penerjemahan sastra,” ungkap Titik kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diterangkan Titik, penerjemahan sastra berbeda dengan penerjemahan pada umumnya. Karena yang biasa dilakukan Titik adalah penerjemahan bahan kajian linguistik dan penerjemahan yang sifatnya akademis, nyali Titik pada awalnya sangat ciut. ”Penerjemahan sastra adalah penerjemahan tersulit menurut saya,” akunya.

Apalagi, tantangannya adalah menerjemahkan novel bahasa ibu kepada bahasa asing, yakni bahasa Inggris. Dalam proses penerjemahan tersebut, tanggung jawab Titik adalah untuk tetap membawa imajinasi yang tertera dalam novel asli tetap sama dengan imajinasi yang tertera dalam novel bahasa Inggrisnya. Selain membawa imajinasi penulis tetap utuh sampai ke tangan pembaca, Titik harus mempertimbangkan apa yang akan dikatakan pengarang sekiranya pengarang tersebut bisa berbahasa sasaran, dalam hal ini, bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

Ketika Titik mendengar tawaran itu, dua hari ia tak bisa tidur memikirkannya. Saat memutuskan untuk menerima, Titik harus mengikuti tes wawancara dan tes menerjemahkan yang diberikan Lian Gouw. Dan, dari tiga orang yang melamar menjadi penerjemah novel tersebut, Titik merasa sangat bersyukur, karena dialah yang terpilih untuk menerjemahkan novel Perempuan Kembang Jepun yang diminta salah satu penerbit internasional yang menduniakan sastra Indonesia milik Lian Gouw, Dalang Publishing.

Jika biasanya penerbit berkaliber internasional meminta penerjemah kondang kenamaan untuk menerjemahkan sebuah buku, lain halnya dengan Dalang Publishing. Penerbit ini meminta para penerjemah asli Indonesia untuk menerjemahkan buku ke bahasa Inggris. ”Ini tentu adalah sebuah gebrakan dari Ibu Lian,” jelas Titik.

Untunglah, dalam proses penerjemahan yang harus Titik lalui, waktu yang tersedia sangat longgar. Karena ia hanya memiliki sedikit mata kuliah yang harus diampu. Sebelum menerjemahkan, Titik harus membaca naskah novel bahasa Indonesianya terlebih dahulu. ”Saya membaca naskah tersebut sebanyak dua kali agar memahami isi cerita dan konstruksi bahasa dalam novel ini,” papar Titik.

Tak hanya itu, Titik juga harus melakukan riset terhadap latar novel tersebut. Novel Perempuan Kembang Jepun berlatarkan zaman pendudukan Jepang di Surabaya. ”Ini dilakukan agar fakta sejarah yang ada dalam novel ini tersampaikan dengan baik,” ujar Titik yang juga harus membaca sebuah buku sejarah berukuran besar miliknya yang diturunkan dari kakaknya.

Ketika naskah tersebut sudah selesai, ia merasa lega karena proses penyuntingan tak memerlukan waktu lama. Naskah tersebut disunting oleh Lian Gouw dan Sal Glynn. Keduanya bukan sembarang penyunting. Tapi pengarang dan editor yang memiliki keterampilan tinggi sehingga Titik menyadari bahwa naskah tersebut bernilai tinggi.

Meski pihak penerbit membayar Titik dengan harga cukup tinggi, namun Titik tak menerjemahkan semata karena uang. ”Terjemahkanlah sesuatu karena passion. Bukan karena penghasilan,” katanya.

Hal tersebut adalah hal yang juga ditekankan oleh Titik dalam setiap mata kuliahnya, terutama mata kuliah penerjemahan. Namun, jangan karena passion, penerjemah dibayar murah, sehingga dianggap remeh. Karena itu, ia selalu tekankan kepada setiap penerjemah jangan mau dibayar murah. ”Kenapa saya katakan demikian? Biar masyarakat menghargai profesi penerjemah,” tandasnya.

Menurut Titik, ada banyak hal yang harus dikuasai seorang penerjemah. Apalagi jika harus menerjemahkan karya sastra. ”Tata bahasa harus dikuasai dengan baik, karena tata bahasa berjalan selaras dengan makna,” papar Titik.

Selain menguasai tata bahasa, lanjut Titik, para penerjemah karya sastra harus banyak membaca karya sastra. Hal ini dilakukan untuk mengasah kemampuan. ”Selain itu, harus banyak membaca karya sastra terjemahan yang kualitas terjemahannya bagus, bukan sembarangan karya sastra. Kalau tidak, saya yakin tidak akan jadi,” jelas Titik.

Terakhir, para penerjemah harus bisa membawa imajinasi yang ada dalam bahasa sumber tetap sama kepada bahasa sasaran. ”Ketika pembaca membaca novel terjemahan tersebut, imajinasi yang ada tetap sama,” terangnya. (*/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here