Mobil Penjemput Siswa Jadi Biang Macet

Sekolah Salahkan Jukir, Dishub Akan Tegas

582
LANGGANAN MACET: Arus lalu lintas Jalan Dr Sutomo biasa macet saat jam pulang sekolah akibat banyaknya mobil penjemput siswa yang berhenti maupun parkir memakan badan jalan. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LANGGANAN MACET: Arus lalu lintas Jalan Dr Sutomo biasa macet saat jam pulang sekolah akibat banyaknya mobil penjemput siswa yang berhenti maupun parkir memakan badan jalan. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sejumlah sekolah elite di Kota Semarang kerap dikeluhkan para pengguna jalan raya. Sebab, hampir setiap hari, berderet mobil penjemput siswa, nongkrong atau parkir di badan jalan raya depan sekolah hingga menimbulkan kemacetan arus lalu lintas.

Tak jarang, barisan mobil penjemput parkir hingga dua saf atau kurang lebih 40 persen memakan badan jalan. Misalnya, di SMA Sedes Sapientiae/SMP Maria Mediatrix, SD Santo Yusuf dan Sekolah Karangturi Jalan MT Haryono, SMP Domico Savio (Domsav) Jalan Dr Sutomo, SD Marsudi Rini depan Balai Kota Semarang, SD Al Azhar Pamularsih, dan SD Kristen Tri Tunggal di Jalan Ki Mangunsarkoro. Tentu saja, keberadaan mobil penjemput anak sekolah ini kerap membuat kesal pengguna jalan lain yang melintas. Sebab, selain menyebabkan kesemrawutan, juga menjadi biang kemacetan.

”Jalan MT Haryono ini sudah dibuat satu arah tapi tetap saja macet, apalagi saat bubaran sekolah seperti saat ini. Mobil penjemput siswa berhenti dan parkir memakan badan jalan,” keluh Wahono, warga Banyumanik saat dalam perjalanan menuju Bubakan.

Celakanya, kata dia, kesemrawutan mobil penjemput siswa itu kurang mendapat penanganan dari pihak terkait. Baik pihak kepala sekolah maupun Dinas Perhubungan Kota Semarang sejauh ini belum mampu berbuat banyak mengatasi masalah ini.

Wakil Kepala SMP Maria Mediatrix Jalan MT Haryono, Yustinus, menjelaskan, sekolahnya dengan SMA Sedes Sapientiae satu induk yayasan, yakni Yayasan Marsudi Rini. Diakui, setiap kali pulang sekolah, jalan di depan sekolah dipenuhi mobil penjemput siswa. Pihak sekolah sendiri sudah memberi imbauan ke orang tua siswa agar parkir di jalan sebelah kiri saat menjemput. Sekolahnya juga sudah mengatur jadwal kepulangan antara siswa SMP dengan SMA dengan selisih 30 menit. Tujuannya, tentu untuk mengurangi krodit arus lalu lintas di jalan depan sekolah oleh mobil penjemput siswa.

Yustinus mengakui, saat ini sekolahnya masih kesulitan dalam mengedukasi juru parkir (jukir) di sekitar sekolah yang kerap mengarahkan mobil penjemput siswa parkir sembarangan. Padahal pihak sekolah sudah memberikan fasilitas lapangan bagian belakang untuk menampung mobil para penjemput siswa. Apalagi sekolahnya memiliki sebanyak 700-an siswa. ”Biasanya orang tua siswa sudah mengikuti aturan. Tapi, susahnya yang di jalan, begitu akan parkir, si tukang parkir malah memanggil mereka untuk parkir di dekat sekolah,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Diakuinya, keberadaan juru parkir tersebut tidak seizin pihak sekolah maupun yayasan. Pihaknya sudah pernah melaporkan ke pihak terkait, termasuk sudah pernah ditertibkan, namun kembali lagi. Diakui, sekolahnya hingga kini belum menyediakan bus sekolah bagi siswa. Padahal jika ada bus sekolah, setidaknya bisa mengurangi jumlah mobil penjemput.

Dia memastikan, kapasitas lapangan sekolahnya sangat cukup untuk menampung mobil penjemput siswa. Karena memiliki dua jalan, yakni Jalan Kompol Maksum dan Jalan MT Haryono. Apalagi namanya penjemputan hanya transit sementara. ”Lahan kita ada lapangan belakang dan depan, jadi kalau cuma untuk waktu sementara kemudian jalan lagi masih memadai. Tapi itu khusus SMP, kalau sama yang SMA, kami akui tidak cukup‎,” katanya.

Ia berharap pemkot mengedukasi para juru parkir dan PKL (pedagang kaki lima)‎. Sebab, keberadaan mereka juga memakan badan jalan. ”PKL itu pernah dibersihkan, tapi muncul lagi. Kita nggak bisa fokus ngurusi PKL dan tukang parkir itu, karena konsentrasi kita mendidik anak-anak. Karena itu, kita meminta pemkot menertibkannya,” ujarnya.

Bagian Keamanan Sekolah Karang Turi Jalan MT Haryono Semarang, Rico Ansori, mengatakan, terkait semrawutnya mobil penjemput siswa setiap kali masuk dan pulang sekolah, ia meminta koran ini meminta izin pimpinan sekolah lebih dahulu. Namun saat meminta izin, ternyata pihak sekolah tidak berani memberi keterangan. Rico meminta koran ini untuk mengurus izin ke Yayasan Karang Turi di Perumahan Graha Padma Semarang. ”Suruh konfirmasi ke sana dulu (Yayasan Karangturi), kalau sudah konfirmasi kemudian diizinkan langsung ke sini lagi,” kata Rico, Jumat (17/3).

Sementara itu, salah seorang guru sebuah SD di Jalan Pemuda yang keberatan ditulis namanya menuturkan, kemacetan parah biasa terjadi saat jam pulang kerja bukan karena mobil penjemput siswa. ”Macet bukan karena mobil penjemput yang parkir sembarangan, tetapi mereka (pengguna jalan, Red) yang parkir sembarangan, soalnya tukang parkir ngaturnya ngawur,” kilahnya.

Dikatakan, adanya kebijakan yang baru terkait jalur satu arah di Jalan Pemuda, membuat pihak sekolah memberikan aturan baru bagi para penjemput siswa diarahkan masuk ke area sekolah melalui gerbang depan. Setelah sampai di halaman sekolah, kendaraan diarahkan menuju ke gerbang belakang melalui jalur yang telah disediakan. Nantinya, mobil maupun motor tersebut tembus ke Jalan Imam Bonjol sehingga tidak menyalahi aturan jalan satu arah.

”Pihak sekolah menetapkan aturan tersebut terkait jalan satu arah agar tidak menyalahi aturan. Kami memberikan informasi secara lisan kepada siswa maupun tertulis agar dipatuhi. Kalau dulu gerbang yang dibuka cuma belakang, sekarang depan belakang dibuka semua. Jadi jelas, kami memberikan solusi terbaik,” kata dia.

Hal senada juga dilontarkan guru yang lain. Dia menjelaskan kemacetan sering terjadi di atas pukul 15.00, meskipun pada jam makan siang juga terjadi kemacetan. ”Siswa kami masuk jam 07.00 pagi sampai jam 13.00 siang. Kalau macet biasanya di atas jam 15.00. Mereka sifatnya transit saja, jadi bukan karena mobil penjemput siswa. Apalagi sekarang jalannya dibuat satu arah, jadi kemacetannya sedikit terurai. Sayangnya, pengguna jalan sering ngebut ngejar lampu bangjo,” tuturnya.

Kepala Seksi Penataan dan Perizinan Parkir Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Danang Kurniawan, mengakui, adanya masalah kesemrawutan mobil penjemput siswa di sejumlah sekolah yang berada jalan protokol.

Pihaknya mengaku telah mulai melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang. ”Kami akan panggil pengurus (kepala) sekolah, terutama yang berada di jalan protokol,” kata Danang kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (19/3).

Dijelaskan, pemanggilan kepala sekolah maupun pengurus yayasan sekolah dilakukan untuk mencari solusi. ”Kami sudah menyiapkan beberapa alternatif untuk mengurai permasalahan tersebut. Kami minta sekolah bisa bekerja sama dengan Dishub,” ujarnya.

Sejauh ini, kata Danang, beberapa sekolah telah koordinasi. Di antaranya, membuat alternatif dengan memisahkan jam pulang sekolah. ”Ada (sekolah) yang melarang siswa, terutama siswa yang belum mempunyai SIM untuk membawa kendaraan. Kalau pihak sekolah dipaksa menyediakan lahan parkir, kami rasa sangat kecil kemungkinannya,” kata dia.

Menurut dia, solusi yang bisa diterapkan secara tepat adalah mencari kantong parkir terdekat, kemudian ada kendaraan semacam shuttle bus untuk antar jemput siswa dari sekolah ke kantong parkir tersebut. ”Kalau sudah ada beberapa alternatif solusi, tapi mereka masih melanggar dan tidak kooperatif, kami gunakan pendekatan dengan penegakan aturan. Kalau parkir melanggar, tetap akan kami gembok roda dan tilang,” tegasnya.

Dia menyayangkan, mestinya pihak sekolah juga berperan aktif mengurai permasalahan mobil penjemput siswa tersebut. ”Antar jemput, kalau mobil masih ada pengemudinya, itu bukan parkir. Melainkan berhenti sementara. Itu harus diantisipasi oleh petugas,” katanya.

Danang mengimbau agar pihak pengelola sekolah juga memperhatikan masalah tersebut agar tidak mengganggu ketertiban umum. ”Bagi pengelola sekolah mohon dicermati kondisi lingkungan sekitar. Khususnya kegiatan lalu lintas, apakah ada gangguan yang ditimbulkan karena kegiatan antar jemput siswa, bantu cari solusi dan komunikasikan untuk bersama-sama mencari pemecahan,” harapnya.

Selain itu, dia juga mengimbau bagi orang tua siswa agar tetap menaati aturan lalu lintas. ”Antar jemput mohon toleransinya, harap menghormati pengguna jalan yang lain. Apakah perilaku berkendara kita aman dan nyaman untuk yang lainnya, ataukah justru menimbulkan ketidaknyamanan bahkan mengganggu ketertiban,” terang dia. (mg29/jks/amu/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here