33 C
Semarang
Rabu, 5 Agustus 2020

Sepatu KW Matikan Perajin Sepatu Lokal

Sepatu Cewek Susah Laku, Pilih Produksi Sepatu Cowok

Another

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan...

ORANG sekarang lebih suka barang yang eye catching tanpa mempertimbangkan kualitas bahan. Produk-produk tembakan alias KW pun menjadi pilihan bagi yang ogah menguras dompet demi mendapat sepatu atau sandal branded. Praktis, perajin sepatu dan sandal kulit pun banyak yang gulung tikar.

Di Kota Semarang, ada segelintir perajin sepatu dan sandal kulit yang masih eksis. Salah satunya Sofian, perajin yang membuka galeri di Jalan Puspowarno Selatan 2 nomor 46B. Pria setengah baya ini mengaku mati-matian menjaga eksistensinya sebagai perajin sepatu dan sandal kulit. Padahal, dia sempat berjaya di era 90-an.

Pemilik brand Bosston ini menjelaskan, tren fashion sekarang sudah bergeser. Zaman dulu, anak muda paling doyan mengenakan alas kaki berbahan kulit. Kesannya elegan dan mewah. Tapi sekarang, konsumen memprioritaskan model dan merek yang sudah tenar di kancah internasional. Barang tembakan atau palsu pun menjadi pilihan tanpa mempedulikan kenyamanan saat dikenakan. “Sekarang kulit hanya diminati orang tua. Kalau anak muda lebih suka tren dan harga murah,” ucap Sofian yang sudah menjadi perajin sepatu dan sandal kulit selama 25 tahun ini.

Dia bercerita, pernah mengalami masa kejayaan. Brand Bosston sempat meledak dan dicari banyak orang. Model apapun yang diproduksi, biasanya laku keras di pasaran. Sofian yang tadinya hanya punya sepeda onthel, mulai bisa beli sepeda motor dan mobil. “Tapi itu dulu. Sekarang kembali ke sepeda motor lagi, karena kalah saingan,” bebernya.

Sebenarnya, Sofian sudah mencoba melakukan inovasi. Membuat model baru yang digadang-gadang mampu menarik minat pembeli. Dari warna, bentuk, ornamen jahitan, dan sebagainya. Adaptasi dari model sepatu impor pun dilakukan. Tapi tetap saja tidak mampu mendongkrak penjualan. Padahal harga jualnya sudah sangat ditekan. Untuk sepatu, Sofian membanderolnya antara Rp 90 ribu – Rp 200 ribu. Sementara sandal, paling mahal Rp 150 ribu. “Itu bahannya kulit asli semua, lho. Bukan imitasi,” klaimnya.

Hanya saja, dia ogah menjual atau memproduksi sepatu dan sandal cewek. Sebab, modelnya terlalu rumit dan trennya cepat berubah. Jika tidak cepat laku, bisa dipastikan tidak bakal dibeli konsumen karena dianggap ketinggalan zaman. Meski begitu, dia siap membuatkan sepatu cewek jika ada pesanan.

Untuk mengimbangi pemasukan, Sofian menjual barang-barang tembakan yang didapatkan dari sejumlah perajin dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

Menurutnya, barang-barang tersebut bisa dibilang asli tapi palsu (aspal). Sebab, ada sejumlah bagian yang menggunakan bahan asli. Diceritakan, bahan tersebut didapatkan perajin dari limbah pabrik sepatu asli. “Sol atau alas sepatu memang asli dari pabrik. Kemudian perajin tinggal merakitnya, menambahi bahan-bahan lain yang bukan asli pabrik. Nah, ini yang namanya aspal,” tegasnya. (amh/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

Arang Galang

Inilah jalan berliku itu. Tapi yang penting hasilnya: anak muda ini berhasil menjadi pengusaha. Bahkan jadi eksporter. Memang masih sangat kecil. Tapi arah bisnisnya...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

63 Rumah Diterjang Puting Beliung

KENDAL- Puluhan rumah di dua desa di Kecamatan Weleri, Kendal rusak parah akibat diterjang angin puting beliung. Selain menerjang rumah, angin kencang juga merusak...

Tim Sisir Tempat Karaoke

MAGELANG—Tim gabungan Polsek Distrik Mertoyudan menyisir sejumlah tempat karaoke di wilayah Mertoyudan, pada Rabu (16/8) malam. Semua pemandu lagu dan pengunjung diperiksa satu per...

Saryati Gantikan Khakmim

WONOSOBO – Anggota DPRD Wonosobo yang terbelit kasus korupsi, Khakmim secara resmi digantikan oleh Saryati. Pergantian antarwaktu berlangsung melalui Rapat Paripurna Istimewa yang dipimpin...

Magelang Dibidik jadi Science Techno Park

MAGELANG–Kota Magelang direncanakan menjadi tempat pengembangan Science Techno Park (STP) yang digagas oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Langkah ini diawali dengan...

PKL Tidak Boleh Permanen

MAGELANG – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Magelang berencana menertibkan PKL di kawasan Jalan Sriwijaya, Jalan Beringin dan Jalan Singosari yang selama...

Desak RUU Pertembakauan Segera Disahkan

SEMARANG – Sekitar seribu petani tembakau yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jateng menggelar aksi di depan kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan...