Sepatu KW Matikan Perajin Sepatu Lokal

Sepatu Cewek Susah Laku, Pilih Produksi Sepatu Cowok

2124
PRODUKSI MENURUN : Sofian, perajin yang membuka galeri Rumah Industri Sofian Sepatu, di Jalan Puspowarno Selatan 2 nomor 46B ini lebih banyak membuat sepatu cowok yang kerap lakunya. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PRODUKSI MENURUN : Sofian, perajin yang membuka galeri Rumah Industri Sofian Sepatu, di Jalan Puspowarno Selatan 2 nomor 46B ini lebih banyak membuat sepatu cowok yang kerap lakunya. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

ORANG sekarang lebih suka barang yang eye catching tanpa mempertimbangkan kualitas bahan. Produk-produk tembakan alias KW pun menjadi pilihan bagi yang ogah menguras dompet demi mendapat sepatu atau sandal branded. Praktis, perajin sepatu dan sandal kulit pun banyak yang gulung tikar.

Di Kota Semarang, ada segelintir perajin sepatu dan sandal kulit yang masih eksis. Salah satunya Sofian, perajin yang membuka galeri di Jalan Puspowarno Selatan 2 nomor 46B. Pria setengah baya ini mengaku mati-matian menjaga eksistensinya sebagai perajin sepatu dan sandal kulit. Padahal, dia sempat berjaya di era 90-an.

Pemilik brand Bosston ini menjelaskan, tren fashion sekarang sudah bergeser. Zaman dulu, anak muda paling doyan mengenakan alas kaki berbahan kulit. Kesannya elegan dan mewah. Tapi sekarang, konsumen memprioritaskan model dan merek yang sudah tenar di kancah internasional. Barang tembakan atau palsu pun menjadi pilihan tanpa mempedulikan kenyamanan saat dikenakan. “Sekarang kulit hanya diminati orang tua. Kalau anak muda lebih suka tren dan harga murah,” ucap Sofian yang sudah menjadi perajin sepatu dan sandal kulit selama 25 tahun ini.

Dia bercerita, pernah mengalami masa kejayaan. Brand Bosston sempat meledak dan dicari banyak orang. Model apapun yang diproduksi, biasanya laku keras di pasaran. Sofian yang tadinya hanya punya sepeda onthel, mulai bisa beli sepeda motor dan mobil. “Tapi itu dulu. Sekarang kembali ke sepeda motor lagi, karena kalah saingan,” bebernya.

Sebenarnya, Sofian sudah mencoba melakukan inovasi. Membuat model baru yang digadang-gadang mampu menarik minat pembeli. Dari warna, bentuk, ornamen jahitan, dan sebagainya. Adaptasi dari model sepatu impor pun dilakukan. Tapi tetap saja tidak mampu mendongkrak penjualan. Padahal harga jualnya sudah sangat ditekan. Untuk sepatu, Sofian membanderolnya antara Rp 90 ribu – Rp 200 ribu. Sementara sandal, paling mahal Rp 150 ribu. “Itu bahannya kulit asli semua, lho. Bukan imitasi,” klaimnya.

Hanya saja, dia ogah menjual atau memproduksi sepatu dan sandal cewek. Sebab, modelnya terlalu rumit dan trennya cepat berubah. Jika tidak cepat laku, bisa dipastikan tidak bakal dibeli konsumen karena dianggap ketinggalan zaman. Meski begitu, dia siap membuatkan sepatu cewek jika ada pesanan.

Untuk mengimbangi pemasukan, Sofian menjual barang-barang tembakan yang didapatkan dari sejumlah perajin dari berbagai daerah di Pulau Jawa.

Menurutnya, barang-barang tersebut bisa dibilang asli tapi palsu (aspal). Sebab, ada sejumlah bagian yang menggunakan bahan asli. Diceritakan, bahan tersebut didapatkan perajin dari limbah pabrik sepatu asli. “Sol atau alas sepatu memang asli dari pabrik. Kemudian perajin tinggal merakitnya, menambahi bahan-bahan lain yang bukan asli pabrik. Nah, ini yang namanya aspal,” tegasnya. (amh/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here