Mengajar Tanpa Pandang Tempat, Status, dan Agama

1923
MELANGLANG HINGGA LUAR JAWA : Suster Maria Paulina membimbing siswi SMK St Fransiskus Semarang di kelas. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)
MELANGLANG HINGGA LUAR JAWA : Suster Maria Paulina membimbing siswi SMK St Fransiskus Semarang di kelas. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)

Profesi guru dianggap mulia karena tanggung jawabnya mendidik siswa-siswi dengan ketulusan. Jika dalam mengajar tidak disertai ketulusan, tentu berpengaruh terhadap murid. Siswa pasti tidak akan menangkap dengan baik pembelajaran apa yang disampaikan seorang guru.

Kepala SMK St Fransiskus Semarang, Suster Maria Paulina bercerita menjadi seorang guru karena keterpanggilan hati untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada manusia, dalam hal ini adalah anak didik. Selain itu, baginya menjadi guru itu dapat terus belajar untuk memperdalam atau semakin menjiwai profesi tersebut.

“Saya baru 5 bulan sebagai kepala sekolah disini. Hal ini menyenangkan. Kepala sekolah itu didepan sebagai panutan, ditengah sebagai pendamping, dan di belakang sebagai pendorong,” tuturnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dahulu, lanjutnya, saat belum bertugas di SMK St Fransiskus Semarang. Paulina berkarya atau mengajar di beberapa sekolah SMA di Pulau Jawa, bahkan hingga luar pulau. Ketika ia mulai bertugas sekitar akhir 2016 lalu, baginya ada perbedaan mengajar di SMA dengan SMK.

“Tentu berbeda. Di SMK cara belajarnya tidak hanya teori, teori dan praktik bersama-sama. Berbeda dengan yang terdahulu di SMA. Namun saya memberikan ilmu pengetahuan sama tetap dengan hati. Saya mengajar ketika saya memiliki hati, lalu dengan feeling ilmu yang ada di pikiran saya pasti sampai ke siswa. Saya menyalurkan ilmu pengetahuan dengan hati dan feeling agar tersampaikan ke siswa,” ujar Suster kelahiran Jakarta, 12 Mei 1967 ini.

Secara sosial berkarya di Semarang berbeda saat di Papua. Paulina mengatakan, di Semarang meskipun nuansa pendidikan berada di yayasan sekolah Katholik, namun mayoritas siswa Muslim.

“Sebenarnya saya terharu ketika dapat melayani, dapat mengajar mereka. Tapi kalau berbicara pendidikan itu lepas dari status sosial, kaya atau miskin, atau agama. Jadi mana yang bisa kami layani pasti kami layani sebagai tugas kami,” pungkasnya. (mg30/ric)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here