138 Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak

1843

SEMARANG-Kekerasan seksual di Kota Semarang masih terbilang tinggi. Pada tahun 2016, tercatat 138 kasus kekerasan yang terjadi di 8 sekolah dan 5 kampung. Diperkirakan masih banyak kasus serupa yang belum tercatat atau dilaporkan kepada pihak terkait.

Hal tersebut dilansir Yayasan Setara, lembaga peduli dan pemerhati terhadap kemajuan hak anak-anak Kota Semarang. Manager Yayasan Setara, Ika Camelia mengatakan bahwa beberapa faktor yang dapat menyebabkan anak menjadi korban maupun terjerat dalam tindakan seksual pada anak, di antaranya faktor lingkungan.

“Perkembangan teknologi menjadi salah satu pemicunya. Banyak kasus yang terjadi, justru dilakukan oleh sesama anak meskipun saat ini kasus kelainan seksual (pedofilia) muncul kembali ke permukaan,” katanya.

Menurutnya, sifat anak gemar mencoba-coba. Bahkan, pernah ada kejadian dimana anak di bawah umur melakukan hubungan seksual dengan temannya sendiri. Menurut pengakuan pelaku, hal itu dilandasi rasa ingin tahu pelaku akibat melihat orang tuanya melakukan hubungan intim.

“Itu karena 1 rumah diisi oleh 3 kepala keluarga (KK). Karena kebutuhan ruangan yang tidak terpenuhi itulah, membuat hal-hal yang bersifat privasi justru terabaikan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (18/3) kemarin.

Perihal terbongkarnya jaringan pornografi anak melalui facebook, Ika mengatakan, perlu sinergitas antara orang tua dan pemerintah selaku pemangku pembuat peraturan. Memang banyak situs pornografi yang sudah diblokir khususnya oleh Kominfo, tetapi pengawasan di jejaring sosial masih sangat lemah. “Masih banyak akses pornografi yang bisa dilihat anak,” katanya.

Selain itu, katanya, antisipasi pemerintah juga masih lamban. Dia mencontohkan, browsing di internet terkadang tak sesuai dengan yang diharapkan. Keyword pada Google yang kita gunakan untuk mengakses informasi, justru mengantarkan kepada informasi yang tak ada kaitannya sama sekali.

“Mungkin itu terjadi karena ada kesamaan istilah, tetapi akan berbahaya bagi anak-anak. Pemerintah harusnya bisa membuat pelaporan kepada Google untuk memblokirnya,” tuturnya.

Terkait banyaknya kasus di lingkungan sekolah, dijelaskan, pengawasan guru terlalu lemah. Kesibukan guru dalam menyusun administrasi dan kurikulum menjadikan kegiatan yang dilakukan oleh pelajar terabaikan. Sehingga interaksi antara guru dan siswa berkurang.

“Untuk itulah, pendidikan ramah anak harus dilakukan dengan melibatkan anak dalam setiap hal, semisal dalam penentuan kebijakan. Tetapi, saat ini masih berjalan di tempat. Bahkan di beberapa sekolah baru sekedar sosialisasi,” ucapnya.

Untuk menyikapi hal itu, Ika menjelaskan jika pencegahan dan pengurangan risiko rentan dapat dilakukan dengan edukasi seks sejak usia dini. Artinya, edukasi tersebut disampaikan dengan analogi-analogi yang tepat. Hal itu pula harus dimengerti oleh orang tua. “Perlindungan anak berbasis masyarakat menjadi penting. Artinya masyarakat harus sudah berfikir maju terhadap problem yang muncul, khususnya kekerasan pada anak seperti yang dilakukan warga di Bugangan, Kuningan,dan Karangtempel,” pungkasnya. (mg28/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here