Petani Tembakau Blokade Jembatan Kali Progo

890
ASPIRASI: Ratusan petani tembakau Temanggung membokade Jembatan Kali Progo Kranggan saat aksi menolak impor tembakau, kemarin. (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU)
ASPIRASI: Ratusan petani tembakau Temanggung membokade Jembatan Kali Progo Kranggan saat aksi menolak impor tembakau, kemarin. (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU)

TEMANGGUNG – Hujan yang mengguyur kawasan Temanggung tak menyurutkan semangat para petani tembakau yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Temanggung. Mereka menggelar aksi dengan memblokade jalan, tepatnya di Jembatan Kali Progo Kranggan, Jumat (17/3). Ratusan petani tembakau yang kebanyakan berasal dari lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing mengarak baliho besar berukuran tinggi 5 meter dan lebar 3 meter.

Baliho bertuliskan ‘tolak impor tembakau dari luar negeri untuk kesejahetraan petani tembakau’. Mereka menuntut agar pemerintahd an DPR segera mengesahkah RUU Pertembakauan. Baliho tersebut dibopong puluhan petani serta diiringi ratusan peserta aksi. Sebelum ditancapkan di sekitar jembatan, tepatnya di depan komplek makam pahlawan Bambang Sugeng, mereka menggelar ritual dan doa bersama.

Koordinator Aksi Noer Ahsan menuturkan, DPR RI sudah setuju untuk membahas RUU Pertembakauan, namun hingga saat ini belum ada sikap jelas dari pemerintah, apakah akan membahas RUU tersebut atau menolaknya. “Kami minta ketegasan Bapak Presiden. Kami minta Presiden segera keluarkan Ampres (Amanat Presiden) dan bisa segera menyetujuinya” ucap Ahsan kepada awak media di sela aksi, kemarin.

Sekretaris APTI Temanggung itu menjelaskan, aksi kali ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Temanggung Bambang Sukarno. Diharapkan mereka mendengar aspirasi petani tembakau. “Kali ini memang demo awal, jika aspirasi tak digubris. Selanjutnya kita akan melakukan aksi yang lebih besar dengan datang ke Senayan (gedung DPR RI) dan Istana. Kita siap ngeluruk ke Jakarta dengan jalan kaki,” janjinya.

Dalam aksi ini, ada beberapa tuntutan yang mau disampaikan kepada Pemerintah. Di antaranya, petani tembakau menuntut kedaulatan dan kesejahteraan, petani tembakau perlu payung hukum yang jelas, petani tembakau butuh peraturan perundangan yang adil dan berimbang, RUU Pertembakauan segera disahkan dan diimplementasikan di Indonesia.

“Kita terus berjuang tentang pengendalian impor tembakau dari luar negeri. Secara tegas, kita menolak tembakau impor, mengingat potensi kita masih banyak. Jika tidak ada kendali, sama sama artinya membunuh petani lokal,” tegasnya.

Ketua PAC APTI Temanggung Panut Sudarno membeberkan alasan mereka menolak tembaku impor. Di antaranya untuk melindungi produksi tembakau dalam negeri, agar terjadi penyerapan tembakau lokal yang diproduksi petani tembakau Indonesia, mencegah komoditas dan melindungi varitas asli Indonesia yang sudah dicaplok negara lain. “Mengingat tembakau khas Indonesia sudah banyak dibudidayakan di luar negeri,” kata Panut.

Menurutnya, petani tembakau saat ini resah. Pasalnya, impor tembakau dari berbagai negara telah masuk Indonesia, seperti dari Tiongkok, Amerika Serikat, Zimbabwe, Turki dan India. Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap harga jual tembaku lokal.

Kades Nampirejo ini membeber, data dari Kementerian Perindustrian RI menyebutkan, pada 2003 jumlah impor tembakau hanya 28 ribu ton, 2010 sebanyak 91 ribu ton dan pada puncaknya pada 2012 mencapai 150,1 ribu ton. “

“Kami atas nama APTI mengusulkan kepada pemerintah melalui Kementerian Keuangan untuk memberlakukan bea tarif masuk untuk tembakau serta pengenaan cukai yang lebih tinggi untuk tembakau impor. Semakin banyak serapan tembakau lokal, maka petani tentunya akan semakin sejahtera,” jelasnya. (san/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here