Menaker Himbau Perusahaan Bina TKA

1761
KUNJUNGI PESANTREN: Menaker Muhammad Hanif Dhakiri disambut oleh puluhan siswa berseragam pramuka saat berkunjung ke salahsatu pondok pesantren di Ungaran, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KUNJUNGI PESANTREN: Menaker Muhammad Hanif Dhakiri disambut oleh puluhan siswa berseragam pramuka saat berkunjung ke salahsatu pondok pesantren di Ungaran, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Perusahaan di setiap daerah diminta melakukan pembinaan terhadap Tenaga Kerja Asing (TKA) khususnya terkait dengan pemahaman budaya lokal. Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Ketenagarkerjaan (Menaker), Muhammad Hanif Dhakiri saat di Ungaran, Jumat (17/3).

Pembinaan tersebut menyusul adanya konflik antara TKA dengan pekerja lokal yang bekerja di pabrik pemurnian nikel milik PT Virtue Dragon Nikel Industri Dragon (VDNI) di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra) beberapa waktu lalu.

“Itu memang murni tindakan pidana, Meski begitu, kita mengimbau setiap perusahaan melakukan pembinaan kepada setiap TKA agar bisa memahami budaya dari masyarakat kita,” ujar Hanif.

Dikatakan Hanif, konflik tersebut dipicu ketidakpahaman budaya lokal dari TKA yang bekerja di tanah air. “Karena mungkin style nya beda, budayanya beda sehingga kalau tidak dipahami bisa memicu terjadinya konflik antar tenaga kerja,” katanya.

Hingga kini pihaknya tetap fokus dengan keberadaan TKA yang ada di Indonesia. “Soal TKA itu minimal mereka legal dan tidak melanggal aturan. Kalau diketahui ilegal  maka akan langsung kita pulangkan,” ujarnya.

Dikatakan pula oleh Hanif, selain TKA hal lain yang menjadi fokus pihaknya yaitu persiapan tenaga kerja yang berasal dari lulusan pesantren. Diakuinya, kompetensi yang dimiliki lulusan pesantren dalam industri dunia kerja memang sangat kurang jika dibandingkan dengan lulusan SMA maupun SMK.

Minimnya kompetensi tersebut dikhawatirkan akan menjadi kendala lulusan pesantren ketika memasuki kompetisi dunia kerja. Apalagi saat berkompetisi dengan TKA asing yang banyak masuk ke Indonesia.

“Sehingga nanti mereka satu sisi bisa jadi ahli ilmu agama, disisi lain mereka memiliki keterampilan tertentu baik untuk masuk ke pasar kerja maupun ke wirausaha,” katanya. Minimnya kompetensi tersebut, lanjutnya, menjadikan lulusan pesantren masuk daftar penyumbang jumlah pengangguran terbanyak.

Peningkatan kompetensi pesantren dalam menghadapi persaingan industri tenaga kerja itu juga sebagai upaya secara tidak langsung dalam memerangi radikalisme. “Kita berharap ke depan lulusan pesantren juga bisa mengerti hak-hak mereka ketika bekerja. Sebenarnya ini tidak secara langsung dapat menangkal radikalisasi di pesantren,” katanya.

Sementara itu, terkait dengan TKA di Kabupaten Semarang dari catatan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) setempat, lonjakan jumlah sudah terjadi semenjak diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Dari data Disnaker Kabupaten Semarang, jumlah TKA yang ada di Kabupaten Semarang saat ini sebanyak 264 orang. Semuanya bekerja di 54 perusahaan berskala besar yang tersebar di beberapa kecamatan. “Pengawasan terhadap TKA di wilayah kita terus kita lakukan,” kata Kepala Disnaker Soemardjito. Selain itu, pihaknya juga mengimbau setiap perusahaan di Kabupaten Semarang untuk ikut aktif dalam pendataan TKA. (ewb/zal)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here