Jadikan Sekolah Pusat Studi Musik Tradisional

262
Sekolah Lestarikan Budaya--Para siswa SMP Negeri 2 Selomerto Wonosobo secara serempak memainkan musik bundengan. Musik Khas Wonosobo ini dikira mulai punah, namun oleh sekolah ini dikembangkan menjadi salah satu materi pendidikan sehingga lestari. (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)
Sekolah Lestarikan Budaya--Para siswa SMP Negeri 2 Selomerto Wonosobo secara serempak memainkan musik bundengan. Musik Khas Wonosobo ini dikira mulai punah, namun oleh sekolah ini dikembangkan menjadi salah satu materi pendidikan sehingga lestari. (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)

WONOSOBO – Alat musik bundengan khas Wonosobo nyaris langka dimainkan lagi oleh masyarakat. Untuk terus menghidupkan seni musik warisan Dataran Tinggi Dieng ini, SMP Negeri 2 Selomerto setahun terakhir memasukkan seni musik bundengan sebagai materi pelajaran sekolah. Bahkan sekolah ini telah siap menjadi pusat studi bundengan.

Musik bundengan merupakan seni musik yang ditemukan oleh tukang angon bebek (pengembala itik). Alat musik ini terbuat dari bambu yang mulanya digunakan sebagai payung pelindung pengembala itik di sawah. Bentuknya yang cekung, kemudian ditanam senar dan irisan bambu. Saat dipetik, senar memunculkan musik melodis, sedangkan irisan bambu yang menancap sebagai nada bas.

Musik ini, pada akhirnya dikolaborasikan dengan Seni Tari Lengger khas Wonosobo. Pada musim panen, petani memainkan bundengan di tepi sawah serta sejumlah petani lain menari lengger. Kesenian ini sebagai pengisi hiburan pada saat istirahat melakukan panen hasil bumi. Namun belakangan musik bundengan mulai langka dimainkan lagi.

Kondisi ini, membuat SMP N 2 Selomerto Wonosobo prihatin. Sejak setahun terakhir, sekolah ini mengembangkan musik bundengan sebagai salah satu mata pelajaran. Tidak hanya memainkan, namun para siswa juga dikenalkan cara membuat alat musik bundengan.

“Kami sudah memiliki sedikitnya seratus alat musik bundengan dari berbagai ukuran, semua ini dilakukan agar kesenian warisan leluhur kita tidak punah,” ungkap Guru Seni SMP N 2 Selomerto Mulyani, Jumat (17/3) di sela Parade Bundengan di sekolahnya.

Setelah menerapkan pelajaran seni Bundengan selama setahun, SMP N 2 Selomerto menempatkan diri menjadi pusat studi bundengan. Salah satu peserta didik berasal dari Australia bernama Rossie Cook. Dia merupakan seorang konservator museum di Melbourne University dan Monash University yang awalnya mengira musik bundengan sudah punah.

“Semua murid kami kenalkan bundengan. Kami juga membuka diri kepada pihak manapun yang akan belajar bundengan di sekolah kami, bahkan ada yang dari Australia,” ujar Mulyani.

Untuk menyiapkan pembelajaran, kata Mulyani, saat ini sekolahnya sudah memiliki dua kelompok musik bundengan dan gamelan sebagai kesenian tradisional. Selain itu, juga membuat berbagai suvenir bundengan sebagai buah tangan. “Tujuan kami, agar kesenian warisan leluhur kita tidak punah, sehingga bisa terus lestari di masa mendatang,” katanya.

Budayawan Wonosobo Agus Wuryanto yang penah menulis sejarah Seni Lengger dan Bundengan mengatakan, langkah yang diambil SMP N 2 Wonosobo sangat strategis. Di mana menempatkan lembaga pendidikan sebagai pelestari kebudayaan. Para pemusik bundengan, kata Agus, mulai langka. “Saya beberapa kali membawa musik bundengan ke event nasional, kami akui jumlah pemusiknya memang mulai langka,” katanya.

Agus menyebutkan, saat ini yang masih terhitung memiliki kompetensi memainkan bundengan yakni Munir. Untuk mendorong agar kesenian ini tetap lestari, berbagai pembelajaran bisa dilakukan. Selain di sekolah, masyarakat juga harus memiliki rasa cinta terhadap kesenian adiluhung ini.

“Makin sering dipelajari, makin sering dimainkan, saya kira rasa cinta generasi kita akan terus terpupuk dan bundengan terus lestari,” katanya.

Ketua Komisi D DPRD Wonosobo Faizun yang membidangi pendidikan berharap, semua sekolah menempatkan kesenian bundengan sebagai pelajaran muatan lokal atau pendidikan ekstrakurikuler. Jangan sampai seperti yang disangka oleh pihak luar bahwa kesenian ini sudah punah.

“Kami akan dorong Dinas Pendidikan mengambil langkah ini, sehingga tiap sekolah memiliki pendidikan kesenian musik bundengan demi melestarikan karya cipta leluhur kita,” jelasnya. (ali/ton)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here