Sudah Berusia 111 Tahun, Masih Terawat dengan Baik

Mengunjungi Kompleks Susteran Gedangan St Fransiskus Semarang

469
BANGUNAN BERSEJARAH: Suster Bertha OSF saat memandu Jawa Pos Radar Semarang saat mengunjungi Kompleks Kesusteran Gedangan St Fransiskus. (NURCHAMIM/Jawa Pos Radar Semarang)
BANGUNAN BERSEJARAH: Suster Bertha OSF saat memandu Jawa Pos Radar Semarang saat mengunjungi Kompleks Kesusteran Gedangan St Fransiskus. (NURCHAMIM/Jawa Pos Radar Semarang)

Kawasan Kota Lama Semarang menyimpan banyak bangunan tua bersejarah. Salah satunya Kompleks Kesusteran Gedangan St Fransiskus milik Yayasan Marsudirini dan Kanisius di Jalan Ronggowarsito. Meski sudah berusia 111 tahun, bangunannya masih berdiri kokoh. Seperti apa?

DIAZ AZMINATUL ABIDIN

 

MINGGU (12/3) pagi lalu, Jawa Pos Radar Semarang bersama Cycling Tour menggunakan sepeda tua mengunjungi berkeliling kawasan Kota Lama Semarang. Salah satu bangunan heritage yang dikunjungi adalah  Kompleks Kesusteran Gedangan St Fransiskus.  Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda M Nestman. Perletakan batu pertamanya dilakukan pada 16 Februari 1906, seperti tertulis pada prasasti di kompleks itu.

Koran ini masuk ke bangunan berarsitektur khas Eropa itu melalui gerbang utama dengan dua pintu dorong bercat putih. Tampak papan persegi panjang bertuliskan Suster-Suster St. Fransiskus terpasang di pintu bagian atas. Kedatangan koran ini disambut oleh Suster Bertha OSF.

Suster Bertha OSF juga yang memandu saat berkeliling ke kompleks bangunan yang didirikan pada 1906 ini. Bangunan pertama yang dituju adalah ruang tamu. Di sini terdapat miniatur dalam boks kaca yang merepresentasikan seluruh kompleks bangunan, mulai dari sebelah selatan gedung TK dan SD Marsudirini Fatimah, Kapel, Rumah Sakit Bersalin, Panti Rela Bhakti, kamar suster, SMP Santa Ana, hingga dapur.

Semua arsitektur serta benda-benda kuno masih terawat dengan baik. Di antarannya ada lonceng, meja kursi, jam dinding, telepon, sampai peralatan dapur kuno. “Kompleks Susteran Gedangan ini sering digunakan sebagai lokasi syuting film,” kata Suster Bertha.

Ia menyebutkan, film Soegija yang disutradarai oleh sutradara senior Indonesia Garin Nugroho dan dibintangi oleh budayawan Nirwan Dewanto yang memerankan tokoh pahlawan nasional Albertus Soegijapranata. Terakhir, aktor ternama Chico Jericho syuting pada November 2016 untuk film terbarunya di bangunan tua ini.

Sr Bertha menjelaskan, dahulu bangunan yang bergaya aksitektur dinding batu bata merah ini difungsikan sebagai Panti Asuhan Pengurus Gereja Papa Miskin (PGPM) pada 1809. Pada 5 Februari 1870, 11 suster OSF dari Heythuisen, Belanda, menggunakan Kapal Jacoba Cornelia tiba di Semarang setelah menempuh perjalanan sekitar 3 bulan. Suster-suster menjalankan tugas untuk pengabdian merawat anak yatim piatu dengan cinta kasih.

“Gedangan jadi saksi kedatangan Suster-Suster OSF mengemban misinya. Gedangan juga saksi Susteran di Indonesia, mereka datang pertama kali pada 5 Februari 1870 di Semarang. Dan hingga saat ini masih melanjutkan karya,” jelas Sr Bertha.

Perjalanan berlanjut, memasuki bangunan yang paling menonjol yakni Kapel, di dalamnya semua benda seperti meja, lonceng, lampu dan banyak lagi masih terawat dan baik. Hanya saja pada 2014, Susteran Gedangan pernah dilanda rob hingga ketinggian satu meter yang membuat barang-barang terendam.

Kapel berbentuk bangunan setangkup dengan facade tunggal yang tidak bertingkat. Pintu masuk kapel membelakangi jalan. Bagian altar di letakkan pada bagian timur, fungsinya agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruang altar melewati kaca berbingkai timah yang berwarna-warni. Jendela dengan bentuk ambang atas meruncing ke atas dengan gaya arsitektur gotik.

Berikutnya bangunan yang diperuntukkan untuk Panti Rela Bhakti. Sebanyak 20-an lansia yang rata-rata menggunakan kursi roda menyambut dengan ramah dan candanya. Suasana hangat membuat semua tersenyum. Bahkan ada satu lansia spontan menyanyi untuk menghibur tamu yang datang.

Di sisi paling utara tepatnya di samping perempatan Jalan Pengapon dan Jalan Ronggowarsito ada bangunan yang direnovasi. Dulunya bangunan ini adalah Rumah Sakit Bersalin, sekarang bangunan direnovasi. Rencananya, bangunan akan dijadikan food care, yakni tempat jamuan makan untuk orang-orang kurang mampu di wilayah sekitar. Biayanya menggunakan dana yayasan yang bersumber dari donasi pihak luar. “Siapapun boleh turut berdonasi, karena sampai sekarang pemerintah belum menyubsidi untuk perawata bangunan,” katanya.

Berikutnya Suster Bertha  mengajak koran ini melihat asrama suster, gudang, dapur, hingga gedung untuk menginap tamu dan anak-anak SD. Di dapur, dua karyawan sedang memasak menggunakan peralatan dapur yang masih kuno. Ada kompor serta cerobong asap di atasnya. Benda-benda ini masih terawat dengan baik.

“Sayangnya, banyak aksi pencurian. Sehingga  sengaja kami sembunyikan benda-benda kuno agar aman. Orang masuk bisa dari mana saja, ini yang kami waspadai,” ujar Suster Bertha.

Saat ini, ada 21 Suster yang ada di St Fransiskus, dan terus melanjutkan karya. Kompleks Susteran Gedangan memiliki banyak nilai sejarah yang perlu diketahui. Bangunan dengan nuansa khas batu bata merah ini menjadi salah satu heritage di Kawasan Kota Lama yang cukup menonjol selain Gereja Blenduk. Tentunya siapapun boleh belajar sejarah di sini. (*/aro)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here