Petani-Pedagang Musnahkan Bawang Merah Tolak Impor Bawang Merah

484
BAKAR: Puluhan petani dan pedagang bawang merah saat aksi menolak bawang merah impor di Pasar Legi Parakan, kemarin. Mereka membakar barang impor yang masuk di pasar tersebut. (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU)
BAKAR: Puluhan petani dan pedagang bawang merah saat aksi menolak bawang merah impor di Pasar Legi Parakan, kemarin. Mereka membakar barang impor yang masuk di pasar tersebut. (AHSAN FAUZI/JAWA POS RADAR KEDU)

TEMANGGUNG—Puluhan petani dan pedagang Pasar Legi Parakan menggelar aksi di halaman samping utara Pasar Legi, Kamis (16/3) kemarin. Mereka menolak impor bawang merah di pasar tradisional yang terkenal sebagai sentranya bawang. Maklumat penolakan tertuang dalam beberapa spanduk.

Beberapa spanduk bertulisakan; Tolak Bawang Impor, Emoh Bawang Impor, Mesakno Petani Temanggung Ojo Didrop Bawang Impor, Hidup Miskin di Negeri yang Kaya dan beberapa tulisan lainnya. Selain membentangkan spanduk, untuk mengekpresikan kekesalan, mereka menginjak-injik bawang imbor tersebut; dan memusnahkanya dengan cara dibakar.

Perwakilan aksi, Triyono, 41, menuturkan, begitu bawang merah impor masuk di wilayah Temanggung—tepatnya di Pasar Legi Parakan—harga bawang merah lokal langsung anjlok. Menurut Triyono, tahun lalu (2016) harga bawang merah lokal di atas Rp 20 ribu per kilogram. Sekarang , hanya berkisar Rp 11 ribu per kilogram. Konsumen lebih memilih bawang merah impor yang harganya relatif murah, Rp 8 ribu-Rp 9 ribu per kilogram.

“Masuknya bawang merah impor ini, jelas merusak harga. Bahkan, hasil petani bawang merah yang kini tengah panen raya, juga tidak laku. Semua menumpuk atau masih tertimbun. Secara tegas, kami (petani-pedagang) menolaknya,” ucap Triyono dengan nada lantang saat memimpin aksi.

Pria yang sudah bertahun-tahun menjadi pedagang di Pasar Legi Parakan itu mengemukakan, sejak pemerintah mengeluarkan izin untuk bawang merah impor pada Febuari lalu, selang beberapa waktu kemudian, bawang merah impor membanjiri Pasar Legi. Dalam sepekan, sedikitnya ada sekitar 20-25 ton per minggu barang merah impor masuk. “Izin dari pemerintah perihal bawang impor itu sebenarnya untuk kebutuhan industri saja. Tapi faktanya kok masuk di pasar-pasar tradisional. Ini jelas merugikan pegadang dan petani lokal.”

Mengantisipasi bawang merah impor, pihaknya bersama seluruh pedagang bawang merah lainnya, telah berkomitmen akan mengawasi peredaran bawang merah di pasar Legi Parakan. “Kami sudah tandatangani kesepakatan bersama. Bagi pedagang yang melanggar, akan ada sanksinya. Kami juga sudah membentuk satgas untuk pengawasan peredaran bawang merah impor.”

Petani bawang merah, Karsono Slamet mengeluh atas imbas masuknya bawang merah impor di pasar tradisional. Ia mengaku memiliki tanaman bawang yang siap panen di atas tanah 1 hektare. “Sudah kita panen satu ton, namun barangnya masih numpuk atau ditimbun di gudang karena tidak laku dijual,” keluh petani asal Desa Kruwisan, Kledung, itu.

Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan dan UMKM (Diskoperindag dan UMKM) Kabupaten Temanggung, Ronny Nurhastuti mengklaim telah menerima laporan bawang merah impor yang dijual bebas di Pasar Legi.

Atas laporan ini, pihaknya telah berkoordinasi dan memberikan peringatan kepada pedagang bawang merah impor agar tidak lagi menjual atau mendatangkan bawang merah impor ke pasar-pasar rakyat di Temanggung. “Tidak hanya di Pasar Legi, tapi semua pasar di Temanggung.” (san/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here