Pertanian di Bantaran Kalibodri Dibabat

386
SALAHI ATURAN: Puluhan hektar tanaman di sepanjang sungai Kalibodri dibabat untuk normalisasi fungsi bantaran, oleh petugas PSDA Jateng, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SALAHI ATURAN: Puluhan hektar tanaman di sepanjang sungai Kalibodri dibabat untuk normalisasi fungsi bantaran, oleh petugas PSDA Jateng, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KENDAL—Berbagai tanaman produktif milik petani di Bantaran Sungai Kalibodri dipangkas oleh petugas gabungan dari Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) dan Penataan Ruang Bodri Kuto Provinsi Jateng, Satpol PP, dan Polsek Patebon. Pemangkasan dilakukan untuk normalisasi fungsi bantaran.

Berbagai tanaman pertanian yang dipangkas seperti jagung, ketela, kedelai, kacang hijau, pepaya, dan pisang. Selain itu ada pula tanaman sengon yang ikut dipangkas.  Pemangkasan tahap pertama dilakukan di sepanjang bantaran Kecamatan Patebon. Yakni yang melalui Desa Purwosari, Magersari, Kumpulrejo, dan Wonosari.

Nastain, 60 warga Desa Purwosari, mengatakan sedikitnya 50 meter tanamannya yang ditanam di bantaran sungai Kalibodri dibabat habis oleh petugas, diataranya berupa pohon singkong dan pohon pisang, cabai, jagung.

Ia mengaku kaget, sebab sebelumnya tidak pernah ada penertiban pemangkasan pohon. Nastiin mengatakan sudah puluhan tahun menggarap lahan bantaran Kalibodri untuk ditanam aneka tanaman yang bernilai ekonomis.  “Yang saya garap hanya yang berdekatan atau persis di belakang rumah saya ini,” katanya, kemarin (16/3).

Namun, karena ada penertiban bantaran, Nastiin mengaku hanya bisa pasrah. Sebab ia menyadari betul, jika tanah yang digarap bukanlah tanahnya. “Tidak masalah, dibersihkan. lha wong tanah ini milik negara.  kalau mau diambil tidak masalah,” jelasnya.

Koordinator Pembantu Operasional Pembinaan Bendung dan Sungai pada Satuan Pengelola Sumber Daya Air dan Penataan Ruang Wilayah Bodri , Sunaryo, mengatakan pembersihan tanaman di sepanjang bantaran Kalibodri ini perlu dilakukan untuk mengembalikan fungsi tanggul sungai secara maksimal. “Tanaman yang berada di bantaran tanggul bisa menghambat laju air. Bahkan bila terus ditanami warga tanah akan menjadi gembur dan  tanggul mudah jebol,” jelas Sunaryo. Seharusnya, sesuai peta yang ada jarak 50 sampai 60 meter dari bantaran sungai harus bersih baik dari  tanaman atau bangunan.

Sementara itu Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) dan Penataan Ruang Bodri Kuto Provinsi Jawa Tengah, Indah Sulistyowati, mengungkapkan, pembersihan bantaran Kali Bodri merupakan eksekusi yang pertama kali dilakukan bekerjasama dengan perangkat desa, serta dinas terkait.

Pembersihan bantaran di sepanjang Bodri akan dilakukan bertahap di empat desa yakni Desa Purwosari, Desa Kumpulrejo, Desa Magersari, Desa Wonosari. “Kami akan terus monitoring satu bulan sekali, dikhawatirkan setelah dibersihkan akan ditanami lagi bahkan dimanfaatkan untuk kandang kambing,” pungkasnya. (bud/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here