Peradi Bantu Warga Miskin di Demak

452
PEDULI SESAMA: Ketua Peradi Semarang Theodorus Yosep Parera memberikan bantuan kepada keluarga Nur Asiyah, warga Desa Krandon, Kecamatan Guntur, kemarin. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)
PEDULI SESAMA: Ketua Peradi Semarang Theodorus Yosep Parera memberikan bantuan kepada keluarga Nur Asiyah, warga Desa Krandon, Kecamatan Guntur, kemarin. (Wahib Pribadi/Jawa Pos Radar Semarang)

DEMAK– Para advokat Semarang yang tergabung dalam Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi)  versi Jenifer Girsang pimpinan Theodorus Yosep Parera, kemarin, memberikan bantuan kepada dua warga miskin di Desa Krandon, Kecamatan Guntur. Yaitu, keluarga Nur Asiyah, 38, dan Rukayah, 75, warga RT 9 RW 3, Desa Krandon.

Selain mendapatkan sembako berupa beras, gula, teh, minyak goreng dan lainnya, masing-masing juga diberai uang Rp 750 ribu. Tidak hanya itu. Dalam waktu dekat ini, rumah mereka yang tidak layak huni ini juga akan dibedah atau dibangun.

Ketua Peradi Semarang, Theodorus Yosep Parera mengatakan, banyak sekali masyarakat miskin yang hidup sendiri di rumahnya yang kecil dan tidak layak. Usia mereka juga sudah tua. “Karena itu, kita sebagai advokat tidak hanya bagaimana menegakkan hukum di persidangan saja, namun bagaimana kita juga memperjuangkan mereka yang miskin ini hidup berkecukupan. Saya kira, negara juga harus turun tangan untuk ikut membantu mereka agar kehidupannya lebih layak,” katanya.

Pihaknya akan mengahimpun para advokat di Jateng ini untuk membantu warga miskin. “Kita turun langsung kelapangan untuk melihat fakta yang sebenarnya. Mereka kita bantu dan rumah kita bedah agar layak huni,” ujar Parera.

Mendapatkan bantuan dari advokat ini, Nur Asiyah maupun Rukayah merasa senang. Sebab, masih ada pihak yang memperhatikan nasibanya. Nur Asiyah mengatakan, dirinya hanya bekerja sebagai buruh tani. Sedangkan, suaminya Purwanto kerja serabutan atau kuli bangunan. “Kalau tidak ada kerjaan ya nganggur seperti ini,”ungkap Asiyah.

Dengan penghasilan yang minim, keduanya menanggung biaya sekolah dua anaknya. Yaitu, Aris Kurniawan, 18,  dan Paingkan Auliya, 9. “Untuk Aris sudah lulus SLTA. Tapi, masih menganggur,”katanya. Sedangkan, Rukayah diusianya yang makin renta, ia harus menghuni gubug reot sendirian.  (hib/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here