Menjaga Mata Air dengan Nyadran Kali

439
KEBERSAMAAN: Ratusan warga saat makan bersama dengan alas daun pisang di sepanjang jalan menuju Sendang Gede, Kandri, Gunungpati. (NUR CHAMMIM / JAWAPOS RADAR SEMARANG)
KEBERSAMAAN: Ratusan warga saat makan bersama dengan alas daun pisang di sepanjang jalan menuju Sendang Gede, Kandri, Gunungpati. (NUR CHAMMIM / JAWAPOS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sedikitnya 20 penari mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) terlibat dalam prosesi adat Nyadran Kali di Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang, Kamis (16/3). Mereka menampilkan tarian Matirto Suci Dewi Kandri sambil membawa tempat air dari tanah liat bagi penari putri, dan obor bagi penari putra.

Selain barisan para penari yang mengenakan busana serba putih, juga diikuti arak-arakan yang membawa sesaji, seperti gong, replika kepala kerbau, sego golong, jadah dan nasi. Mereka berjalan beriringan menuju mata air Sendang Gede.

Setelah melakukan tarian, mereka menerima air dari sendang tersebut yang ambil oleh Supriyadi sebagai juru kunci. Satu persatu penari menerima air yang ditempatkan di wadah air dari tanah liat. Selanjutnya, mereka bersama-sama menyiramkan air tersebut ke tanaman padi yang ada di dekat sendang.

Sekretaris Pokdarwis Desa Wisata Kandri, Masduki, mengatakan, acara ini sebagai ungkapan rasa syukur warga Kandri kepada sumber mata air yang selama ini bermanfaat untuk kehidupan sehari – hari warga.

“Terutama untuk pertanian, makanya tadi ada tarian sakral Matirto Suci Dewi Kandri, yang tujuannya mengambil air dan diberikan ke tanaman sawah sebagai simbol,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia menceritakan, tradisi adat ini telah ada sejak kakek moyang, dan berawal dari mata air yang dulu luasnya sebesar dandang, dan diperkirakan bisa menenggelamkan Semarang. Sehingga warga menutupnya dengan gong, kepala kerbau, dan jadah.

“Ini juga kegiatan melestarikan budaya. Selain itu, untuk memberikan pengetahuan ke warga yang dulunya tidak tahu supaya tahu, dan yang sudah tahu agar selalu ingat,” katanya.

Acara diakhiri santap bersama dengan makanan yang dibawa oleh ibu-ibu dari rumah masing-masing. Mereka menggelar makanan di atas daun pisang di sepanjang jalan menuju sendang.

“Makan bersama ini merupakan bentuk kebersamaan yang sudah berlangsung lama saat warga bergotong royong membersihkan sendang,” ujarnya. (mg26/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here