Mahfud dan Sukristianto, Guru-Murid Tewas Ketika Berwisata di Pantai Glagah

Mahfud Berencana Mondok, Sukristianto Baru Mengajar

496
BERDUKA: Zuhrotunnisa menunjukkan foto kakaknya, Muhammad Mahfud bersama siswa kelas enam SD 2 Kaliwuluh. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)
BERDUKA: Zuhrotunnisa menunjukkan foto kakaknya, Muhammad Mahfud bersama siswa kelas enam SD 2 Kaliwuluh. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)

Muhammad Mahfud, 13, warga Kaliwuluh, Kepil, Wonosobo, menjadi korban tewas saat berwisata sekolah di Pantai Glagah Kulonprogo. Siswa SD 2 Kaliwuluh Kepil itu meninggal karena terseret ombak besar bersama dua wisatawan lainnya. Yaitu, Sukristianto, guru tidak tetap SD Kaliwuluh 2 Kepil, Wonosobo. Korban lainnya, Putra Kristanto, warga Cengkareng, Jakarta Barat.

ZAIN ZAINUDIN, Wonosobo

DUKA masih terpancar jelas di wajah orang tua dan saudara sekandung Mahfud, 12. Mereka sama sekali tidak menyangka, plesiran sekolah usai try out ujian, berujung duka. Sebelum Mahfud plesiran, keluarga mengaku tidak mendapat firasat atau tanda apapun. Mahfud sosok siswa cerdas dan pendiam.

Mahfud juga pandai mengaji. Karena itu, kata Tohir, paman korban, keponakannya berencana mondok di Pesantren Maron Purworejo, setelah lulus SD. “Sudah dibelikan kain untuk bekal pakaian dia mondok. Ternyata Allah SWT punya rencana lain,” kata Tohir di rumah duka, di Dusun Jibungan, RT 3/RW 9, Desa Kaliwuluh, Kecamatan Kepil, Kamis (16/3) kemarin.

Mahfud berangkat plesiran pagi hari, bersama teman kelasnya, sejumlah 19 siswa, ditemani 8 guru SD 2 Kaliwuluh. Ia berangkat mengenakan dua minibus. Sesampainya di tempat tujuan, Mahfud bersama teman sekelasnya menghabiskan waktu dengan mandi dan bermain di pantai.

Sekitar pukul 11.30, rombongan berniat pulang. Sebagian rombongan sudah masuk ke mobil. Sebagian lainnya, masih sibuk dengan berbagai keperluan. Pada saat itulah, Mahfud melihat ada tempat menarik di lokasi pemecah ombak.

“Nah, di pemecah karang itu, Mahfud berdiri di situ sambil ngomong gini, di sini bagus, di sini bagus, gitu katanya,” kata Tohir, menirukan saksi mata yang mendengar penuturan keponakannya.

Ditengah kegirangan, tiba-tiba ombak besar datang menyeret tubuh Mahfud. Dalam sekejap, siswa yang berada tidak jauh dari lokasi Mahfud hanyut, beerteriak meminta tolong. Guru yang mendengar teriakan siswa, Sukristianto, sontak lari mendekati pemecah ombak. Ia terjun, bermaksud menolong Mahfud.

Mulanya, Mahfud berhasil digapai oleh Sukristianto. Sayangnya, ketika tubuh keduanya belum berhasil menepi, ombak besar lebih dulu datang dan menghanyutkan tubuh mereka. Tak berhenti sampai di situ, di dekat lokasi, juga ada 2 wisatawan asal Jakarta yang mengalami hal serupa.

Tohir mengatakan, proses evakuasi para korban berlangsung lama. Kali pertama yang ditemukan adalah Sukristianto, disusul Putra Kristanto dan terakhir Mahfud. Mahfud ditemukan sekitar pukul 16.30. Ketiganya ditemukan di dasar air, tidak jauh dari lokasi jatuh.

Usai diotopsi di rumah sakit setempat, jenazah korban dibawa ke rumah masing-masing. “Sampai rumah pukul 9 malam. Jenazah dimakamkan pagi hari,” kata Tohir dengan wajah sedih.

Mahfud merupakan putra dari pasangan Suyuti, 39; dan Ririn Sriandini. Mahfud memiliki dua adik, Zuhrotunnisa kelas 4 SD, dan Maratul Muawanah, 2 tahun. Sedangkan Sukristianto merupakan guru baru di SD 2 Kaliwuluh. Ia mengajar mata pelajaran olahraga. (*/isk)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here