Kandang Bonbin Tak Layak Huni

344
TERKESAN KUMUH : Orangutan berada di kandangnya di Taman Margasatwa Semarang, kemarin. Bonbin Mangkang dianggap perlu dibenahi agar kenyamanan satwa dan pengunjung tak terganggu. (Ahmad Abdul Wahab/Jawa Pos Radar Semarang)
TERKESAN KUMUH : Orangutan berada di kandangnya di Taman Margasatwa Semarang, kemarin. Bonbin Mangkang dianggap perlu dibenahi agar kenyamanan satwa dan pengunjung tak terganggu. (Ahmad Abdul Wahab/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Taman Margasatwa Semarang atau biasa disebut Bonbin Mangkang perlu dikelola lebih baik lagi. Fasilitas kebun binatang dianggap perlu direnovasi agar tak mengganggu kenyamanan pengunjung.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (16/3), beberapa fasilitas yang ada kurang memadai. Kandang-kandang satwa banyak yang sudah tak layak huni dan tak memenuhi standar. Ini dikhawatirkan akan berdampak buruk pada kelangsungan hidup serta tumbuh kembang satwa di dalamnya. Disamping beberapa kandang berukuran sempit, bahkan ditemukan juga dinding besi berkarat pada kandang burung, sehingga rusak atau bolong.

Ditemukan juga, ayunan tempat bermain orangutan yang sudah tak berfungsi lantaran talinya putus. Sementara itu,  air keruh dan sudah menghitam menjadi pemandangan tersendiri di sangkar buaya. Hal itu masih ditambah dengan ketidakdisiplinan pengunjung yang tidak membuang sampah pada tempatnya.

Hal tersebut sangat disayangkan mengingat Bonbin Mangkang merupakan salah satu kebanggaan Jateng. Sebagai tempat konservasi, pendidikan, riset, dan rekreasi, seharusnya pengelolaan bisa dilakukan secara professional.

Pengunjung asal Pekalongan, Diaz Arsowidyasworo mengatakan, pemugaran harus dilakukan oleh pihak pengelola karena sejumlah fasilitas dan sarana pendukung yang rusak. Hal itu ditujukan agar kelangsungan satwa tetap terjaga dan kenyamanan pengunjung juga semakin meningkat. “Sudah tiga kali berkunjung ke Bonbin Mangkang, tapi bukan semakin baik tapi malah terlihat semakin kumuh. Penataan dan penertiban perlu dilakukan agar tak kalah dengan kebun binatang yang lain seperti di Gembiraloka,” katanya.

Harapan serupa juga disampaikan Marsu Budi. Pengunjung asal Kendal itu menjelaskan, sebagai ruang terbuka hijau (RTH) dan aset negara, sudah sepatutnya keberadaan taman margasatwa kebanggaan Semarang dikelola dengan lebih baik lagi. Persoalan kebersihan contohnya, jangan dianggap sebagai persoalan sepele. Dikatakan, selain dapat membuat satwa stres, dikhwatirkan juga akan berdampak kepada pengunjung terutama bagi anak-anak. Dicontohkan, hewan yang sakit dapat menular kepada manusia melalui perantara nyamuk. Jadi kebersihan mutlak untuk diberikan, baik oleh pengelola dan pengunjung. “Jangan sampai kejadian yang tak diinginkan terjadi, apalagi banyak anak-anak yang lolos dari pengawasan orangtua. Jadi petugas patroli perlu ditambah,” ujarnya.

Pengelola Bonbin Mangkang, Kustiyanto mengatakan, persoalan kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Banyak pengunjung yang tak menaati peraturan. Di sisi lain, dia mengaku, fasilitas yang ada memang menjadi prioritasnya saat ini. “Banyak pohon yang mudah lapuk, ke depan akan ada penataan ulang,” katanya.

Perihal pengelolaan yang dinilai kurang profesional, Kustiyanto mengaku banyak kendala yang ada seperti petugas lapangan yang belum maksimal. Dijelaskan, nantinya pengelolaan akan bersifat semi swasta dan saat ini sedang tahap pengajuan ke pemerintah setempat. Hal itu dilakukan agar tata kelola dan tata pelayanan semakin baik lagi. “Dengan tujuan agar produktifitas pekerja semakin tinggi dalam tata kelola dan yang paling penting semuanya bakal ditangani oleh orang-orang yang terlatih,” tuturnya

Kendati demikian, dia mengaku konservasi masih berjalan optimal. Banyak satwa yang sudah dikembangbiakkan seperti dilahirkannya 3 bayi macan beberapa waktu yang lalu. (mg28/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here