Bundengan Dikoleksi Museum Australia

365
BELUM PUNAH: Rossie Cook seorang konservator museum asal Australia memainkan alat musik khas Wonosobo bundengan bersama puluhan pelajar dan warga di Pendopo Kabupaten Wonosobo, Kamis (16/3). (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)
BELUM PUNAH: Rossie Cook seorang konservator museum asal Australia memainkan alat musik khas Wonosobo bundengan bersama puluhan pelajar dan warga di Pendopo Kabupaten Wonosobo, Kamis (16/3). (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)

WONOSOBO –  Alat musik khas Wonosobo bundengan atau kowangan ternyata sudah sejak lama dikoleksi oleh sebuah universitas di Australia. Hal ini yang memanggil Rossie Cook, seorang konservator yang bekerja di Melbourne University dan Monash University Australia meluangkan waktu ke Wonosobo untuk belajar alat musik dari bambu tersebut.

Workshop memainkan bundengan tersebut digelar di Pendopo Kabupaten Wonosobo, Kamis (16/3). Puluhan pelajar dan warga umum, secara bersama mengenal fungsi dan petikan irama alat musik yang awalnya digunakan oleh tukang angon bebek (pemelihara itik di sawah) dalam melindungi dari hujan dan mengisi waktu.

Rossie mengaku pertama kali mengenal bundengan pada Februari 2016. Saat itu, ia berada di Monash University untuk merawat dan memperbaiki bundengan.

“Saya melihat benda yang menurut saya sangat aneh dan misterius, tak ada seorang pun yang bisa menjelaskan kepada saya benda itu yang sebenarnya. Saya hanya tahu itu bundengan atau kowangan,” katanya.

Rossie kemudian mencari tahu asal benda tersebut sampai di museum. Dia kemudian mendapatkan catatan bahwa bundengan tersebut dibawa ke Australia pada 1971 dari Dataran Tinggi Dieng. “Saya benar-benar bingung, bahkan sedikit takut karena benda koleksi tersebut mengalami kerusakan cukup parah. Saya tidak berani memperbaiki tanpa mendapatkan informasi yang memadai.”

Karena kurangnya informasi, Rossie kemudian melakukan penggalian informasi di internet. Aktivitas ini membawanya menemukan sosok Munir, seniman bundengan asal Ngabean Kalikajar tengah memainkan kowangan dan diunggah ke sebuah laman media sosial.

“Butuh waktu lama sampai akhirnya saya menemukan sebuah video yang menayangkan Pak Munir tengah memainkan bundengan. Dari situlah saya memahami bahwa benda yang sedang saya coba perbaiki di Monash University tersebut adalah kowangan,” terang Rossie.

Secara jujur, Rossie mengaku sangat terpesona pada permainan Munir dalam video singkat tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Wonosobo pada Agustus 2016.

Kunjungan pertama itulah yang mempertemukannya dengan Munir dan Buchori, seniman bundengan lainnya secara langsung. Tak hanya kedua orang yang disebutnya sebagai master bundengan, Rossie juga bercerita bahwa kunjungan pertama pada Agustus tersebut juga mempertemukannya dengan Mahrumi, seorang pembuat kowangan.

“Saya juga jadi tahu kalau kowangan atau bundengan ini biasa dibawa ke sawah ketika mengembala itik, dan juga berfungsi sebagai caping alias penutup kepala,” lanjutnya.

Sosok lain yang disebut Rossie terkait ketertarikannya dengan bundengan adalah Mulyani, seniwati tari sekaligus guru dari SMP 2 Selomerto. Mulyani telah menunjukkan kepadanya bahwa bundengan juga dipelajari para siswa. Hal itu melegakan, karena ia sempat sangat khawatir seni bundengan sudah punah, sebagaimana disampaikan koleganya di Australia, yang meyakini bundengan sudah punah sekitar 45 tahun silam.

Kehadirannya pada acara Workhsop Bundengan hasil kolaborasi antara Sanggar Ngesti Laras dan SMP 2 Selomerto, serta Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Wonosobo itu, diakui Rossie juga menumbuhkan optimistisme akan masa depan kesenian bundengan.

“Kesenian bundengan ini memiliki nilai historis luar biasa, karena di masa-masa penjajahan Belanda dulu, termasuk seni yang sangat digemari warga masyarakat Wonosobo,” terang Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik, Bambang Sutejo.

Dengan semakin banyaknya generasi muda yang mengenal bundengan, Bambang meyakini kesenian tersebut tak akan sampai punah dan hilang ditelan zaman. (ali/ton)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here