Tak Sesuai Jadwal, Pengunjung Kecewa

Festival Sendratari HUT Kabupaten Semarang

435
NEKAD : Beberapa penghobi fotografi nekad masuk ke area tarian kolosal Baruklinting di Alun-alun Bung Karno Ungaran, kemarin. Beberapa pengunjung mengeluhkan hal itu, karena merusak pemandangan. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
NEKAD : Beberapa penghobi fotografi nekad masuk ke area tarian kolosal Baruklinting di Alun-alun Bung Karno Ungaran, kemarin. Beberapa pengunjung mengeluhkan hal itu, karena merusak pemandangan. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Tidak sesuainya jadwal pelaksanaan Sendratari Kolosal Baruklinting di Alun-Alun Bung Karno Ungaran, Rabu (15/3) kemarin, dikeluhkan oleh beberapa pengunjung. Pasalnya, acara yang merupakan rangkaian HUT Kabupaten Semarang yang ke-496 tersebut, tidak sesuai jadwal yang direncanakan sebelumnya.

Seperti halnya yang diungkapkan oleh Aditya Pradana, 25, warga Jogjakarta. Ia kecewa karena hanya dapat menyaksikan adegan di akhir acara. “Saya lihat di sejumlah poster, di Instagram visit Jateng, jadwal sendratari ini pukul 10.00. Saat saya datang pukul 09.45, sudah hampir berakhir. Ternyata dimulai pukul 09.00,” ujarnya.

Bahkan, acara rangkaian HUT Kabupaten Semarang lainnya juga molor, seperti jamasan pusaka. Jadwal pelaksanaan seharusnya mulai pukul 08.00, namun mundur pukul 10.00. Hal itu sangat disayangkan, mengingat tradisi tahunan tersebut berpotensi menjadi daya tarik wisata. “Sehingga dapat mengundang wisatawan domestik maupun mancanegara untuk dapat berkunjung ke Kabupaten Semarang,” katanya.

Selain jadwal, kehadiran fotografer hobies dalam kegiatan tersebut dinilai mengganggu. Pasalnya, saat acara berlangsung banyak yang nekad mengambil gambar hingga area utama sendratari. “Seharusnya panitia memperhatikan hal tersebut,” ujar Sofian Hadi, 38, warga Desa Leyangan Kecamatan Ungaran Timur.

Sofian yang saat itu datang bersama anak dan istrinya merasa terganggu dengan banyaknya foto hobies yang masuk ke lapangan tempat digelarnya sendratari. Selain itu, menurutnya kondisi tersebut membuat tontonan terkesan kurang rapi. “Seharusnya panitia memberi tempat khusus bagi para penghobi itu,” ujar Sofian.

Pagelaran sendratari kolosal tersebut dilakukan oleh 500 pelajar di Kabupaten Semarang. Aksi sendratari menceritakan kisah kolosal Baruklinting. Dalam tarian tersebut diceritakan tentang asal muasal Rawa Pening yang terletak di selatan Kabupaten Semarang.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang, Dewi Pramuningsih mengatakan sendratari kolosal Baruklinting berawal dari seekor naga yang bernama Baruklinting berupaya menjadi manusia. Namun saat sudah menjadi manusia seutuhnya, ia justru ditolak oleh warga dusun yang berlaku sombong. Kemudian, Baruklinting marah lalu menancapkan sebatang lidi di tanah dan menantang siapapun warga dusun yang sanggup mencabutnya.

Tantangan itu dipenuhi oleh warga, namun anehnya tak satupun warga dusun yang mampu mencabut lidi tersebut. Sebuah keanehan terjadi tatkala Baruklinting mencabut lidi, memancarlah air dari dalam tanah. Air tersebut keluar tanpa henti, hingga seluruh desa tenggelam bersama warga dusun yang menghuninya.

Dikatakan Dewi, siswa harus berlatih selama dua minggu dalam mempersiapkan pentas kolosal itu. “Untuk penampilan yang disaksikan langsung oleh Bupati Semarang, Mundjirin dan sejumlah pejabat Forkompinda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah),” kata Dewi.

Sama seperti tahun sebelumnya, tarian kolosal itu juga merupakan agenda tahunan dalam rangkaian perayaan HUT Kabupaten Semarang. “Mungkin tahun depan (2018) bisa menampilkan cerita yang berbeda tetapi tetap mengangkat kearifan budaya Kabupaten Semarang dan lebih banyak melibatkan para siswa,” katanya. (ewb/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here