Langgar Lalin, Kaum Difable Ditilang

441
TEGAS : Salahsatu penyandang disabilitas tengah melakukan ujian praktek SIM D di Mapolres Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TEGAS : Salahsatu penyandang disabilitas tengah melakukan ujian praktek SIM D di Mapolres Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Penertiban pengguna jalan di Kabupaten Semarang semakin tidak pandang bulu. Baik itu pengguna kendaraan yang normal maupun difable. Menyusul diterbitkannya SIM (Surat Izin Mengemudi) D yang dikhususkan bagi kaum difable.

“Sekarang tidak ada perbedaan perlakuan bagi pengguna jalan, baik yang normal maupun yang difabel. Tetap akan ditilang jika tidak lengkap,” ujar Kasatlantas Polres Semarang AKP Dwi Nugroho usai peluncuran SIM D di Mapolres Semarang, Rabu (15/3).

Penerbitan SIM D sebenarnya sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang mewajibkan calon pengendara untuk memiliki SIM. Namun dalam implementasinya, terdapat sejumlah kendala. Baik dari para penyandang difabel maupun dari pihak kepolisian sendiri. “Mungkin keterbatasan waktu dan minimnya informasi. Dari Kepolisian juga minim fasilitas, kesulitan sarana uji praktik SIM,” katanya.

Dwi juga mengakui jika hingga saat ini belum ada Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) yang ditunjuk untuk memproduksi kendaraan roda tiga khusus untuk difabel. Namun saat ini Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) Polres Semarang sudah menyiapkan unit kendaraamnm maupun fasilitas pendukunh untuk uji praktek SIM D ini.

“Sepeda motor teman-teman difabel ini ukurannya lebih lebar. Maka disesuaikan lintasan uji praktik lapangan 1, misalnya untuk pembatas lintasan zig-zagnya kita lebihkan satu meter dari ukuran normal,” tuturnya.

Dwi juga mengatakan diberlakukannya SIM D yang dikhususkan untuk penyandang difable merupakan kali pertama di Kabupaten Semarang. Peluncuran SIM D juga untuk menghilangkan adanya diskriminasi pengguna jalan khususnya bagi penyandang difable. Peluncuran melalui kegiatan Motivasi Keselamatan Komunitas Penyandang Cacat (Mata Kaca) tersebut, juga menggandeng Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Semarang.

Secara simbolis, Kapolres Semarang AKBP Thirdy Hadmiarso dalam kesempatan itu juga menyerahkan SIM D kepada dua penyandang difable dari PPDI sebagai perwakilan. Mereka antara lain Wakrys Ala Hada Shifa, 36, warga Watuagung, RT 03/09, Kecamatan Suruh dan Suharyono, 57, warga Perum Sraten Permai, RT 5/7, Kecamatan Tuntang.

Sementara itu, Ketua PPDI Kabupaten Semarang, Ridwan, 45, mengatakan jika saat ini penyandang disabilitas kerap di anak tirikan. Sehingga, banyak hak yang seharusnya diterima penyandang disabilitas tidak diperhatikan. “Salah satunya diantaranya dalam kepemilikan SIM ini,” katanya.

Saat ini dari 100 anggota PPDI di Kabupaten Semarang hanya 50 orang di antaranya yang sudah memiliki SIM D. Atas apa yang dilakukan Polres Semarang, ia pun mengapresiasi. “Bisa menggugah kesadaran para penyandang disabilitas untuk sadar keselamatan berkendara dengan memiliki SIM,” katanya. (ewb/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here