Guru Besar dan Akademisi membahas Indonesia

Peran Aktif Akademisi Kokohkan NKRI

299
PERKOKOH NKRI: Sejumlah Guru Besar dan akademisi serta tokoh agama lainnya menandatangani 8 poin dalam petisi guru besar dan akademisi perguruan tinggi se-Jawa Tengah, “Meski Berbeda, Kita Saudara”. (Afiati Tsalitsati / JAWAPOS RADAR SEMARANG)
PERKOKOH NKRI: Sejumlah Guru Besar dan akademisi serta tokoh agama lainnya menandatangani 8 poin dalam petisi guru besar dan akademisi perguruan tinggi se-Jawa Tengah, “Meski Berbeda, Kita Saudara”. (Afiati Tsalitsati / JAWAPOS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Prof Muhibbin, berharap seluruh akademisi untuk bersama-sama menyadari pentingnya berperan aktif dalam merekatkan persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“ini merupakan wujud tanggung jawab kami sebagai akademisi dan para Guru Besar dalam menjaga semangat kebhinekaan dan kebangsaan masyarakat Indonesia khususnya di Jawa tengah ini,” tegas Muhibbin dalam forum diskusi akbar bertajuk Rahim Bangsa “Meski Berbeda, Kita Saudara” bersama para Guru Besar dan akademisi dari universitas se Jawa Tengah, di Wisma Perdamaian, Rabu (15/3) kemarin. Kegiatan tersebut digelar dalam rangka Dies Natalis Ke-47, UIN Walisongo.

Hal ini merupakan bentuk kepedulian Pergutuan Tinggi dan akademisi dengan mengangkat isu realitas kekinian menunjukkan bahwa prasangka, kebencian, fitnah, intoleransi, dan kekerasan yang mengancam kebhinekaan dan demokrasi. Pada acara ini 4 rektor dari Undip, Unnes, Unsoed dan UNS ini memaparkan pengalaman Perguruan Tinggi dalam membangun harmoni, toleransi, perdamaian dan penanaman nilai-nilai kebangsaan.

Menurut Muhibbin, Rahim Bangsa menjadi salah satu upaya perguruan tinggi dan akademisi untuk menyuarakan nilai-nilai kebangsaan, dan nasionalisme yang akhir-akhir ini kian terancam oleh banyaknya kelompok-kelompok radikal yang seringkali mengabaikan nilai-nilai kebangsaan. Sehingga, Rahim Bangsa akan menyiram kembali nilai kebangsaan kita yang dirasakan ”layu” akibat terinjak atau terseret oleh tarikan politik sektoral, maupun kepentingan lainnya.

Sementara itu Habib Luthfi bin Yahya yang juga hadir dalam kesempatan itu berharap UIN Walisongo yang membawa nama tokoh agama di Indonesia agar terus melakukan kegiatan serupa dengan tujuan yang mulia yakni menjaga kebhinekaan Indonesia dan keutuhan dalam berbangsa.

“Jika diibaratkan saat ini, Indonesia sedang sakit-sakitan dan membutuhkan pertolongan. Nah di sini peran guru besar dan akademisi sebagai dokter untuk menyembuhkan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, bahwa bangsa Indonesia jangan sampai melupakan sejarah Indonesia sebelum merdeka yang tidak melulu ribut hanya karena perbedaan. Justru dari perbedaan yang membuat Indonesia dapat bersatu dan meraih kemerdekaan. (mg26/zal)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here