Estriyani, Bocah 12 Tahun, Rawat Ibu dan Adiknya yang Lumpuh

Ayah Pergi Nikah Lagi, Kakak Jarang Menengok

440
TETAP TEGAR: Bagus Ramadan, Estriyani, dan Titik Suwarti yang harus bertahan hidup dengan kondisi terbatas. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)
TETAP TEGAR: Bagus Ramadan, Estriyani, dan Titik Suwarti yang harus bertahan hidup dengan kondisi terbatas. (AHMAD ZAINUDIN/RADAR KEDU)

Bocah yang baru duduk di bangku kelas 5 SD, Estriyani, 12, harus tabah menghadapi kerasnya cobaan hidup. Ia dituntut telaten merawat ibunya yang lumpuh, juga harus merawat adiknya yang mengalami cacat kaki.

ZAIN ZAINUDIN, Wonosobo

ESTRIYANI terlahir di Dusun Wonokerso RT 06/RW 04, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosobo. Parasnya tirus, tubuhnya mungil, pakaiannya lusuh. Saat dikunjungi rombongan peduli sosial dan wartawan koran ini 3 hari lalu, Yani—sapaan intimnya– hanya terdiam, menundukkan kepala. Sesekali, Yani mengusap air mata yang tak lagi tertahan.

Ia terus mengunci mulut, kendati para tamu mengajaknya bercakap. Dari penuturan tetangga, Yani berubah jadi pendiam lantaran saking kerasnya cobaan hidup. Sejak 3 tahun lalu, kata tetangga yang enggan disebut namanya, ayah Yani pergi meninggalkan keluarga. Tak lama kemudian, ibunya jatuh sakit terserang stroke. Sementara adiknya, Bagus Ramadan, mengalami kekurangan sejak lahir.

Mau tidak mau, Yani menjadi satu-satunya anak di rumah itu yang merawat ibu dan adiknya. Sebenarnya, ia masih punya 3 kakak kandung. Ketiganya diduga enggan pulang hanya untuk sekadar menjenguk. Ada yang beralasan sudah berkeluarga, sebagian lain, beralasan sibuk bekerja.

Sang ayah yang pergi, belakangan telah beristri lagi. Ia hanya pulang menjenguk Yani, sebulan sekali. Itu pun hanya menginap satu-dua malam. “Ketika pulang itu, barangkali ayahnya ngasih uang kalau pas punya. Untuk kebutuhan sehari-hari, banyak datang dari tetangga,” kata tetangga itu.

Informasi dari lingkungan sekitar, Yani juga diduga menjadi korban kekerasan dalam keluarga. Selama 3 tahun merawat, Yani diduga kerap mendapat perlakuan kasar, bahkan dari ibunya sendiri. Ibunya diketahui kerap depresi dan sangat sensitif. Ketika kambuh, Yanilah yang menjadi korban.

Diperoleh informasi, adik Yani, Bagus, mengalami kekurangan pada bagian kaki. Ia hanya mampu jalan menggunakan tangan untuk mengangkat badan. Ia tidak sekolah, meski usianya sudah 9 tahun. Bagus juga tak bisa berbaur dengan anak seusianya. “Kasihan kalau lihat, makanya kita gantian menyambangi rumah ini, khawatir mereka kenapa-napa,” kata tetangga dengan mata berkaca-kaca.

Informasi dari Kepala SD Wonosari, Umi Fadhilah, yang tergabung dalam rombongan menuturkan, Bagus baru saja mendapat bantuan kursi roda, sehingga memungkinkan untuk bersekolah. Kata dia, jika Bagus mau sekolah, SD Wonosari akan menerimanya. Bahkan, Umi berjanji akan memasukkan Bagus dalam program bantuan siswa tidak mampu. “Bagi saya, yang penting dia mau sekolah, cuma itu,” katanya sambil menahan tangis.

Diliputi rasa iba, rombongan yang datang sempat memberi motivasi berikut saran kepada ibu Yani agar tak terlalu keras pada anaknya. Ibunya hanya mengangguk, mengamini saran rombongan.

Ibunda Yani dan Bagus, memiliki kelumpuhan sebelah anggota tubuhnya, tidak lama setelah ditinggal suami. Konon, dulu hampir setiap hari, perempuan itu cuma tergeletak di kamar tidur. Saat ini, ibunda Yani dan Bagus sudah agak mendingan. Ia sudah bisa duduk dan berbincang. (*/isk)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here