Dua Kuasa Hukum Mantan AMOL Bank BRI Mundur

570
MERASA DIBOHONGI: Terdakwa Kaplink Samijan (tengah) bersama dua kuasa hukumnya, Nugroho Budiantoro dan Putro Satuhu yang mengundurkan diri, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERASA DIBOHONGI: Terdakwa Kaplink Samijan (tengah) bersama dua kuasa hukumnya, Nugroho Budiantoro dan Putro Satuhu yang mengundurkan diri, kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Dua kuasa hukum terdakwa Kaplink Samijan, mantan Asisten Manajer Operasional dan Layanan (AMOL) Kantor Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Pandanaran dan Kantor Cabang Pattimura Semarang, menyatakan mundur. Nugroho Budiantoro dan Putro Satuhu merasa kecewa dengan tindakan kliennya yang menunjuk kuasa hukum baru tanpa koordinasi lebih dulu.

“Kami mengundurkan diri sebagai penasehat hukum yang mulia,”kata Nugroho Budiantoro dan Putro Satuhu dalam sidang di Pengadilan Tipikor Semarang yang dipimpin ketua majelis hakim, Sulistyono SH, Rabu (15/3).

Seperti diketahui, keduanya ditunjuk majelis hakim menjadi kuasa hukum Kaplink Samijan atas dugaan korupsi pemindahbukuan Bank BRI senilai Rp 2,1 miliar.

Putro Satuhu menjelaskan, penunjukan kuasa hukum baru awalnya tanpa dikoordinasikan dengan pihaknya sebagai kuasa hukum tunjukan majelis hakim. Ia merasa atas penunjukan itu, seperti dibohongi karena awalnya kliennya mengaku tidak mampu membayar jasa pengacara, sehingga majelis hakim menunjuk dirinya. Namun faktanya, ternyata kliennya mampu dan tanpa dikoordinasi terlebih dahulu.

“Namanya terdakwa berani menunjuk pengacara berarti mampu membayar. Apalagi ndak dikoordinasi ke kami. Kami ndak ada bayaran, sementara kuasa hukum tunjukkannya bayaran, jadi sama aja kami dibohongi,”ujarnya kecewa.

Dalam sidang kemarin dengan agenda mendengarkan keterangan ahli. Namun saksi ahli tidak hadir, sehingga hanya dibacakan keterangannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Setelah itu, hakim mempersilakan terdakwa dan kuasa hukum barunya  menanggapi dengan second opinion. “Kalau terdakwa mau mengajukan saksi meringankan dan ahli, kami persilakan,”kata Sulistiyono.

Terdakwa Kaplink Samijan menyatakan, akan mengajukan saksi meringankan. Namun tidak mengajukan ahli. Sebelum dua kuasa hukum tunjukkan majelis hakim mundur, terdakwa awalnya menyampaikan ke hakim bahwa ia bermaksud menambah tim kuasa hukum.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jateng, Slamet Widodo, mengaku, kalau pihaknya sudah memanggil secara patut saksi ahli, dan sudah sesuai dengan Undang-Undang, namun ahli berhalangan hadir. Sehingga ia meminta izin terdakwa dan kuasa hukumnya kalau keterangan ahli dibacakan saja.

Kuasa hukum baru terdakwa, Pangkat Sugiharto, mengaku baru menerima berkas kuasa penunjukan dirinya sebagai kuasa hukum. Ia juga belum menerima dakwaan, sehingga belum bisa berkomentar terkait perkara kliennya.

“Saya kuasa hukum langsung dari terdakwa, masalah penggantian uang pengganti itu hak terdakwa. Saya menilai, keterangan ahli yang dibacakan seperti bukan keterangan ahli, melainkan seperti saksi fakta, karena menerangkan sejak pertama kronologi kejadian atas perkara tersebut,”ujarnya.

Dalam keterangan ahli yang dibacakan JPU Kejati Jateng, ahli hukum pidana Undip Semarang, Nyoman Serikat Putra Jaya, menerangkan, kalau terdakwa sebagai AMOL, setelah mengetahui password atau kata kunci, lalu  melakukan pemindahbukuan dari kantor Cabang Semarang Pandanaran dan Semarang Pattimura secara keseluruhan sebesar Rp 2,1 miliar.

“Terdakwa Kaplink ini melakukan pemindahbukuan tidak sesuai ketentuan BRI. Patut diduga terdakwa melakukan tindak pidana, mentransfer, menitipkan dengan tujuan menyembunyikan,” jelasnya.

Sebelumnya, JPU mendakwa Kaplink telah melakukan perbuatan sebagaimana pasal 2 ayat 1 serta pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Selain itu juga pasal 3 atau 4 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo pasal 64 ayat 1 KUHP. Dugaan korupsi dilakukan terdakwa saat menjabat AMOL di Bank BRI Kantor Cabang Pandanaran selama periode 1 Oktober 2010 – 11 Januari 2013, dan di kantor cabang Bank BRI Semarang Pattimura pada 12 Januari 2013 – 26 April 2016. (jks/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here