Bisnis Kuliner dari Jamur

419
Ade Wenny Wulandari (SHEILA LESTARI GIZA PUDRIANISA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Ade Wenny Wulandari (SHEILA LESTARI GIZA PUDRIANISA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

ADE Wenny Wulandari memiliki kegemaran mengonsumsi jamur minimal 1  minggu sekali. Kebiasaannya mengonsumsi jamur, membuat gadis kelahiran 1 Mei 1991 ini tertantang membuka bisnis aneka makanan berbahan dasar jamur.

“Aku suka banget makan jamur, soalnya aku ini vegetarian. Selain citarasanya unik dan lezat, jamur juga punya banyak manfaat yang baik untuk tubuh kita,” jelas Wenny kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Putri pasangan Sutikno dan Sunarsih ini menceritakan, awal mula mendapat ide membuka bisnis kuliner berbahan jamur lantaran bercita-cita memperkenalkan jamur sebagai bahan makanan yang murah dan menyehatkan. Selain itu, membantu perekonomian masyarakat pembudidaya jamur agar lebih sejahtera.

“Dari kesukaanku mengonsumsi jamur, aku berpikir bisa menghasilkan dan ikut makan. Lagian pengin memperkenalkan jamur sebagai makanan yang berkualitas. Soalnya kan jamur identik dengan makanan beracun, padahal khasiat yang ditawarkan cukup beragam,” tuturnya.

Diceritakannya, sebelum membuka bisnis tersebut, ia sampai berkeliling di beberapa pelosok desa penghasil jamur untuk mengecek ketersediaan bahan dengan tipe jamur yang berkualitas.

Bahan baku jamur memang terkadang sulit didapatkan. Untuk mengakalinya, ia sampai membudidaya sendiri di rumahnya. Hal itu ia lakoni agar dapat memproduksi aneka makanan berbahan dasar jamur meski persediaan bahan baku terbatas. Bahan baku jamur ia peroleh dari beberapa pemasok seperti Semarang, Karanganyar, Magelang, Wonosobo, dan Purworejo.

Meski budidaya jamur terbilang susah, Wenny tak lantas patah semangat. Ia melakukan berbagai hal, mulai dari membaca buku-buku mengenai budidaya jamur, sampai mempekerjakan orang yang dulunya pembudidaya jamur. Namun untuk pengontrolan, tetap ia lakukan setiap sore demi menjaga kualitas dan mendapatkan hasil yang diinginkan.

“Budidayanya gampang-gampang susah. Tempatnya gak perlu besar, yang penting kelembabapan suhu udara tetap terjaga. Pencahayaan juga harus diatur sedemikian rupa karena jamur itu sifatnya basah, jadi suka yang gelap-gelap,” ucapnya.

Di tengah kesibukan menjadi corporate secretary salah satu hotel di Semarang, ia tidak melupakan bisnis yang sedang ditekuninya. Berbagai promo serta event  yang ada, tetap dijalani demi mendekatkan bisnisnya kepada masyarakat.“Meski capek kerja di kantor, aku tetep ikut bazar sambil mempromosikan produkku lewat Instagram dan media sosial yang lain,” tuturnya.

Ke depan, anak kedua dari tiga bersaudara ini ingin membuka gerai aneka makanan berbahan dasar jamur seperti salah satu resto Jejamuran di Jogja. “Sekarang masih buka kecil-kecilan di rumah, pemasarannya juga masih lewat media sosial. Semoga usahaku semakin berkembang dan produknya dapat diterima masyarakat luas,” harapnya. (mg29/aro)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here