Terpikat Tari Bali

465
Sriyufani Kasy (DOKUMEN PRIBADI)
Sriyufani Kasy (DOKUMEN PRIBADI)

SRIYUFANI Kasy memiliki pengalaman unik mengenai tari Bali. Ia mengaku menari Bali kali pertama ketika SD kelas 6. Kebetulan saat itu, mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga ini  punya teman orang Bali.

Ketika itu, ia sering bermain ke rumahnya untuk membuat sesajen bersama-sama, bahkan ia sampai diajak menari di pura. Tarian yang kali pertama dipelajari adalah Tari Pendet, yang membuatnya harus berjuang setengah mati agar dapat menarikannya dengan baik pada saat hari besar.

“Pertama kali menari Pendet, itu sesuatu yang sangat sulit, mulai dari cara membawa bokor (mangkuk perak yang berisi bunga, Red) hingga bagaimana cara nyeledet (gerakan membuka mata lebar-lebar tanpa dikedipkan, Red). Nggak semua orang bisa nari Bali. Kalaupun bisa, ia harus bisa menyesuaikan setiap gerakan dengan ritme musiknya. Awalnya, memang sulit, tetapi ketika aku bisa rasanya senang sekali dan ingin menari lagi,” terang gadis yang akrab dipanggil Fani ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Gadis yang kini masih aktif menari bersama kelompok bakat minat Pragina Nusantara fakultasnya ini ketika menari pada awalnya merasa deg-degan, karena dia bukan orang Bali. Meski pada waktu itu terdapat sedikit kekurangan, ia merasa lega karena akhirnya bisa menari  Pendet dengan baik. Bahkan, orang-orang Bali yang melihatnya di pura tersebut menganggapnya luar biasa.  “Kali kedua menari, ya aku sudah pede,” katanya.

Gadis berdarah Toraja ini berjanji untuk tetap menari tradisional sampai kapan pun. “Aku juga ingin anak-anakku mempelajari tari tradisional,” ujarnya.

Ia mengimbau, generasi muda sekarang harus bangga dengan akar budaya sebagai orang Indonesia yang kaya akan budaya, termasuk di antaranya tari tradisional. (mg27/aro)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here