Pasar Peterongan Diharapkan Jadi Ikon

282
TINJAU PASAR : Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng Yudhi Sancoyo (dua dari kanan) saat melakukan tinjauan ke Pasar Peterongan, Selasa (14/3). Komisi B DPRD Jateng kemarin melihat langsung kondisi pasar yang juga cagar budaya tersebut serta menerima masukan pedagang. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)
TINJAU PASAR : Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng Yudhi Sancoyo (dua dari kanan) saat melakukan tinjauan ke Pasar Peterongan, Selasa (14/3). Komisi B DPRD Jateng kemarin melihat langsung kondisi pasar yang juga cagar budaya tersebut serta menerima masukan pedagang. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)

SEMARANG – Selain menjadi tempat jual beli, Pasar Peterongan, Semarang potensial dijadikan ikon wisata. Meski direvitalisasi, pasar peninggalan Belanda tersebut tetap mempertahankan bentuknya yang utuh sebagai cagar budaya. Dengan menjadikan pasar sebagai ikon, diharapkan pasar ramai pengunjung dan menguntungkan para penjualnya.

“Seperti di Surabaya, jujugan orang berbelanja pasti ke Pasar Turi atau Pasar Atom karena ikon sudah terbentuk. Saya berharap kalau ke Semarang, datangnya ke Pasar Peterongan,” ujar Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng Yudhi Sancoyo saat melakukan tinjauan ke Pasar Peterongan, Selasa (14/3).

Menurutnya dengan lokasi yang strategis, Pasar Peterongan mudah dikunjungi. Tergantung bagaimana publikasi untuk menarik wisatawan datang. Foto keunikan bangunan maupun barang dagangan yang dijual bisa diunggah di website. Mantan Bupati Blora itu berkeyakinan, hal tersebut berpotensi mendongkrak transaksi.

Dia menambahkan revitalisasi Pasar Peterongan dengan mempertahankan bentuk bangunan awal patut dicontoh kabupaten/kota lain. Sebab sebagian besar daerah mengembangkan pasar tradisional dengan merubuhkannya dan membuat bangunan baru yang modern. “Ini pasar basah tapi bersih. Saya mengapresiasi Pemkot Semarang yang mampu mempertahankan cagar budaya ini dengan baik,” katanya.

Dia mengakui masih ada beberapa keluhan pedagang yang menempati pasar tersebut. Diantaranya atap yang bocor, dan keberadaan rolling door yang menyulitkan. Namun Yudhi melihatnya sebagai proses penyesuaian yang harus disertai perbaikan. “Masukan pedagang harus didengarkan. Saya juga akan bicara keras jika kepentingan pedagang tidak diperhatikan. Sosialisasi bagaimana penataan yang dilakukan juga harus lebih sering,” katanya.

Sebelumnya, atap pasar yang bocor dan belum tergarapnya sistem drainase dikeluhkan pedagang.  Padahal pasar tradisional yang termasuk bangunan cagar budaya itu baru saja selesai direhab dengan menghabiskan anggaran Rp 29 miliar. Hal ini menjadi sorotan Komisi B DPRD Kota Semarang.  Dewan pun akan memanggil pihak-pihak terkait, baik Dinas Perdagangan Kota Semarang maupun kontraktor yang menangani proyek pasar tersebut.

Selain itu, dewan meminta masyarakat untuk terlibat aktif melakukan pengawasan. Apabila memang terindikasi terjadi penyelewengan, hasil bangunan tidak sesuai perencanaan maupun tidak sesuai spek, maka masyarakat dipersilakan melapor secara resmi disertai bukti-bukti awal.

“Kami melakukan pengecekan untuk menindaklanjuti keluhan dari pada pedagang Pasar Peterongan. Kami ingin melihat hasil pembangunan Pasar Peterongan yang menghabiskan anggaran Rp 29 miliar. Sejauh mana kondisinya, karena banyak laporan masyarakat adanya keluhan fasilitas tidak maksimal. Misalnya, atap bocor, drainase, dan lain-lain,” kata Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Agus Riyanto Slamet, saat melakukan peninjauan di Pasar Peterongan, Semarang, Senin (13/3). (ric)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here