Melongok Jemparingan di Balkondes Wringinputih

Jadi Daya Tarik Wisatawan untuk Mencintai Alam

682
ASYIK : Bupati dan sejumlah pejkabat Pemkab Magelang mencoba olahraga Jemparingan atau panahan tradisional di Balkondes Wringin putih, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU)
ASYIK : Bupati dan sejumlah pejkabat Pemkab Magelang mencoba olahraga Jemparingan atau panahan tradisional di Balkondes Wringin putih, kemarin. (MUKHTAR LUTFI/JAWA POS RADAR KEDU)

Balai ekonomi desa (Balkondes) Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, dilengkapi arena olahraga tradisional. Jenisnya panahan atau biasa disebut jemparingan.

JEMPARINGAN merupakan olahraga panahan. Yang membedakan, jemparingan terbuat dari bahan berupa bambu dan kayu. Jenis hiburan ini, melengkapi Balkondes yang ada. Sebelumnya, Balkondes hasil program BUMN ini, sudah ada bangunan utama untuk pertemuan, kemudian dilengkapi dengan musala dan kamar mandi.

Yang membedakan dari Balkondes lainnya di wilayah Kecamatan Borobudur, seluruh kerangka bangunan Balkondes memakai bambu. Sedangkan atapnya bukan genteng, melainkan dari daun rumput. Bagian belakang bangunan juga dilengkapi dengan lahan untuk berlatih jemparingan dengan jarak sasaran 50 meter.

Secara khusus, lahan untuk berlatih jemparingan ditinjau oleh Bupati Zaenal Arifin bersama sejumlah pejabat teras Pemkab Magelang. Pada kesempatan itu, orang nomor satu di lingkungan Pemkab Magelang bersama sejumlah pejabat lainnya, berlatih jemparingan.

Bupati Zaenal dampingi Asisten III Endra Wacana, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Haryono, Plt Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Iwan S, serta Camat Borobudur Nanda Cahya Pribadi. Setelah mendapatkan arahan dari Mangku Prayitno, dari Paseduluran Jemparingan Langenastra Yogyakarta, Bupati Zaenal beserta pejabat lainnya, tiga kali melesatkan anak panah.

Latihan jemparingan pun penuh canda dan tawa, mengingat mereka rata-rata baru sekali berlatih. Untuk itu, anak panah yang dilepaskan ada yang tidak sampai sasaran, bahkan meluncur hingga beberapa meter. Meksi begitu, ada juga anak panah yang persis mengenai sasaran dan terus mendapatkan applaus.

“Ini satu olahraga warisan budaya kita yang luar biasa. Jadi, bagaimana kita harus bisa memanah dengan baik, harus menyatukan diri kita, perasaan kita, hati kita dengan alam yang ada. Sehingga dengan menyatunya ini, kita bisa fokus pada satu titik dan ternyata kita harus banyak belajar, berguru dengan alam, sehingga rasa mencintai dengan alam akan muncul dengan baik,” kata Zaenal.

Terhadap jemparingan yang tengah dikembangkan Desa Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Bupati Zaenal berharap, nantinya jemparingan akan terus dikembangkan. Mengingat jemparingan menjadi daya tarik wisatawan dan bisa mengolah rasa untuk mencintai alam. “Pemerintah Desa Wringinputih, Kecamatan Borobudur, akan bekerja sama untuk meningkatkan potensi ini. Apalagi, dipawangi seorang guru dari Yogyakarta yang sangat luar biasa. Ini merupakan kehormatan yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” kata Bupati Zaenal.

Sementara itu, pelatih Mangku Prayitno yang biasa disapa Mbah Dono menambahkan, latihan jemparingan di Wringinputih telah berlangsung sekitar sebulan. “Terus terang, tujuan kami untuk menularkan kepada warga masyarakat. Untuk nguri-uri budaya saja, kalau ada perlombaan kemudian menang itu hanya efeknya saja. Tapi, terutama untuk nguri-uri kebudayaan,” kata Mbah Dono datang dari Yogyakarta bersama Agung Sumedi.

Seorang peserta latihan jemparingan, Yustri, 28, warga Wringinputih mengaku ikut latihan dan sudah mencobanya selama seminggu. “Kami berharap dari latihan jemparingan ini, nantinya bisa memandu tamu yang berkunjung di Balkondes ini,” kata Yustri. (lutvie/isk)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here