Fanny Nabiella, Bocah 6 Tahun Koleksi 110 Piala Lomba Menggambar

813
IDOLAKAN GANJAR: Fanny Nabiella bersama kedua orangtuanya serta ratusan piala hasil lomba. (SHEILA LESTARI GIZA PUDRIANISA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
IDOLAKAN GANJAR: Fanny Nabiella bersama kedua orangtuanya serta ratusan piala hasil lomba. (SHEILA LESTARI GIZA PUDRIANISA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Fanny Nabiella layak masuk rekor. Di usianya 6 tahun, dia sudah mengoleksi sedikitnya 110 piala dari sejumlah lomba menggambar dan mewarnai yang diikutinya. Bahkan, hampir setiap lomba, Fanny meraih juara. Seperti apa?

SHEILA LESTARI GIZA P

RATUSAN piala hasil lomba menggambar dan mewarnai berjajar rapi di ruang tamu rumah Fanny Nabiella di bilangan Jalan WR Supratman No 18, Semarang.  Putri pasangan Hariri dan Erika Dwiani Yulioktafia ini memiliki bakat seni menggambar dan mewarnai sejak balita.

Menurut penuturan sang ibu, Erika, darah seni Fanny mengalir dari keluarga sang ayah. Fanny sendiri tidak pernah mengikuti kursus menggambar. Ia belajar secara otodidak dibimbing oleh kedua orangtuanya.  Berbeda dengan kakak dan adiknya, lanjut Erika, sejak kecil  Fanny sudah terlihat bakatnya dalam menggambar dan mewarnai. Jika melihat ada gambar, emosinya selalu memainkan imajinasi.

Erika menceritakan, suatu hari saat saudara-saudaranya tertidur pulas, ia melihat Fanny sedang asyik membuka berbagai buku dan mewarnainya. Melihat kepandaian Fanny dalam menggoreskan tinta, kedua orangtuanya lantas mendaftarkan lomba mewarnai di DP Mall Semarang. Tanpa disangka, ia berhasil meraiah juara II dengan kategori peserta termuda, yakni 3,5 tahun.

Dari situlah awal mula bakat Fanny tersalurkan. Hingga kini, ia sudah mengoleksi piala hasil lomba mencapai 110 buah.

Fanny mengaku paling suka menggambar kupu-kupu dan bunga. Warna andalan saat mengikuti perlombaan adalah  merah jambu dan ungu. “Lomba yang paling berkesan saat peringatan Hari Pahlawan. Bahkan saking sukanya saya dengan warna pink, baju salah satu tokoh pahlawan  saya warnai pink meski badannya kekar,” kenang Fanny sambil tertawa.

Dalam sebulan, Fanny biasa mengikuti lomba minimal 6 kali. Lomba yang sering diikutinya masih sekitaran Semarang mengingat umur Fanny yang terlalu muda. Sang ibulah yang dengan setia mengantarkan Fanny mengikuti perlombaan lantaran ayahnya yang berprofesi sebagai tukang cukur tidak dapat meninggalkan pelanggannya.

Saking seringnya mengikuti perlombaan, Fanny terkadang merasa bosan dan ogah-ogahan.

Diceritakannya, beberapa kali Fanny sampai ngambek. Dia pernah berkata sudah memiliki banyak piala, sehingga tidak mau mengikuti lomba lagi. Melihat kondisi anak yang menurun, kedua orang tuanya selalu memberikan semangat dan motivasi dengan cara membelikan apa yang diinginkannya saat ini. Dengan rayuan tersebut, Fanny akhirnya mau untuk mengikuti lomba kembali.

“Tergantung mood-nya. Kalau dari awal gak mau, kami gak maksa karena pasti hasilnya tidak maksimal. Apalagi jika seminggu vakum, pertama lomba pasti akan malas-malasan. Kalau sudah gitu, permintaannya harus diturutin. Tapi sengambek-ngambeknya, dia tetap melakoni lomba kok,” ucap Erika.

Masih menurut Erika, lomba terjauh yang pernah diikuti yakni Fasi (Festival Anak Islam) yang diadakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Kota Solo pada 2016 lalu. Saat itu, Fanny ditunjuk mewakili Kota Semarang untuk lomba gambar kategori putri. Sayangnya, Fanny hanya menyabet juara III.

Selain di kertas gambar, ia sering mencoba menyalurkan bakat menggambarnya di atas kain lukis. Beberapa perlombaan dengan media kain lukis sering diikutinya, meski terkadang tidak berbuah manis lantaran lawan-lawannya dari kalangan dewasa.

“Kalau gambar di atas kain lukis, Fanny sering ngeluh, soalnya butuh tenaga ekstra. Beda kalau  di atas kertas, lebih mudan dan licin,” jelas Erika.

Dari hadiah lomba menggambar, Fanny bisa membiayai sekolah putrinya di TK Hang Tuah Semarang, termasuk membelikan perlengkapan lomba. Selain itu, beberapa mainan kesukaannya juga dibelinya dari hadiah lomba. “Sisa hadiah uang ditabung sebagai bekal pendidikan Fanny,” katanya.

Suka duka ikut dirasakan kedua orang tua Fanny saat mengikuti perlombaan. Sukanya, jika Fanny mendapatkan juara. Dukanya, menurut Erika, terkadang ada event yang kurang bertanggung jawab lantaran hadiah uang saku yang seharusnya menjadi milik Fanny tidak diberikan pihak panitia.

Hariri yang juga mendampingi Fanny saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang ikut menjelaskan, jika anaknya menjadi kebanggaan tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga sekolah. Fanny bahkan mendapatkan penghargaan oleh Ketua Yayasan Hang Tuah lantaran sering mengharumkan nama sekolahnya.

Meski memiliki bakat seni yang menonjol, Fanny sendiri bercita-cita menjadi seorang dokter. Satu hal yang terbesar yang menjadi keinginan Fanny dan belum pernah terealisasi yakni berfoto dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Antusiasme Fanny tinggi ketika melihat Ganjar Pranowo di televisi.

“Saya pengin bisa ngajak Fanny foto sama Pak Ganjar. Soalnya dia mengidolakan sekali. Orang seperti kami kan tidak memiliki akses ke sana. Semoga kalau Pak Gubernur baca bisa mengabulkan permintaan sederhana anak kami yang turut mengharumkan nama Semarang,” harapnya. (*/aro)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here