Usi Tantowi, Mantan Model yang Sukses Menjadi Konsultan Properti

Dari Reward Penjualan, Bisa Keliling Dunia

635
Usi Tantowi (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)
Usi Tantowi (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)

Konsultan properti ternyata profesi yang menantang sekaligus menggiurkan. Ini seperti yang dilakoni Usi Tantowi. Namun siapa sangka, wanita berwajah ayu ini sebelumnya adalah seorang model. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

USI Tantowi lahir di Condong Catur, Sleman, Jogjakarta. Saat masih remaja, ia dikenal sebagai gadis tomboy. Tak heran, begitu lulus SMP, ia meneruskan ke bangku STM (sekarang SMK, Red) Nusantara Kudus jurusan mesin.

“Saya sekolah dibiayai oleh perusahaan Djarum,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Meski gadis tomboy, wanita 33 tahun yang akrab disapa Usitan ini justru  menjadi model. Ia banting setir menjadi model secara tak sengaja. Ceritanya, saat itu ia mengantarkan sahabatnya mengikuti audisi model di Jakarta. Namun pihak agensi model justru meminta dirinya mengikuti audisi.

Alhamdulillah saya lolos audisi. Sejak itu, saya kerap menjadi model pemotretan,” kenangnya.

Wajahnya pernah menghiasi sejumlah majalah nasional, seperti Popular, Liberty dan Tempo.  Setelah terjun di dunia model, pada 1998, ia berganti profesi menjadi instruktur senam. Tak heran, jika Usitan memiliki bentuk tubuh yang padat berisi. Sebab, dia rajin senam. “Saya menjadi instruktur senam selama tiga tahun hingga 2001,” akunya.

Usitan sempat membina rumah tangga. Namun pada 2006, ia terpaksa bercerai dari suaminya. Ibunda Angels Lina A ini lantas merintis usaha salon spesialis sambung rambut. Selain usaha salon, Usitan yang single parent juga bekerja di perusahaan pialang saham bernama Milenium Penata Futures dengan posisi public relations (PR) hingga 5 tahun.

Selepas dari perusahaan pialang ini, ia berkarir sebagai marketing asuransi AIG Semarang. Tak puas di karirnya tersebut, pada 2013, ia mulai masuk bisnis properti di perusahaan Land Lord Property.

“Di sini (Land Lord,red) saya mulai merasakan kenyamanan, yang awalnya posisi marketing, kemudian naik menjadi manager marketing (MM) hingga sekarang sebagai konsultan properti,” ujar Usitan.

Perlahan-lahan kehidupannya mulai membaik. Awalnya, ia kontrak rumah, hingga akhirnya bisa membeli rumah sendiri. Bukan hanya rumah, ia juga investasi tanah dan mobil. Semua itu diperolehnya setelah fokus menekuni bisnis properti.  Ia juga kerap berwisata ke luar negeri dan kota-kota di Indonesia sebagai reward dari penjualan properti tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun.

“Kalau bisnis saham, biasanya saya yang dapat uang, tapi kadang orang lain kehabisan. Sementara saya masih punya sisi orang desa, yakni tepo seliro dan melas, apalagi pesan ibu saya (Endang Erawati) selalu terngiang, yakni kalau niat baik sama orang dan punya hati yang tulus, pasti bisa terwujud,”ungkapnya.

Di bisnis properti, lanjut Usitan, ia bisa mendampingi klien dari akad kredit hingga notaris, yang semuanya terfokus agar konsumen benar-benar puas. Adapun konsep yang selalu ia terapkan adalah pergi pagi pulang pagi hanya untuk jualan properti. Selain itu, kantor adalah keluarga kedua, dan keluarga pertama anak dan ibunya.

“Aku itu ibarat sopir angkot, kemana-mana nyetir sendiri, makanya aku terapkan kalau mau hidup enak, harus tanggung sendiri dan pikul sendiri. Aku juga selalu berpesan kepada anak, nanti jangan terlalu mengantungkan suami, melainkan harus berjuang bersama,”katanya.

Usitan mengakui, selama bekerja di properti pernah mengalami masa down. Sebab, ia sempat banyak menerima cacian dan cibiran-cibiran begitu closing penjualan. Ia juga kerap diajak menikah oleh para konsumen yang ditemuinya. Namun ia selalu menjadikan semua itu sebagai motivasi, karena menurutnya semakin banyak dicibir dan semakin banyak dijatuhkan, maka ia justru selalu ingat masih memiliki anak yang harus diperjuangkan. Ia juga merasa senang begitu perusahaannya dipimpin Cik Fang-Fang perlahan mulai nyaman dan membaik.

“Jadi, kalau sedang capek, down, saya selalu ingat anak, bagaimanapun dengan tanganku sendiri, saya bisa akan angkat segalanya untuk memperhatikan dan membesarkannya,”ujarnya.

Menurutnya, untuk menjadi seorang marketing, khususnya di bisnis properti, cantik saja tidak menjamin bisa berhasil. Karena ada seorang cacat mental juga sukses. Semua itu membutuhkan kerja keras, jangan angkuh dan egois, serta selalu melayani apa yang konsumen minta dan diinginkan. Hanya saja, tetap dalam batas-batas normal dan wajar.

“Biasanya orang yang cocok di marketing jiwanya yang penuh inspiratif dan suka tantangan. Kalau monoton, susah jadi marketing. Kalau saya memang selalu gali pengalaman dan belajar dari pengalaman,”tandasnya.

Usitan mengaku saat kali pertama menjadi marketing, baru satu tahun bekerja sudah bisa kredit rumah. Kemudian dua bulan baru bisa closing. Sekarang dua minggu saja sudah bisa closing. Adapun sejumlah keberhasilan yang diraihnya di bisnis properti, seperti menjual apartemen hingga 25 unit di Candi Land, rumah sebanyak 10 unit, ruko 2 unit, ‎sewa apartemen 8 unit, sewa rumah di Graha Padma 2 unit, dan masih banyak lagi.

Penjualan rumah dengan nilai fantastis juga pernah dialami konsultan properti kelahiran Sleman, 3 Desember 1983 ini. Ia mengaku pernah menjual rumah dengan harga paling murah Rp 200 juta di Perumahan Villa Aster, Srondol Kulon, Banyumanik. Sedangkan paling tinggi pernah menjual tanah di daerah Pringapus, Kabupaten Semarang hingga Rp 30 miliar dengan waktu hanya sekitar 6 bulan. Dari setiap penjualan properti itu, tentu saja Usitan mendapatkan bonus yang tidak kecil.

Strategi yang selalu dilakukannya adalah jualan pakai otak, hati, perut dan nafsu. Artinya, menggunakan otak adalah jualan pakai logika. Sedangkan hati menggunakan kesenangan, karena semua orang butuh kesenangan. Perut berbicara kepada kebutuhan, sehingga orang tidak beli, maka akan merugi.

“Kalau jualan pakai nafsu berbicara dengan emosi, jadi bukan diajak tidur. Melainkan orang kalau sudah kepengin, sudah kebelet, tanpa gunakan logika,  biasanya langsung beli,”katanya sambil tersenyum. (*/aro)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here