Rekonstruksi Penganiayaan Diklatsar Mapala UII

376
REKONSTRUKSI: Tersangka yang digantikan petugas Polres Karanganyar memperagakan tindak kekerasan dengan menendang peserta Diklatsar The Great Camping XXXVII Mapala Unisi UII di Telogodringo, Gondosuli, Karanganyar, Senin (13/3). (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)
REKONSTRUKSI: Tersangka yang digantikan petugas Polres Karanganyar memperagakan tindak kekerasan dengan menendang peserta Diklatsar The Great Camping XXXVII Mapala Unisi UII di Telogodringo, Gondosuli, Karanganyar, Senin (13/3). (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)

TAWANGMANGU – Penyidik Polres Karanganyar menggelar rekonstruksi kasus meninggalnya tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta dalam Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Mapala Unisi di Telogodringo, Gondosuli, Karanganyar, Senin (13/3). Dua tersangka, Angga Septiawan dan Muhammad Wahyudi, tidak hadir dalam rekonstruksi sehingga perannya digantikan petugas Polres Karanganyar. Peran ketiga korban juga digantikan oleh polisi.

Rekonstruksi dimulai dari adegan kedatangan para peserta The Great Camping (TGC) XXXVII di Tlogodringo pada 14 Januari 2017, dan selanjutnya berbaur dengan warga. Mereka kemudian berkumpul di lapangan yang telah ditunjuk oleh panitia kegiatan. Di lapangan itulah, para peserta mulai mendapatkan penganiayaan yang dilakukan oleh panitia operasional dan 2 tersangka.

Setelah para peserta berkumpul, salah satu koordinator operasional yakni Andre Tohir mengatakan kepada peserta : “Selamat datang di lembah penyiksaan. Di sini hak kalian kami cabut!”. Operasional merupakan sebutan untuk para senior.

Selama berada di wilayah tersebut, para peserta diklatsar menerima kekerasan dan penganiayaan. Para peserta disuruh untuk jongkok dan merayap. Saat merayap itulah korban M Fadli mendapatkan penganiayaan dari tesangka Angga. Saat ditanya apakah masih kuat, M Fadhli mengaku tidak kuat dan ingin mengundurkan diri. Mengetahui jawaban Fadli, Angga selanjutnya menganiaya dengan menampar dan memukul bagian perut Fadli.

Penganiyaan terus berlangsung saat menuju ke flying camp. Wahyudi yang juga ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tersebut juga melakukan penganiayaan dengan menendang dada salah satu peserta bernama Kevin hingga tersungkur. Kevin ditendang karena saat itu dirasa lamban dalam membuat flying camp. Wahyudi juga menampar sejumlah peserta. Tersangka juga terlihat membanting salah satu peserta ala smackdown.

Saat pelaksanaan materi survival dan mountainering, Fadli sudah terlihat lemas. Ia selanjutnya ditarik keluar dari barisan oleh para tersangka dengan cara diseret. Korban lain, Syaits Asyam dan Ilham Nurfadmi Listia Adi, juga tidak kuat lagi mengikuti diklatsar yang penuh tindak kekerasan.

Wakapolres Karanganyar Kompol Prawoko mengungkapkan, proses rekonstruksi diikuti sedikitnya 50 orang. Mereka adalah panitia, peserta diklatsar selaku saksi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Karanganyar, Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK), Tim Pencari Fakta (TPF) internal dari UII, serta penasihat hukum.

“Total ada 55 adegan yang diperagakan dalam rekonstruksi tersebut. Dan itu sesuai dengan hasil dari penyidikan yang kita lalukan bersama tim penyidik. Nantinya JPU bakal mempelajarinya kembali, untuk nantinya diproses sidang,” kata Prawoko.

Menurut Wakapolres, dari 55 adegan yang diperagakan, tersangka Angga dan Wahyudi mendominasi aksi kekerasan terhadap para korban. Dan hampir semua tindakan yang dilakukan oleh dua tersangka mengarah pada penganiayaan.

Saat ditanya dengan adanya kekerasan yang dilakukan oleh panitia operasional terhadap peserta, Prawoko belum melakukan proses pemeriksaan lebih lanjut. Penyidik masih fokus pada 2 tersangka yang saat ini masih ditahan di Polres Karanganyar.

“Memang ada beberapa yang dilakukan oleh panitia opersional, tapi itu hanya pelengkap dalam rekonstuksi dan masih kita dalami. Yang jelas dalam rekonstruksi tersebut dilakukan untuk mencocokkan keterangan peserta dan untuk melengkapi dokumen berkas para tersangka,” katanya.

Orangtua salah satu korban M Fadli, Edy Suryanto yang hadir dalam rekonstruksi merasa kecewa dengan ketidakhadiran para tersangka. “Saya ingin melihat langsung wajah tersangka itu seperti apa. Mesti kemarin saya sempat melihat saat pemeriksaan, tapi itu kurang jelas,” kata Edy.

Hal senada juga diungkapkan orang tua Ilham Nurfadmi Listia Adi, Syafi’i. “Padahal saya ingin melihat langsung wajah-wajah sadis yang telah mengakibatkan tiga orang meningal dunia itu. Saya juga tidak akan melakukan apa–apa, kalaupun dua tersangka itu dihadirkan, saya hanya ingin melihat seperti apa mereka, kok bisa seenaknya memperlakukan anak orang seperti itu,” jelas Syafi’i.

Kasatreskrim Polres Karanganyar AKP Rohmat Ashari mengaku sengaja tidak mendatangkan kedua tersangka lantaran adanya beberapa pertimbangan. Pihaknya tidak mau kalau dalam rekonstruksi tersebut, saksi mata dari para peserta tidak bisa leluasa dan terbuka untuk memberikan keterangan dalam rekonstruksi.

“Ini memang sudah menjadi teknis dari proses penyidikan. Kami (penyidik, red) tidak mau ada hal yang ditutup – tutupi dari para peserta, dan agar proses rekonstruksi itu berjalan sesuai dengan proses penyidikan terhadap para peserta,” kata Rohmat. (rud/jpg/ton)

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here