Ratusan Warga Dilibatkan dalam Kirab Budaya

468
PERAYAAN ULANG TAHUN : Beberapa hasil bumi warga yang dipamerkan dalam kirab budaya dalam rangkaian perayaan HUT Kabupaten Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERAYAAN ULANG TAHUN : Beberapa hasil bumi warga yang dipamerkan dalam kirab budaya dalam rangkaian perayaan HUT Kabupaten Semarang, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Ratusan warga memeriahkan arak-arakan budaya di sepanjang jalan kabupaten di Desa Peger Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Semarang, Senin (13/2) kemarin. Mereka tampak rela berdandan sedemikian rupa untuk memeriahkan Kirab Budaya yang menampilkan kreativitas seni dan hasil bumi warga Kecamatan Kaliwungu.

Berbagai usia dari tua maupun muda ikut andil dalam perhelatan tersebut. Kades Pager, Wahid Hasyim mengatakan kirab dimulai sejak pukul 06.30. “Warga sekitar juga antusias untuk menonton kirab budaya,” ujar Wahid.

Berbagai hasil bumi dalam kirab dipamerkan oleh warga dengan menggunakan kendaraan roda empat. Bahkan, ada pula bentuk kesenian masyarakat yang ikut ditampilkan. Hasil bumi seperti sayuran dan palawija yang berbentuk gunungan diarak warga menggunakan roda empat.

Beberapa dari mereka juga berdandan khas prajurit kerajaan tempo dulu. Ratusan kendaraan roda empat terlihat meramaikan kirab tahunan tersebut. Adapula kelompok pemuda yang berdandan mengenakan beskap hitam dan memainkan alat gamelan.

Salahsatu warga Desa Pager, Siti Suhartini (47) yang melihat kirab tersebut mengaku terhibur. “Tahunya saya, ini kirab untuk peringatan HUT Kabupaten Semarang,” katanya.

Camat Kaliwungu, Otter Sukamto menjelaskan bahwa kirab budaya tersebut digelar guna menyemarakkan HUT Kabupaten Semarang yang ke-549. Kirab diawali dari Desa Pager Kecamatan Kaliwungu dan akan berakhir di Alun-Alun Bung Karno Kecamatan Ungaran Timur. “Mulainya dari Desa Pager itu hari ini,” ujarnya.

Setiap kecamatan akan mengirimkan delegasinya. Sehingga saat melintas ke kecamatan lain jumlah peserta arak-arakkan akan terus bertambah. “Puncaknya di Alun-alun Bung Karno pada Rabu (15/3) besok,” ujarnya.

Dijelaskan Otter, dipilihnya Desa Pager sebagai titik awal kirab karena secara geografis, letak desa di ujung selatan dan berbatasan langsung dengan wilayah lain yaitu Kabupaten Boyolali.

Sedangkan arak-arakkan akan dilakukan selama tiga hari dua malam dan akan terus menyambung di setiap kecamatan hingga sampai ke Alun-Alun Bung Karno Kecamatan Ungaran Timur. “Desa Pager pernah dijadikan pusat pemerintahan sementara Kabupaten Semarang pada tahun 1947 hingga 1950 atau saat Belanda melakukan agresi militer,” lanjutnya.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Otter, saat menjadi pusat pemerintahan sementara, rumah warga milik Desa Pager yaitu Siswo Sumarto menjadi kantor Bupati Semarang. Selain itu, beberapa rumah lain yang lokasinya tidak jauh dari kediaman Siswo Sumarto, masih satu desa digunakan sebagai kantor dinas Pemerintah Kabupaten Semarang saat itu. “Sisi historis itulah yang menjadikan Desa Pager sebagai titik awal dilakukannya kirab budaya,” katanya.

Dikatakan juga, Desa Pager juga pernah menjadi tempat singgah Pangeran Puger atau Sri Susuhunan Paku Buwono I saat melawan VOC (Belanda) dari Kartasura hingga Grobogan. “Pengeran Puger dan pasukannya ditempatkan di tempat penyimpanan gabah kering untuk menghindari kejaran pasukan Belanda saat itu,” tuturnya.

Untuk mengenang kisah perjuangannya, kemudian dari nama Pangeran Puger tersebut diabadikan menjadi nama desa, yaitu Desa Pager. Otter juga berharap, kirab budaya tahunan tersebut dapat menjadi tontonan yang menarik warga lokal maupun luar Kabupaten Semarang. (ewb/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here