Dewan Panggil Kontraktor

Revitalisasi Pasar Peterongan

275
SIDAK: Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Danur Rispriyanto (tengah), menunjukkan atap Pasar Peterongan yang bocor didampingi Kepala Bidang Pengembangan Sarana dan Prasarana Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Nur Kholis, saat sidak, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDAK: Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Danur Rispriyanto (tengah), menunjukkan atap Pasar Peterongan yang bocor didampingi Kepala Bidang Pengembangan Sarana dan Prasarana Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Nur Kholis, saat sidak, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Revitalisasi Pasar Peterongan Semarang menyisakan masalah. Sejumlah fasilitas pasar masih ditemukan ketidakberesan. Di antaranya, kondisi atap bocor dan belum tergarapnya sistem drainase di lingkungan pasar.  Padahal pasar tradisional yang termasuk bangunan cagar budaya ini baru saja selesai direhab dengan menghabiskan anggaran besar mencapai Rp 29 miliar. Hal ini menjadi sorotan Komisi B DPRD Kota Semarang.  Dewan pun akan memanggil pihak-pihak terkait, baik Dinas Perdagangan Kota Semarang maupun kontraktor yang menangani proyek pasar tersebut.
Selain itu, dewan meminta masyarakat untuk terlibat aktif melakukan pengawasan. Apabila memang terindikasi terjadi penyelewengan, hasil bangunan tidak sesuai perencanaan maupun tidak sesuai spek, maka masyarakat dipersilakan melapor secara resmi disertai bukti-bukti awal.
“Kami melakukan pengecekan untuk menindaklanjuti keluhan dari pada pedagang Pasar Peterongan. Kami ingin melihat hasil pembangunan Pasar Peterongan yang menghabiskan anggaran Rp 29 miliar. Sejauh mana kondisinya, karena banyak laporan masyarakat adanya keluhan fasilitas tidak maksimal. Misalnya, atap bocor, drainase, dan lain-lain,” kata Ketua Komisi B DPRD Kota Semarang, Agus Riyanto Slamet, saat melakukan peninjauan di Pasar Peterongan, Semarang, Senin (13/3).
Pengecekan dilakukan untuk mengetahui bagaimana kondisi fisik hasil pembangunan, fasilitas-fasilitas apa saja yang selama ini dikeluhkan, termasuk mengurai siapa pihak yang seharusnya bertanggungjawab. Jika itu merupakan tanggungjawab kontraktor, lanjut dia, maka kontraktor harus memperbaiki.

“Tapi kalau memang di luar tanggungjawab kontraktor, kami dorong agar pemerintah menganggarkan lagi. Karena mungkin ada beberapa fasilitas yang memang belum dibangun. Misalnya, drainase yang berada di luar bangunan,” ujarnya.

Ada beberapa bagian yang mungkin dulu tidak dianggarkan. Alokasi anggaran Rp 29 miliar itu, kata Agus, digunakan untuk pembangunan Pasar Peterongan tiga lantai. Tapi dalam perkembangannya, Detail Engineering Design (DED) berubah karena pertimbangan kebutuhan terkait bangunan cagar budaya.

“Waktu itu, awalnya akan dibangun 3 lantai, tapi dalam perkembangannya ada perubahan DED karena terkait kepentingan merawat bangunan cagar budaya. Sehingga DED mengalami perubahan menjadi 1 lantai. Komisi B selama perubahan DED tidak ada komunikasi. Tahu-tahu bangunan sudah jadi seperti ini, 1 lantai,” katanya.

Meski dibangun 1 lantai, kata dia, tetapi anggarannya tetap Rp 29 miliar yang sedianya untuk tiga lantai. Makanya, pihaknya perlu melihat untuk mengetahui siapa yang harus bertanggung jawab. Prinsipnya, kontraktor harus melakukan tugas-tugasnya. “Alasannya, karena pembangunan cagar budaya ini membutuhkan biaya besar untuk pemugaran sesuai dengan kebutuhan aturan cagar budaya itu sendiri,” ujarnya.

Pihaknya juga mempersilakan masyarakat turut mengawal dan melakukan pengawasan. Apabila memang ditemukan indikasi penyelewengan dipersilakan melapor secara resmi. “Monggo saja, itu hak masyarakat untuk turut terlibat dalam pengawasan. Apabila ada indikasi kecurangan yang dilakukan kontraktor. Misalnya, kontraktor terindikasi melanggar perencanaan dan hasil bangunan tidak sesuai spek, terindikasi korupsi ya monggo, silakan saja (dilaporkan),” tegasnya.
Namun demikian, Agus meminta agar masyarakat tidak asal menuduh. Tentunya harus disertai bukti-bukti awal. “Sebelum melapor kan harus ada data pendukung terlebih dahulu. Kalau tidak ada data pendukung kemudian melaporkan kan sama saja cari-cari masalah saja,” katanya.
Fokus sekarang ini, kata Agus, persoalan yang terjadi harus diselesaikan. Jika memang perlu dianggarkan, pihaknya mendukung Dinas Perdagangan Kota Semarang menganggarkan di anggaran 2018, “Syukur bisa diajukan di anggaran perubahan 2017,” ujarnya.

Agus mengakui, masih banyak persoalan di Pasar Peterongan yang mestinya dicarikan solusi. Misalnya, terkait jumlah pedagang dan kapasitas pasar bangunan baru

“Berdasarkan informasi dari Pak Nur Kholis (Kepala Bidang Pengembangan Sarana dan Prasarana Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Semarang), pasar ini hanya bisa menampung sebanyak 500 pedagang, padahal di luar itu ada 1.500 pedagang. Ini masih menjadi dilema dan PR kami bersama, baik Komisi B dan Pemerintah Kota Semarang agar penataan pedagang bisa dilakukan dengan baik,” katanya.

Karena itu, persoalan-persoalan harus bisa dipetakan agar segera dilakukan penanganan. Jika memang diperlukan pembangunan, bisa segera dianggarkan. “Mungkin nanti bisa dibangun bangunan baru di sisi mana, ya bisa dianggarkan kembali,” ujarnya.

Kepala Bidang Pengembangan Sarana dan Prasarana Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Nur Kholis, mengatakan, terkait masalah atap bocor, pihaknya mengaku telah melakukan pengecekan. Berdasarkan hasil pengecekan ditemukan persoalan-persoalan baru. “Di antaranya diperlukan adanya tanggul-tanggul kecil yang ada di bagian atas bangunan,” katanya.

Dijelaskan, kondisi talang konstruksi lama tidak sesuai dengan kebutuhan sekarang. “Talang yang dulu, sesuai konservasinya kan desainnya ke bawah. Pada saat itu mungkin lancar. Tapi dengan adanya bangunan baru dengan kondisi talang lama masih dipertahankan, tidak mampu menahan beban air. Apalagi kondisinya berkelok-kelok, sehingga saat terjadi hujan deras, airnya meluber,” jelasnya.

Saat ini, pihaknya mengaku telah melakukan respons untuk melakukan upaya penanganan. Di antaranya, pihaknya mengusulkan agar ditambahkan adanya tanggul-tanggul kecil kurang lebih setinggi 8 – 10 sentimeter di tepi saluran air di atas atap bangunan. “Ini untuk mengantisipasi melubernya air saat hujan deras. Prinsipnya, akan kami benahi agar air tidak terjun ke bawah,” kata dia.
Salah satu pedagang, Alfisah mengatakan, pedagang mengeluhkan masalah atap yang bocor. Terutama saat hujan deras. “Kami seringkali kewalahan mengemasi barang dagangan saat hujan tiba-tiba turun. Sebab, jika hujan deras, air masuk ke dalam pasar hingga menimbulkan banjir. Kalau tidak hujan, kondisinya memang bersih dan nyaman,” ujarnya. (amu/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here