Bianda Khaerana Komala, Mahasiswi Muda Jago Rias Wajah

Dimintai Bantuan Merias Anak-Anak Cina, Kini Jadi Keterusan

315
MERIAS: Bianda Khaerana Komala sangat telaten merias wajah salah satu pelanggannya. (kanan) Bianda foto bersama rekan-rekannya sesama penerima tamu dalam sebuah acara pernikahan. (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
MERIAS: Bianda Khaerana Komala sangat telaten merias wajah salah satu pelanggannya. (kanan) Bianda foto bersama rekan-rekannya sesama penerima tamu dalam sebuah acara pernikahan. (DOK PRIBADI FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

Di usia yang masih terbilang muda, 19 tahun, Bianda Khaerana Komala, mahasiswi Undip Semarang semester enam ini sudah jago dalam berbisnis make up. Seperti Apa?

HARIYANTO
MEMILIKI bakat merias wajah sejak usia muda belia, Bianda Khaerana Komala, 19, patut diapresiasi. Terlebih, bakat tersebut berkembang secara otodidak. Bahkan, bakat tersebut telah menjadi ladang bisnis yang menjanjikan.

”Ya, sudah dua tahun saya buka bisnis usaha make up atau merias wajah. Tepatnya, sejak awal 2016 sudah mulai menjalankan usaha ini,” ungkap mahasiswi semester 6 Fakultas Psikologi Undip kepada Jawa Pos Radar Semarang kemarin.

Bianda –sapaan akrabnya- awal memiliki bakat ini ketika masih awal kuliah di Undip Semarang. Saat itu, ia sedang bersama teman-teman mahasiswa lainnya mengikuti pertukaran pelajar di Negara Tirai Bambu pada 2015. Di negara Cina tersebut, secara tidak sengaja ditunjuk untuk merias anak-anak warga setempat yang akan tampil pada sebuah pentas pertunjukan.

”Saya disuruh membantu merias wajah. Kala itu, ada sekitar 10 anak. Anak-anak ini mau tampil pertunjukan dengan membawakan dongeng cerita Malin Kundang. Saya disuruh merias wajah, ternyata bisa,” katanya.

Dari situlah, gadis kelahiran Jogjakarta 30 September 1997 ini, mulai mengasah keterampilannya dengan cara mengikuti kursus kurang lebih 10 kali pertemuan. Hingga akhirnya, bakat tersebut bisa disalurkan dan menjadi peluang usaha sampai sekarang. ”Mulai dari situ aku mulai membuka usaha ini. Ya memang, awalnya ada rasa grogi, pasti ada. Tapi lama-kelamaan enjoy dan lancar juga,” katanya.

Bisnis tersebut dirasakan terasa mudah dijalankan, saat menggandeng beberapa rekannya. Pundi-pundi rupiah mulai dihasilkan terlebih ketika musim wisuda kuliah. Menurutnya, setiap hari dirinya bisa merias wajah sampai empat orang dengan peralatan yang ada.

”Kalau pas musim wisuda, sangat ramai. Contohnya kalau pas di Undip ada wisuda yang biasanya dua kloter. Jadi paling aku hanya merias empat orang. Kalau lebih empat orang, sudah capek rasanya,” ujarnya.

Selain memanfaatkan momentum wisuda, Bianda juga menjalankan bisnis tersebut dengan sistem jemput bola. Yakni datang dari rumah ke rumah pelanggan yang sebelumnya telah menghubunginya. Menurutnya, jemput bola tersebut sebagai bagian untuk memberikan servis lebih kepada pelanggannya.

”Kadang kalau ada pelanggan yang mau datang ke acara hajatan, pasti akan menghubungi. Kami tinggal datang ke rumahnya saja. Jadi pelanggan tinggal duduk di rumah, kami datang merias,” katanya.

Namun melakukan bisnis dari rumah ke rumah, ada banyak suka dan dukanya. Meski begitu, justru hal itu membuatnya semakin tertantang dalam menjalankan usaha. ”Kalau sukanya memang sudah dari hobi. Kalau lainnya kesasar ketika datang ke tempat pelanggan. Pernah waktu mau merias mahasiswa UNNES yang hendak diwisuda, sempat kesasar. Ada juga, begitu datangnya pas, kami tergesa-gesa, ternyata pelanggan sudah menunggu,” kenangnya.

Atas keuletannya, kini ia memiliki pelanggan loyal yang tersebar di beberapa daerah seperti di Jogjakarta dan Magelang. Selain itu, ia juga mengaku pernah merias wajah istri dari salah satu pejabat Kota Semarang. Perempuan tersebut ceritanya hendak menghadiri acara pernikahan koleganya. ”Pernah, lupa namanya. Beliau mau menghadiri acara pernikahan. Saya yang make up,” terangnya.

Lanjut Bianda, hasil jerih payah dari keringatnya tersebut sangat membantunya meringankan beban orang tuanya. Meskipun beban biaya kebutuhan untuk mengejar mata kuliah, masih didapat dari kedua orang tuanya. Sedangkan pundi-pundi rupiah yang dihasilkan, sebagian dipakai untuk ditabung dan dipergunakan membeli peralatan bisnisnya.

”Hasilnya lumayan bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga. Sebagian saya tabung, sebagian bisa buat beli peralatan make up. Sebab banyak peralatan make up ada lebih 10 jenis, ya ada bedak, make up, lipstik harganya ya di atas Rp 200 ribuan,” katanya.

Bianda mengakui, bisnis yang dijalaninya ini tidak mengganggunya dalam menuntut ilmu pendidikan akademiknya. Bahkan, ia juga sering mengikuti kegiatan-kegiatan seminar terkait bisnis di kampus-kampus perkuliahan. ”Saya juga buka kelas make up, kadang jadi pembicara seminar juga,” jelasnya.

Gadis yang sudah menginjakkan kakinya di Semarang sejak awal Sekolah Menengah Atas (SMA) Semesta di Kota Semarang ini, akan terus mengembangkan usahanya yang bernama Make Up Artist (MUA). Bahkan hobinya tersebut mendapatkan dukungan dari orang tuanya.

”Ke depan juga ingin membuka bisnis wedding. Beruntung selalu mendapat support dari orang tua (ortu). Ibu saya dulu juga kursus make up juga. Tapi hanya untuk keperluan diri sendiri,” pungkas gadis yang tinggal indekos di Kecamatan Tembalang. (*/ida/ce1)

Dapat Dukungan Ortu, Ingin Buka Bisnis Wedding

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here