3.000 Pedagang Yaik Segera Direlokasi

241

SEMARANG – Menyusul setelah perubahan Detail Engineering Design (DED) Pasar Johar yang akan dibangun 4 lantai disepakati, tahap-tahap untuk proses pembangunan Pasar Johar dikebut. Lebih dari 3.000 pedagang Pasar Yaik Baru akan segera direlokasi. Sedangkan bangunan Pasar Yaik Baru akan segera dirobohkan untuk kemudian dibangun dan dikembalikan fungsinya sebagai alun-alun Kota Semarang.

”Pedagang Pasar Yaik Baru akan kami relokasi di sekitar MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah). Jumlah pedagang yang akan kami relokasi lebih dari 3.000 pedagang,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (12/3) kemarin.

Pihaknya merencanakan, Sabtu 18 Maret mendatang mulai melakukan sosialisasi pedagang Pasar Yaik Baru. Sosialisasi ini perlu segera dikebut, mengingat proyek pembangunan Pasar Johar saat ini dalam proses lelang. Penanganannya di bawah kewenangan Dinas Tata Ruang Kota Semarang (DTRK).

”Kemungkinan akan mulai dibangun sekitar bulan Mei-Juni mendatang. Tahap pertama nanti menata bagian depan dulu, bisa Johar Tengah dulu, atau Johar Utara, tergantung pemenang lelang. Pembangunan ini membutuhkan anggaran yang luar biasa besar, yakni berkisar Rp 650 miliar hingga Rp 700 miliar,” kata Fajar.

Tugas Dinas Perdagangan Kota Semarang, kata dia, yakni menangani relokasi pedagang, termasuk menyiapkan tempat dan anggaran yang dibutuhkan untuk relokasi. ”Kami sudah menyiapkan anggaran relokasi. Lokasi relokasi di MAJT, saat ini juga sudah proses lelang. Mengingat jumlah pedagang sangat banyak, maka kami butuh waktu sosialisasi kurang lebih tiga kali pertemuan,” katanya.

Saat ini, lanjut Fajar, pihaknya telah menyiapkan anggaran relokasi. Di antaranya, anggaran untuk sewa lahan Rp 650 juta dan untuk pembangunan fisik Rp 19.350.000.000. ”Mudah-mudahan, Desember mendatang, semua pedagang Pasar Yaik Baru sudah tertampung dan menempati di tempat relokasi baru di sekitar MAJT. Diharapkan, tahun ini sudah tidak ada pedagang yang menempati lokasi tersebut. Artinya, Pasar Yaik Baru sekarang, sudah harus dikosongkan untuk dibongkar,” katanya.

Kendati begitu, Pasar Yaik Baru akan segera dibongkar setelah pembangunan lokasi relokasi di MAJT siap ditempati. Untuk pembangunan tempat relokasi ini, kata Fajar, sekarang proses lelang. Kemudian segera dibangun di sebelah MAJT. ”Setelah pedagang Pasar Yaik Baru ini direlokasi, nantinya Pasar Johar menjadi satu kesatuan,” katanya.

Sedangkan bangunan Pasar Yaik Baru akan dibongkar dan dibangun untuk dikembalikan sebagaimana fungsi awalnya, yakni sebagai Alun-Alun Kota Semarang. ”Keterlibatan kami menangani dan menyiapkan relokasi. Data-data yang kami sajikan ke Dinas Tata Ruang sudah sesuai yang kami validasi. Sedangkan pembangunan fisik Pasar Johar ditangani oleh Dinas Tata Ruang,” katanya.

Ketua Paguyuban Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Pasar Johar Semarang Surahman mengatakan, sebelumnya pihak pedagang memprotes DED Pasar Johar dibangun 6 lantai, dan meminta dibangun 3 lantai. Tapi saat ini telah menyepakati alternatif perubahan DED baru, yakni dibangun 4 lantai.

”Sudah klir, kami sudah menyepakati perubahan DED baru, yakni dibangun 4 lantai. Prinsipnya lantai 1-3 digunakan untuk pedagang. Sedangkan lantai 4 untuk fasilitas pendukung,” katanya.

Setelah disepakati bersama-sama, lanjut Surahman, diharapkan proses pembangunan Pasar Johar baru ini segera dimulai. Sehingga bangunan baru nantinya bisa segera ditempati oleh para pedagang. ”Untuk teknis dan lain-lain nantinya seperti apa belum dibicarakan,” imbuh dia.

Sekretaris Dinas Tata Ruang Kota Pemkot Semarang, Irwansyah membenarkan, saat ini proyek pembangunan Pasar Johar sedang proses lelang. Untuk selanjutnya, proses pembangunan fisik segera dimulai. ”Diperkirakan, Mei mendatang sudah bisa dimulai. Anggaran pembangunan tahap pertama (2017) disiapkan Rp 50 miliar. Selanjutnya menggunakan anggaran multiyears 2018-2019, di-support dari pemerintah pusat.

Pembangunan tahap pertama, dilakukan di bangunan utama Pasar Johar Bangunan Cagar Budaya terlebih dahulu. Baru kemudian bangunan-bangunan lain, termasuk bangunan yang 4 lantai dan alun-alun.

”Alun-alun dibangun seluas 10.000 meter persegi/1 hektare. Di bawah alun-alun, separuh digunakan untuk lahan parkir dan sebagian lagi digunakan untuk pedagang,” katanya.

Di posisi Johar Selatan, kata Irwansyah, dibangun tiga lantai, ada jarak antara bangunan Johar Cagar Budaya, dengan bangunan baru sekitar 5 meter. Kemudian di posisi Pasar Kanjengan adalah bangunan yang sebelumnya dipermasalahkan karena akan dibangun 6 lantai, kemudian diubah menjadi 4 lantai. Peruntukannya, lantai 1-3 untuk pedagang pasar, dan lantai 4 digunakan sebagai gedung servis.

”Di antaranya kantor pengelola, penitipan anak, pujasera dan lain-lain. Termasuk gedung parkir, di situ juga ada. Secara garis besar perubahannya seperti itu,” terang Irwansyah. (amu/ida/ce1)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here