Melongok Kampung Jawi Kelurahan Sukorejo, Gunungpati

Biasakan Anak Berkomunikasi dengan Krama Inggil

709
MENJAGA TRADISI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat mengunjungi Kampung Jawi Sukorejo disuguhi musik gamelan. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENJAGA TRADISI: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saat mengunjungi Kampung Jawi Sukorejo disuguhi musik gamelan. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Bahasa Jawa Krama Inggil kian tergerus zaman. Tak banyak penduduk asli Jawa menguasai bahasa paling halus ini. Kampung Jawi, Kelurahan Sukorejo, Gunungpati, relatif konsisten membudayakan Bahasa Jawa Krama Inggil sejak anak-anak. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

 

PERKEMBANGAN teknologi membuat peradaban zaman berubah. Banyak tradisi leluhur pelan-pelan luntur hingga lenyap digilas kereta peradaban zaman. Begitu pun Bahasa Jawa Krama Inggil dan tata tulis huruf Jawa yang kian tergerus waktu dan pelan-pelan hilang. Sebab, minat generasi muda untuk memelajari bahasa leluhur ini kian minim.

Banyak orang tua memilih mengursuskan anak-anak agar menguasai Bahasa Inggris yang notabene bahasa asing. Bukan berarti Bahasa Inggris tidak penting, tetapi bahasa pribumi peninggalan nenek moyang ini kian ditinggalkan. Kini, sangat jarang ada orang tua mengursuskan anak-anaknya belajar Bahasa Jawa.

Di Kampung Kalialang Lama RT 2 RW 1 Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, memiliki tradisi unik. Masyarakat di kampung ini konsisten merawat tradisi Jawa. Mulai dari Bahasa Jawa, kesenian gamelan, musik tek-tek, tari-tarian, jathilan, hingga gending Jawa. Tentu kampung ini menjadi salah satu kampung unik yang tumbuh di tengah sibuknya Kota Metropolitan Semarang.

Tak heran, begitu memasuki kawasan perkampungan RT 2 RW 1, unsur kejawaan langsung terasa. Pemandangan pertama, pengunjung akan melihat lukisan wayang raksasa di dekat jalan masuk kampung. Ketika mendekati permukiman penduduk, terdengar sayup-sayup suara gamelan dengan nada langgam Jawa.

Uniknya, tidak hanya terpusat di satu tempat. Sebab, di sana terdapat sejumlah sanggar-sanggar tradisional yang digunakan warga setempat untuk berkesenian. Bukan hanya gamelan, tapi juga seni tari, musik tek-tek dan jathilan. Tentu suasana perkampungan menjadi alami dan bersahabat. Terlebih, masyarakat setempat juga membudayakan berbahasa menggunakan Bahasa Jawa Krama Inggil sejak anak-anak.

Konsistensi masyarakat kampung setempat yang menjaga tradisi budaya Jawa ini membuat kampung ini dijuluki sebagai Kampung Jawi. Kampung ini menjadi salah satu dari 23 Kampung Tematik yang dikembangkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Label Kampung Jawi ini merupakan kebiasaan harian masyarakat kampung setempat secara alami.

”Kampung ini diinisiasi oleh masyarakat setempat. Masyarakat menjaga tradisi budaya Jawa. Tak sekadar tahu tentang budaya Jawa, tetapi juga dapat belajar budaya Jawa sekaligus mengaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari,” kata Lurah Sukorejo, Dwiyanto kepada koran ini.

Dikatakannya, ini menjadi menarik karena di era globalisasi seperti saat ini, budaya barat mudah masuk. Sedangkan budaya sendiri mudah tergusur. Karena itu, masyarakat di sini membuat benteng sendiri agar bisa menjaga dan mempertahankan budaya asli. ”Apalagi di kota besar seperti Semarang. Seiring dengan kemajuan teknologi, budaya modern yang berasal dari barat mudah masuk dan banyak ditiru oleh generasi muda,” ujarnya.

Dia mengakui, banyak generasi muda di kota tak menguasai Bahasa Jawa yang merupakan bahasa ibu. Apalagi Bahasa Jawa Krama maupun Krama Inggil. Kebanyakan, Bahasa Jawa yang digunakan masyarakat adalah Jawa Ngoko atau kasar. Sedangkan untuk bahasa Jawa halus cenderung dilupakan. Padahal, kata dia, bahasa sangat memengaruhi karakteristik masyarakatnya. Budaya Jawa sendiri mengenal istilah ’unggah-ungguh’ yang membuat generasi santun. Saling menghargai dan menghormati orang lain. Terlebih kepada siapa pun yang berusia lebih tua.

”Embrio budaya Jawa di Kelurahan Sukorejo sudah ada sejak lama, dibandingkan kelurahan lain di Gunungpati,” katanya.

Banyak tradisi budaya yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pihaknya mengaku hanya melakukan pendampingan dan mengarahkan agar lebih berkembang dengan melahirkan inovasi-inovasi disesuaikan perkembangan zaman.

”Kami juga memberikan pelatihan-pelatihan kesenian Jawa dengan mendatangkan ahli. Termasuk menambah infrastruktur untuk mendukung dan menghidupkan Kampung Jawi ini,” ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, pendidikan Bahasa Jawa telah dibudayakan di lingkungan. Anak-anak sudah dikenalkan Bahasa Jawa Krama dan Krama Inggil dalam komunikasi harian. Baik kepada orang yang lebih tua maupun kepada teman sebaya.

”Dulu sebelum dikenal Kampung Jawi, Kampung Kalialang dikenal sebagai daerah kering dan rawan longsor. Namun saat ini Kampung Kalialang telah bertransformasi menjadi sebuah kampung yang menarik. Tidak hanya kegiatan seni tradisional. Tapi juga berhias lukisan mural bertemakan budaya Jawa,” katanya bangga.

Selain itu, lanjut dia, setiap Minggu digelar pelatihan Pranatacara untuk bapak-bapak. Setiap tahun juga digelar parade seni tradisional. Ke depan, kata dia, diharapkan kampung ini bisa menjadi kampung wisata. Tidak hanya melihat seni tradiai budaya Jawa, tetapi pengunjung juga bisa belajar budaya Jawa. ”Kalau di daerah lain ada Kampung Inggris, di sini ada Kampung Jawi,” ucapnya. (*/aro/ce1)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here