Pasar Johar Diputuskan 4 Lantai

Mei, Pembangunan Fisik Dimulai

321

SEMARANG – Harapan para pedagang agar Pasar Johar dibangun 3 lantai pupus sudah. Sebab, Pemkot Semarang sudah memutuskan membangun pasar legendaris tersebut 4 lantai. Hasil final itu diputuskan setelah dilakukan perundingan dengan melibatkan para pedagang dan pemkot.

”Sudah ada kesepakatan dalam rapat bersama para pedagang dan Pemerintah Kota Semarang. Detail Engineering Design (DED) Pasar Johar yang rencana semula dibangun 6 lantai, diubah menjadi 4 lantai,” kata Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryati Rahayu, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (10/3).
Dikatakan, perubahan DED Pasar Johar ini akan diikuti revisi penataan ulang bangunan lain di kawasan tersebut. Adapun peruntukan 4 lantai bangunan Pasar Johar baru ini, yakni untuk lantai 1-3 khusus pedagang, dan lantai 4 untuk public service. Di antaranya, untuk perkantoran, musala, dan lain-lain.

”Kami juga minta kepada Pak Sekda untuk membuat berita acara sebagai dokumentasi agar nantinya jangan sampai ada revisi DED lagi,” katanya.

Sebab, bila masalah seperti ini selalu diperdebatkan untuk beradu argumentasi, nanti malah tidak segera terealisasi. ”Banyak berdebat nanti pekerjaannya malah tidak selesai-selesai, pasarnya ya nggak jadi-jadi. Itu menjadi komitmen, pihak tata ruang sudah melakukan revisi DED. Kalau kemudian sudah ada kesepakatan ya ayo segera dijalankan,” kata Ita –sapaan akrab wawali.

Kepala Dinas Tata Ruang Kota Semarang, Agus Riyanto, melalui  Sekretaris Dinas Tata Ruang, Irwansyah, mengatakan, perubahan DED Pasar Johar saat ini sudah disepakati. Pihaknya menindaklanjuti dengan menjalankan proses tahapan menuju realisasi pembangunan Pasar Johar tersebut.

”Sebelumnya memang ada tuntutan masyarakat pasar tidak menghendaki 6 lantai, terdiri atas 5 lantai dan 1 lantai public service, kemudian mereka juga berharap masih bisa berjualan di Pasar Yaik. Artinya, kami tetap memberi alternatif,” ujar Irwansyah.

Dijelaskan, alternatif yang sudah disepakati dan dimasukkan ke DED baru adalah untuk alun-alun tetap seluas 10.000 meter persegi atau 1 hektare. Di bawah alun-alun, separo digunakan untuk lahan parkir dan sebagian lagi digunakan untuk pedagang.

”Kemudian Johar Selatan kan ada lahan kosong, nah di situ akan kami bangun 3 lantai, ada jarak antara bangunan lama (Johar) dengan bangunan baru sekitar 5 meter,” bebernya.

Kemudian di posisi Pasar Kanjengan yang sebelumnya dipermasalahkan karena dibangun 6 lantai, diubah menjadi 4 lantai. Peruntukannya, 3 lantai untuk pasar, 1 lantai paling atas digunakan sebagai gedung public service.

”Di antaranya kantor pengelola, penitipan anak, pujasera dan lain-lain. Termasuk gedung parkir, di situ juga ada. Secara garis besar perubahannya seperti itu,” terang Irwansyah.

Jadi, lanjut dia, rencana pembangunan 6 lantai di Pasar Kanjengan itu dikurangi 2 lantai. Sisanya, sebagian dimasukkan atau digabungkan di bangunan Johar Selatan menjadi 3 lantai, dan sebagian lagi dimasukkan di bawah alun-alun.

”Totalnya kurang lebih akan menampung 8.000 pedagang. Sesuai dengan data Dinas Perdagangan. Ini sudah disepakati,” ujarnya.

Karena itu, pihaknya akan langsung menindaklanjuti tahapan proses pembangunan sesuai target semula. ”Pembangunan tahap pertama dimulai tahun ini (2017) dengan anggaran Rp 50 miliar. Kemudian dilanjutkan anggaran multiyears 2018 dan 2019, mudah-mudahan kami di-support dari pemerintah pusat. Saat ini, sudah persiapan lelang. Kalau lancar mudah-mudahan Mei pembangunan fisik sudah bisa dimulai,” katanya.

Pada pembangunan tahap pertama, lanjut Irwansyah, kali pertama yang dibangun adalah Pasar Johar Bangunan Cagar Budaya terlebih dahulu. ”Akan segera berjalan, mudah-mudahan lancar dan semua pihak mendukung. Setelah bangunan Johar Bangunan Cagar Budaya selesai baru dilanjutkan lainnya,” ujarnya.
Bangunan Pasar Johar lama dibangun terlebih dahulu karena memang menjadi bangunan utama, dan termasuk Bangunan Cagar Budaya. Selain itu, saat ini telah kosong karena para pedagang telah direlokasi di daerah Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) pasca terjadi kebakaran beberapa waktu lalu. Sedangkan untuk relokasi pedagang Pasar Yaik, pihaknya mengaku belum mengetahui, karena pembangunannya masuk di tahap lanjutan.

”Soal relokasi pedagang Pasar Yaik termasuk persoalan sosial, lebih tepatnya bisa ke Dinas Perdagangan. Fokus tahap awal di pembangunan Pasar Johar Cagar Budaya terlebih dahulu,” katanya.

Salah satu pedagang Pasar Yaik Baru, Slamet Santoso, mengatakan, karakteristik pasar tradisional jika dibangun lebih dari 3 lantai, dipastikan tidak laku. Sebab, pembeli rata-rata tidak mau naik ke lantai yang lebih atas. ”Contohnya sudah banyak, salah satunya Pasar Bulu yang berlantai 3 saja tidak laku,” ujarnya.
Menurutnya, karakteristik pasar tradisional sangat berbeda dengan mal. Selain akses pejalan kaki di pasar tradisional sempit, juga tidak dilengkapi dengan lift.

”Kondisi tangganya juga kecil sekali, seperti contoh Matahari (depan Johar) juga mati semua. Kami ini pedagang pasar tradisional, penjualnya ya tradisional. Penjual dan pembeli bisa omong-omong tawar-menawar, sehingga ikatan kekeluargaan bisa terbentuk. Karena itu, pihak konsultan disuruh mengubah desain,” katanya. (amu/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here