Penjara 20 Tahun Terlalu Ringan

317
DISELIMUTI DUKA: Kakak sulung Sumiyati, Afif Mashudi (ketiga dari kiri) bersama saudara dan tetangga di rumahnya yang terus didatangi pelayat. (HANIF ADI PRASETYO/RADAR KEDU)
DISELIMUTI DUKA: Kakak sulung Sumiyati, Afif Mashudi (ketiga dari kiri) bersama saudara dan tetangga di rumahnya yang terus didatangi pelayat. (HANIF ADI PRASETYO/RADAR KEDU)

MUNGKID – Keluarga Sumiyati, 40, perempuan hamil delapan bulan yang dibunuh kekasihnya sendiri, Ahmad Fauzi, 50, meminta aparat hukum mengganjar hukuman setimpal. Saat ini, Polres Magelang telah menahan Fauzi yang dibekuk di rumahnya, Dusun Jetis RT 02 RW 02, Desa Umbulsari, Kecamatan Windusari, Senin (6/3) lalu.

Kepergian Sumiyati yang tidak pernah disangka, masih menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban. Utamanya, kakak sulung korban, Afif Mashudi, 63, yang mengaku belum bisa memaafkan tindakan biadab tetangganya itu.

”Belum memaafkan sebelum pengadilan memberikan hukuman setimpal. Hukuman 20 tahun pun saya rasa terlalu ringan,” tegas Afif saat ditemui di kediamannya, Kamis (9/3).

Afif beserta keluarga tidak mengetahui bila adiknya sudah lama menjalin asmara terlarang dengan Fauzi. Ia baru mengetahui setelah tidak sengaja mengantarkan perempuan berstatus janda dengan satu anak itu berobat ke Rumah Sakit Jiwa dr Soerojo Magelang.

”Sumiyati mengidap gangguan kejiwaan ringan dan kerap kambuh. Saya kaget, dokter memberikan hasil USG, adik saya hamil,” jelasnya.

Saat ditanya, Sumiyati mengakui menjalin cinta dengan tetangga satu RT tersebut. Usai pengakuan mengejutkan itu, keluarga korban dan pelaku dengan mediasi perangkat dusun setempat sudah melakukan perdamaian di atas materai. Meski tak sudi menikahi, namun pelaku menyanggupi memberi kewajiban nafkah bagi calon bayi tersebut.

”Perdamaian dilakukan dua bulan sebelum adik saya dibunuh. Saya tidak menyangka ternyata Fauzi punya itikad jahat,” sesal Afif.

Pria berperawakan kurus ini mengenang saat-saat sebelum Sumiyati dinyatakan hilang selama sepuluh bulan. Saat akan salat Duhur, Afif melihat adiknya merebahkan tubuhnya di kasur. Namun selesai sembahyang, ia sudah tidak mendapati adiknya berada di rumah.

”Saat pergi, ada tetangga yang melihat Sumiyati dan Fauzi di Dusun Taruman, Desa Umbulsari. Saat sudah dinyatakan hilang, tetangganya kebetulan bertemu lagi dengan Fauzi dan membentak.’Sumiyati di mana, tolong kembalikan’,” tutur Afif menirukan ucapan tetangga. Saat itu juga, bapak dua anak itu lari menghilang meninggalkan kampung.

Keluarga korban lantas melaporkan Fauzi yang diduga kuat melarikan Sumiyati. Pencarian pelaku oleh warga dan polisi pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Warga asli Desa Sugihmas, Kecamatan Grabag ini baru bisa ditangkap saat mencoba diam-diam kembali ke rumah istrinya.

”Teman Fauzi yang kebetulan dititipi motor langsung memberi kabar. Kita langsung minta bantuan polisi untuk mengepung dan menangkap setelah masuk ke rumah,” ucapnya.

Masih menurut Afif, pelaku layak dihukum setimpal. Ia menganggap Fauzi sudah melakukan penculikan dan menghabisi nyawa Sumiyati sekaligus orok di dalam perut dengan cara menghantamkan batu di kepala adiknya hingga tewas.

”Itu cara biadab dan tidak manusiawi. Meski saya orang bodoh tidak paham hukum, saya meminta pelaku dihukum seadil-adilnya. Kalau bisa setimpal,” harap Afif.

Ditemui terpisah, Kepala Desa Umbulsari, Kecamatan Windusari, Budi Susanto mengaku kecolongan dengan peristiwa perselingkuhan disertai pembuhuhan ini. Budi berharap kejadian ini tidak terulang kembali.

”Semoga ini menjadi yang terakhir dan pelajaran untuk semuanya. Kita juga sering memberikan arahan yang baik melalui pengajian,” ungkap mantan PNS di lingkungan Pemda Temanggung ini. (cr1/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here