Pasutri Tertabrak BRT, Seorang Tewas

437
OLAH TKP: Petugas Unit Lakalantas Satlantas Polrestabes Semarang saat melakukan olah TKP di lokasi kecelakaan. (HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OLAH TKP: Petugas Unit Lakalantas Satlantas Polrestabes Semarang saat melakukan olah TKP di lokasi kecelakaan. (HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kecelakaan melibatkan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang kembali terjadi. Kali ini, terjadi di Jalan Urip Sumoharjo, depan Pasar Mangkang, Semarang. Bus BRT bernopol H 1381 AW yang dikemudikan Sidikun, warga Jalan Kemantren, Ngaliyan, menabrak sepada motor Yamaha Mio bernopol H 5360 NM warna merah yang ditumpangi pasangan suami istri (pasutri), Budiharjo dan Isti’adah, 47, warga Perum Kaliwungu Indah A.V/4 RT 03 RW 10, Protomulyo, Kaliwungu Selatan, Kendal. Akibat kejadian ini, Isti’adah tewas terlindas roda belakang BRT. Sedangkan Budiharjo mengalami luka berat dan dilarikan ke RS Tugurejo.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang menyebutkan, kecelakaan itu terjadi Kamis (9/3) sekitar pukul 11.30 siang. Bermula ketika korban Budiharjo mengendarai motor Yamaha Mio warna merah memboncengkan istrinya. Ia melaju dalam kecepatan tinggi dari arah timur (Semarang) ke barat (Kendal).  Sampai di depan Pasar Mangkang yang jalannya bergelombang, korban hendak mendahului angkutan kota yang melaju di depannya.

”Saat itu, korban nyalip angkot dari sebelah kanan. Tapi tak sengaja nyenggol angkot bagian belakang sebelah kanan hingga terjatuh,” ungkap saksi mata, Sugiharto, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Nahas, pada saat pasustri ini terjatuh dari motornya, di belakangnya melaju BRT Koridor I nomor lambung 009 rute Mangkang-Pemuda-Simpang Lima-Penggaron. Tanpa mampu menghindar, BRT warna biru yang disopiri Sidikun itu pun melindas tubuh korban yang terjatuh di tengah jalan. ”Sebenarnya bus sempat menghindar, tapi ternyata korban yang wanita masih terlindas roda belakang sebelah kiri. Sedangkan yang laki-laki tidak terlindas karena jatuhnya tidak terlalu di tengah,” kata warga Mangkang ini.

Saksi lain, Sakri, warga Rowosari, Wonosari, Ngaliyan, menambahkan, pengendara yang mengalami kecelakaan diduga hendak mendahului sebuah angkutan kota yang berhenti menurunkan penumpang. Namun pihaknya tidak mengetahui secara persis jatuhnya korban di tengah jalan. ”Tahu-tahu ada suara pletok. Pas saya nengok, korban sudah terlindas. Tadi saya juga ikut membantu mengangkat jenazahnya,” ujarnya.

Pria yang sehari-hari menjadi supeltas atau sukarelawan pengatur lalu lintas alias Pak Ogah ini menambahkan, setelah terjadi kecelakaan, pengemudi BRT sempat mengejar angkutan kota tersebut ke arah Kendal. ”Tapi gak tahu akhirnya seperti apa, saya tidak tahu. Kalau suami korban sempat dilarikan ke Puskesmas Mangkang sebelum dirujuk ke RS Tugurejo,” katanya.

Akibat kecelakaan tersebut, arus lalu lintas jalur Pantura Mangkang sempat mengalami kemacetan, terutama yang dari arah timur ke barat. Sedangkan jenazah korban langsung dibawa ke RSUP dr Kariadi.

Kanit Lakalantas Polrestabes Semarang AKP Sugito mengakui adanya kecelakaan di Jalan Urip Sumoharjo depan Pasar Mangkang tersebut. ”Korban mengalami luka parah di bagian kepala dan meninggal di lokasi kejadian,” ujarnya.

Manajer Operasional BRT Trans Semarang, Mulyadi, menyatakan, pihaknya sudah melakukan respons cepat untuk melakukan koordinasi dengan pihak ketiga selaku operator BRT. Ia mengaku belum mengetahui faktor penyebab kecelakaan. Apakah disebabkan keteledoran pengemudi atau faktor lain.

”Kami belum bisa menyimpulkan, karena masih koordinasi baik dengan pihak operator maupun pihak kepolisian yang menangani kecelakaan tersebut. Yang jelas kami sudah melakukan respons cepat,” katanya.

Respons cepat yang dimaksud, kata dia, di antaranya melakukan penelusuran terkait bagaimana kronologi terjadinya kecelakaan dan penanganan pihak korban. Mengenai apakah ada tali asih untuk pihak korban, pihaknya belum bisa memastikan karena perlu melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. ”Apakah ada tali asih atau tidak, kami masih koordinasi dengan pihak operator,” ujarnya.

Kecelakaan yang melibatkan BRT Trans Semarang di jalur umum masih sering terjadi hingga menimbulkan korban nyawa. Diduga salah satunya penyebabnya lantaran BRT Trans Semarang belum memiliki jalur khusus seperti di Jakarta. ”Ke depan memang ada wacana ke sana. Bappeda sudah pernah membahas itu. Memang untuk membuat jalur khusus BRT butuh persiapan panjang dan kajian mendalam. Mulai dari pembebasan lahan dan seterusnya,” katanya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono, turut prihatin atas kecelakaan yang melibatkan BRT Trans Semarang hingga menewaskan korban. Dia meminta Pemkot Semarang bertanggung jawab atas kejadian ini. ”Setidaknya memberi santunan kepada pihak keluarga korban. Selain itu, Dishub harus melakukan penelusuran, kecelakaan yang melibatkan BRT tersebut karena faktor apa. Apabila karena faktor pengemudi, tentu harus dilakukan evaluasi,” ujarnya.  (amu/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here