Kalapas Terancam Sanksi

Polda Bidik Lapas Lain di Jateng

256
Bambang Sumardiono
Bambang Sumardiono

”Yang jelas sampai saat ini masih dalam pemeriksaan secara menyeluruh. Kalau terbukti (melibatkan) petugas lapas, pasti akan kita beri sanksi tegas dan itu pasti. Tapi kalau yang bersangkutan memang dinyatakan bersalah.”

Bambang Sumardiono

Kepala Kemenkum dan HAM Jateng

 

SEMARANG – Temuan 25 narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas IA Kedungpane, Semarang yang positif mengonsumsi narkoba menjadi perhatian serius Kantor Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum dan HAM) Jawa Tengah. Bahkan, Kepala Kemenkum dan HAM Jateng, Bambang Sumardiono, siap menjatuhkan sanksi tegas jika ada petugas lapas yang terbukti membantu melancarkan masuknya narkoba ke dalam lapas. Tak terkecuali kepala lapas (kalapas).

”Yang jelas sampai saat ini masih dalam pemeriksaan secara menyeluruh. Kalau terbukti (melibatkan) petugas lapas, pasti akan kita beri sanksi tegas dan itu pasti. Tapi kalau yang bersangkutan memang dinyatakan bersalah,” tegas Bambang Sumardiono saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (9/3).

Namun demikian, Bambang enggan memberikan jawaban tegas saat ditanya koran ini, apakah mungkin juga akan diberlakukan sanksi bagi Kepala Lapas Kedungpane Taufiqurrakhman. Sebab, hasil sidak tersebut cukup banyak napi yang terbukti positif narkoba. ”Semua masih dalam proses, kita lihat dulu saja hasil akhirnya,” jawab Bambang singkat.

Namun Bambang memastikan, razia serupa akan diberlakukan untuk seluruh lapas dan rumah tahanan (rutan) di Jateng. Ia mengaku razia tersebut sudah dilakukan secara intens, termasuk tim internal juga sering melakukan.

Ia menambahkan, atas temuan sidak di Lapas Kedungpane kemarin, nantinya sistem aturan bagi pengunjung akan ditingkatkan pemeriksaannya. ”Kita akan tingkatkan pengawasan, tapi kita akui petugas juga terbatas, termasuk larangan menggunakan handphone juga sudah diberlakukan, bahkan tidak sedikit yang sudah ditindak. Nanti akan kami telusuri lagi keterkaitan masalah itu,” tandasnya.

Kepala Lapas Kelas IA Kedungpane Semarang, Taufiqurrakhman, melalui humasnya, Fajar Soddiq, mengatakan, pascarazia kemarin, diakuinya sama sekali tidak ditemukan adanya pengakuan napi yang menyatakan ada petugas lapas yang terlibat. Namun demikian, pimpinannya sudah berkomitmen untuk memberikan sanksi tegas terhadap petugas yang ”kongkalikong” dengan para napi.

Fajar mengakui, sudah ada larangan narapidana maupun tahanan membawa handphone di lapas binaannya, termasuk sidak dan razia internal juga sudah sering dilakukan langsung bersama Satgas Kamtib Kanwil Kemenkum dan HAM Jateng.

”Bahkan pengawasan dan penggeledahan juga sudah kami lakukan secara cermat pada pengunjung maupun tamu, mesin body scanner dan x-ray juga sudah diterapkan di lapas kami, namun ada saja cara pelaku (menyelundupkan),” katanya.

Sementara itu, aparat kepolisian akan terus melakukan razia narkoba di dalam lapas secara rutin dan dadakan. Aparat Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jateng telah mengantongi sejumlah lapas di Jateng yang narapidananya terindikasi mengendalikan peredaran narkoba dari sel penjara.

”Indikasi ke arah situ pasti ada atas nama, di lapas mana, kita belum bisa menyebutkan,” ungkap Direktur Reserse Narkoba Polda Jateng Kombes Pol Krisno H Siregar kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (9/3) kemarin.
Terkait penanganan 25 narapidana Lapas Kedungpane yang positif mengonsumsi narkoba, Krisno mengungkapkan, saat ini masih dalam penyelidikan dan pengembangan. Namum demikian, pihaknya enggan membeberkan keterangan terkait penanganan yang dilakukan penyidik Ditresnarkoba Polda Jateng.
”Kami sudah periksa dan ini teknis sekali, yang hasilnya belum dapat kita ekspose. Dalam arti, hasilnya sangat berguna bagi kami untuk mengevaluasi dan database kami untuk menganalisa dan mengevaluasi peredaran gelap narkoba,” katanya.
Krisno mengakui, penanganan kasus ini membutuhkan waktu, dan dilakukan dengan tidak gegabah. Sebab, pihaknya juga mencari jaringan atau pengedar narkoba lainnya.

”Dalam kasus ini, penyidik narkoba memiliki waktu tiga kali 24 jam untuk mendalami. Jadi, pengembangan kasus ini masih butuh waktu,” tegasnya.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Djarod Padakova mengatakan, razia di dalam lapas merupakan program kepolisian dan dilakukan secara rutin. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan pimpinan lapas untuk melakukan razia setiap hari dan jam tertentu secara dadakan. ”Razia ini sudah dilakukan rutin oleh Direktorat Narkoba Polda Jateng,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 25 narapidana penghuni Lapas Kedungpane positif mengonsumsi narkoba. Hal itu terungkap saat petugas gabungan Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Jateng, Badan Narkotika Nasional Provinsi Jateng, Bea Cukai dan Kanwil Kemenkum dan HAM Jateng melakukan razia dadakan, Rabu (8/3) sekitar pukul 05.30 atau menjelang pagi. Dalam razia itu juga disita 21 unit telepon seluler (ponsel), 17 pipet kaca yang di dalamnya ada sisa sabu, catatan-catatan transaksi narkoba, uang tunai Rp 2,47 juta, serta 1 unit laptop.

Terpisah, Pengurus DPP Gerakan Nasional Antinarkotika (Granat), Lidia Siskarini, menyesalkan adanya peredaran narkoba di dalam lapas dengan leluasa. Menurutnya, sebanyak 25 napi yang terbukti positif narkoba jelas bukan jumlah yang sedikit. Sehingga perlu dicurigai sistem pengamanan lapas yang diterapkan.

”Masalah narkoba butuh komitmen tegas dari pihak lapas. Lucu sekali, kalau hanya alasan keterbatasan petugas. Percuma dong banyak bandar dipenjarakan, tapi penjaranya justru jadi sarang narkoba,” cetus Lidia.

Lidia menilai pemberantasan narkoba di Kota Semarang dan Jateng memang cukup baik. Terbukti sudah banyak pejabat yang berhasil diciduk petugas, baik BNNP Jateng maupun kepolisian. Namun yang disayangkan, tidak semua terekspose oleh publik secara transparan, apakah putusannya direhabilitasi atau justru dibebaskan dengan permainan oknum.
Dari catatan yang diketahui, beberapa pejabat yang sudah berurusan dengan narkoba di Jateng, seperti Dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang Yuli Prasetyo Adhi, Gubernur Lumbung Informasi Rakyat (LIRa) Jateng Budi Kiatno, Sipir Lapas Kelas IA Kedungpane Semarang Ari Dwi Arianto, serta Ketua Komisi C DPRD Kudus, Agus Imakhudin. ”Jadi jelas sekali narkoba itu tidak memandang siapa korbannya. Untuk itu, secara pribadi saya menyarankan petugas lapas, khususnya yang bagian narkoba diganti saja,” tandasnya. (jks/mha/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here