Gudang Jamu Ilegal Dibongkar

Omzet Sebulan Rp 100 Juta

362
TAK BERIZIN: Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Djarot Padakova dan Direktur Reserse Narkoba Kombes Pol Krisno Siregar menunjukkan barang bukti jamu ilegal yang disita. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK BERIZIN: Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Djarot Padakova dan Direktur Reserse Narkoba Kombes Pol Krisno Siregar menunjukkan barang bukti jamu ilegal yang disita. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG Ribuan jamu ilegal berbentuk pil, kapsul dan serbuk disita aparat kepolisian Direktorat Reserse Narkoba Polda Jateng. Barang tersebut diamankan dari sebuah gudang di daerah Cilacap. Jamu tradisional itu diduga tidak memiliki izin resmi, dan mengandung bahan kimia berbahaya.

Selain menyita jamu ilegal, petugas juga mengamankan tiga tersangka. Yakni, Suyit, yang ditangkap di tempat tinggalnya Desa Lebo, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Senin (20/2) sekitar pukul 19.00 lalu. Tersangka lainnya, Gino, yang dibekuk saat dilakukan penggeledahan di rumah milik Kasem, warga Dusun Rawabaya, Gentasari, Kecamatan Kroya, Cilacap, Jumat (3/3) sekitar pukul 15.00.

Tersangka ketiga, Afi, yang diamankan saat dilakukan penggeledahan di sebuah gudang milik Suharyono, warga Dusun Tinggarjati, Kelurahan Gentasari, Kecamatan Kroya, Cilacap, Jumat (3/3) sekitar pukul 19.30 lalu.

Saat petugas melakukan penggeledahan, ditemukan aneka jamu tradisional yang diduga tanpa disertai izin resmi. Jamu yang diamankan, di antaranya jamu pegal linu, nyeri tulang, asam urat, rematik, dan gatal-gatal. Termasuk obat kuat dan tahan lama yang dikemas dalam sachet plastik dengan nama ”Urat Madu”, ”Godong Ijo”, dan ”Ginseng”.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Djarot Padakova, mengatakan, terbongkarnya gudang jamu ilegal itu berawal dari informasi masyarakat terkait peredaran jamu yang mengandung bahan kimia tersebut. Hasil penyelidikan, petugas berhasil mengamankan tersangka Suyit. Setelah dilakukan pengembangan, petugas menangkap dua tersangka lainnya, yakni Gino dan Afi.

”Tiga orang sudah kita tetapkan sebagai tersangka. Satu tersangka sebagai pengedar, dan dua lainnya yang memproduksi. Ini sedang dalam proses penyidikan,” ungkapnya saat gelar perkara di Kantor Ditresnarkoba Polda Jateng, Kamis (9/3) kemarin.

Ketiga tersangka diamankan lantaran jamu yang diproduksi dan diedarkan diduga tanpa disertai izin resmi dari Departemen Kesehatan. Selain itu, peracik jamu tradisional itu tidak memilki keahlian kefarmasian. Hal ini bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

”Ini termasuk produksi jamu kategori dilarang. Pembuatannya tidak menggunakan jasa apoteker atau tenaga kesehatan, melainkan uji coba sendiri. Tersangka tidak pernah melakukan uji laboratorium tentang komposisi jamu,” bebernya.

Direktur Resnarkoba Polda Jateng, Kombes Pol Krisno Halomoan Siregar, mengatakan, tempat produksi jamu tidak resmi tersebut berada di wilayah Cilacap. Kemasan jamu yang diproduksi para tersangka terlihat sangat rapi. Praktik ini telah dilakukan para tersangka lebih dari satu tahun.

”Dari keterangan tersangka, mereka sudah memproduksi sejak tiga tahun lalu. Omzet pabrik jamu ilegal ini antara Rp 50 juta-Rp 100 juta per bulan. Produk jamunya sudah sampai ke Sumatera. Mereka berjualan di kaki lima pinggiran jalan,” jelasnya.

Atas perbuatannya, para tersangka akan dijerat pasal 196 UU RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Mereka juga akan dikenakan pasal 197 UU RI No 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara, serta denda Rp 1,5 miliar.

”Tersangka tidak dilakukan penahanan, karena selama dalam pemeriksaan bertindak kooperatif. Penyidikan ini sudah hampir selesai. Barang bukti serta perlengkapan pembuatan sudah kita sita. Gudang tempat produksi juga sudah kita segel,” tegasnya. (mha/aro/ce1)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here