Dua Siswa SMAN 3 Semarang Ciptakan Teh dari Kulit Kacang Tanah

Diklaim Bisa Tingkatkan Trombosit Darah

446
INOVATIF: Zulhulayfa Marsa dan Cesario Hanif Naufal, siswa SMAN 3 Semarang, menunjukkan Teh Tekkat dari kulit ari kacang tanah. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
INOVATIF: Zulhulayfa Marsa dan Cesario Hanif Naufal, siswa SMAN 3 Semarang, menunjukkan Teh Tekkat dari kulit ari kacang tanah. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kulit kacang tanah setelah diambil isinya biasanya dibuang menjadi sampah. Namun di tangan Zulhulayfa Marsa dan Cesario Hanif Naufal, keduanya siswa SMA Negeri 3 Semarang, kulit kacang tanah bisa disulap menjadi teh. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

TEH kulit kacang tanah karya siswa SMAN 3 Semarang ini diberi nama Teh Tekkat atau Teh Kulit Ari Kacang Tanah. Teh ini menggunakan kulit ari kacang tanah sebagai bahan utama.

Zulhulayfa Marsa menjelaskan, inovasi teh dari kulit kacang tanah ini tak semata memanfaatkan barang yang selama ini hanya dibuang begitu saja. Namun teh ini juga diklaim mampu meningkatkan trombosit dalam darah. Sebab, dari penelitian yang dilakukannya, kulit ari kacang tanah memiliki  kandungan Flavonoid dan Quercetin yang  cukup tinggi. Dua kandungan ini memiliki fungsi dan manfaat untuk meningkatkan trombosit dalam darah.

”Selama ini, kedua zat tersebut banyak ditemukan di dalam jambu biji. Nah, kandungan yang sama juga ada di dalam kulit kacang tanah. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk penderita demam berdarah dengue (DBD),” jelasnya saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Setelah tahu kandungan dari kulit kacang tanah, akhirnya keduanya melakukan percobaan pada seekor tikus. Hasilnya kadar darah dalam tikus tersebut setelah mengonsumsi Teh Tekkat hasilnya cukup signifikan, dan bisa meningkatkan trombosit sampai 382 persen.

”Awalnya sempat trial and error, tapi hasilnya cukup bagus. Akhirnya, kami putuskan untuk mengemas dalam bentuk teh agar mudah dikonsumsi,” tuturnya.
Menurut Marsa, untuk membuat teh dari kulit kacang sangatlah mudah. Bahan utama yang digunakan adalah kacang tanah untuk diambil kulit arinya dan kantong teh. Setelah kulit dan isinya dipisahkan, kemudian kulit kacang dioven dengan suhu 100 derajat celsius selama 70 menit. ”Setelah itu, kulit ari kacang tanah diblender dan setelah halus dimasukkan ke dalam kantong teh,” jelasnya.

Meski tidak dibuat dari daun atau batang teh, hasil karya keduanya memililki kemiripan dengan teh pada umumnya. Contohnya adalah memiliki aroma tersendiri, dan yang terpenting adalah memiliki rasa kacang tanah yang didapatkan secara alami. ”Rasanya masih sama kayak kacang, mungkin nanti bisa dikembangkan lagi, dan bisa ditambahkan aroma lainnya, seperti melati, strawberry dan yang lainnya,” timpal Hanif.
Hanif berharap, Teh Tekkat bisa diproduksi secara masal agar dapat dikenal dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Berkat kreasinya ini, Marsa dan Hanif berhasil menyabet medali perak dalam ajang Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) ke-9 yang digelar di SMA Kharisma Bangsa Tangerang Selatan pada 23-26 Februari lalu.

”Ke depan, Teh Tekkat akan terus kami kembangkan lagi. Kreasi ini kemarin meraih medali perak dalam ajang ISPO ke-9,” tuturnya bangga. (*/aro/ce1)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here