Program Pisau Dinilai Kurang Berhasil

367
TINJAU PROGRAM : Anggota DPR RI Nusyirwan Soejono kecewa dengan hasil program Pisau yang buruk dan tidak ada semangat gotong royong. (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)
TINJAU PROGRAM : Anggota DPR RI Nusyirwan Soejono kecewa dengan hasil program Pisau yang buruk dan tidak ada semangat gotong royong. (SUMALI IBNU CHAMID/ JAWA POS RADAR KEDU)

WONOSOBO – Anggota DPR RI Nusyirwan Soejono menilai Program Infrastruktur Percepatan Pembangunan (Pisau) kurang strategis sebagai pola pembangunan dengan sasaran desa. Pelaksanaan dinilai kurang tepat karena dikerjakan penuh oleh pihak ketiga.

“Selain hasilnya tidak maksimal, juga mengurangi semangat gotong royong masyarakat penerima,” ungkap Nusyirwan saat melihat langsung salah satu program Pisau di Desa Rejosari, Kecamatan Kalikajar, Wonosobo, Rabu (8/3).

Pisau merupakan pengganti dari Program Pembangunan Insfrastruktur Perdesaan (PPIP). Sebelumnya, melalui PPIP, pola pengelolaan anggaran swakelola, artinya melibatkan partisipasi warga sebagai penerima. Namun dengan pola Pisau, penganggaran berbasis kecamatan dan pelaksanaan pembangunan dilaksanakan pihak ketiga secara penuh.

“Saya sangat kecewa dengan hasilnya, kita tahulah kalau dipihakketigakan yang diambil dari harga terendah, ujungnya hasilnya begini tidak maksimal,” ujarnya sembari menunjuk jalan penyambung Desa Rejosari dengan Kedalon.

Untuk itu, Nusyirwan akan melakukan evaluasi dan mengajukan usulan agar Pisau diubah kembali menjadi PPIP. Karena melalui PPIP dampaknya baik. Di antaranya proses pembangunan dilakukan secara swakelola yang berarti mendorong semangat gotong royong. Selain itu, masyarakat yang ikut terlibat merasa memiliki insfrastruktur yang dibangun bahkan kerap kali hasilnya melampaui dari target.

“Karena warga bisa ikut swadaya baik tenaga maupun penambahan lain, dipastikan warga akan menjaga mutu bangunan karena bangunan tersebut untuk mereka,” tegasnya.

Politisi asal PDI Perjuangan ini menyatakan, Pisau dikonsentrasikan untuk pembangunan desa pelosok. Tahun ini terdapat tiga kecamatan di Wonosobo yang mendapatkan Pisau, meliputi Kecamatan Sapuran, Kalikajar dan Wadaslintang. Tiap kecamatan mendapatkan anggaran senilai Rp 1,2 miliar.

Ketua DPRD Wonosobo Afif Nurhidayat menambahkan, untuk wilayah Wonosobo, Pisau digunakan untuk daerah desa pinggiran. Di Kalikajar sebagai kecamatan termiskin, Pisau untuk membangun jalan penyambung antara Rejosari menuju Desa Kedalon. Kemudian di Sapuran untuk membangun jalan masuk ke desa wisata sentra batik Talunombo. Dan di Wadaslintang membangun jalan kawasan pinggiran waduk meliputi Desa Lancar dan seputarnya.

“Kami berharap tahun depan akan meningkat untuk anggaran Pisau yang akan diganti dengan PPIP, sehingga pembangunan desa bisa terus tumbuh,” ucapnya. (ali/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here