Sipir Penyelundup Sabu Dituntut 10 Tahun

168

SEMARANG – Sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IA Kedungpane Semarang, Ari Dwi Arianto akhirnya harus rela berada lebih lama di dalam tahanan. Pasalnya Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Semarang menuntut hukuman 10 tahun penjara atas kasus dugaan penyelundupan narkotika jenis sabu-sabu yang beratnya melebihi 5 gram, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Selasa (7/3).

Dalam tuntutannya, JPU menyebutkan sebagaimana diatur Pasal 132 ayat 1 jo Pasal 114 ayat 2 UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika, terdakwa Ari Dwi Ariyanto terbukti bersalah karena bermufakat dalam penyerahan narkotika golongan satu yang beratnya melebihi 5 gram. ”Menuntut, majelis hakim agar menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa selama 10 tahun,” kata JPU Jujun dalam amar tuntutannya.

Tak hanya itu, Jaksa Jujun, juga meminta majelis hakim menghukum Ari dengan pidana denda sebesar Rp 1 miliar. Dengan ketentuan, apabila dalam waktu satu bulan setelah perkara memiliki kekuatan hukum tetap, maka akan diganti dengan hukuman empat bulan penjara. ”Mengurangkan semua masa penahanan yang telah dijalani terdakwa, memerintahkan terdakwa tetap dalam tahanan,” tandasnya.

Dalam pertimbangannya, JPU menyebutkan, hal-hal yang memberatkan yakni, perbuatan terdakwa tidak mendukung upaya pemerintah dalam memerangi narkotika. Sementara hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum, menyesali perbuatannya dan menjadi tulang punggung keluarga.

Mendengar tuntutan itu, terdakwa yang didampingi kuasa hukumnya mengaku keberatan. Mereka akan mengajukan nota pembelaan atau pledoi pada sidang selanjutnya. Usai sidang, kuasa hukum terdakwa, Dirhamzah mengaku kecewa dengan tuntutan jaksa. Menurutnya, tuntutan itu, tidak manusiawi dan sangat memberatkan. ”Nanti akan kami sampaikan dalam pledoi,” ujarnya.

Kasus ini bermula pada 2016 lalu. Saat itu, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng mendapat laporan akan adanya transaksi narkotika di depan Soto Kwali, Jalan Dr Cipto Semarang.

Saat itu, ada sebuah mobil Toyota Avanza yang berhenti, kemudian terdakwa menghampiri menggunakan sepeda motor. Dari orang dalam mobil, terdakwa menerima titipan tas berwarna merah. Tak selang beberapa lama, terdakwa langsung ditangkap petugas BNNP bersama barang bukti berupa tas berwarna merah. Saat digeledah, tas itu berisi tiga bungkus bubur cincau, salah satunya terdapat tiga bungkus kecil berupa kristal. Saat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, bubuk kristal itu adalah narkotika jenis sabu-sabu seberat 30 gram. (jks/ric/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here