Proyek Tol Bawen-Salatiga Terancam Molor

Pengerjaan Terkendala Hujan

302

SEMARANG – Percepatan konstruksi jalan tol Semarang-Solo seksi III ruas Bawen-Salatiga terkendala musim hujan. Jika sepanjang Maret ini intensitas hujan masih tinggi, pengerjaan bakal tersendat. Target jalan tol bisa dioperasikan April, kemungkinan akan molor.

Pimpinan Proyek (Pimpro) PT Trans Marga Jateng (TMJ), Indriono, menjelaskan, Februari kemarin nyaris tidak ada progres signifikan. Sebab, dari 28 hari, hanya ada 6 hari tanpa hujan.

”PR (pekerjaan rumah) yang paling banyak kan pengerjaan tanah, entah timbunan atau galian. Nah, kalau kondisi tanah basah, tidak bisa dikerjakan. Harus nunggu kering. Kalau pengecoran, relatif tidak ada masalah. Kalau hujan, pekerjanya berteduh, pas terang langsung lanjut bekerja lagi,” ucapnya ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (7/3).

Dia mengaku, masih mengandalkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jateng yang mengatakan pada Maret ini sudah memasuki pancaroba. Ini bisa dijadikan pegangan agar pengerjaan tol bisa lebih baik dari Februari lalu.

Meski begitu, lanjutnya, dari 1-4 Maret kemarin, hujan masih turun deras. Cuaca cerah hanya terjadi pada Minggu (5/3) saja. Sementara Senin (6/3) kemarin masih ada hujan. ”Jika hujan masih terjadi sampai akhir Maret, pengerjaan tanah tidak bisa dipercepat. Tapi, kami berupaya memenuhi target, yakni harus sudah clear pertengahan April mendatang,” harapnya.

Upaya percepatan tesebut dilakukan dengan menambah jumlah pekerja dan alat berat sejak awal Februari lalu. Jam kerjanya pun sebenarnya juga ditambah. Tapi, tidak efisien karena pengerjaan tanah tidak bisa berjalan gara-gara hujan.

Dikatakan, saat ini progres pengerjaan tol sudah mencapai 93,84 persen. ”Yang belum tergarap dari simpang susun Bawen hingga Jembatan Tuntang. Sementara Jembatan Tuntang ke Salatiga sudah jadi meski belum sempurna. Di simpang susun Salatiga juga belum selesai, tapi sudah bisa dilewati kendaraan,” paparnya.

Indriono mengatakan, jika konstruksi jalan tol sudah finish, masih ada proses lagi sebelum dibuka untuk umum. Yakni, uji layak fungsi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Proses itu bisa memakan waktu sampai dua minggu, satu bulan, atau bahkan lebih. Tergantung temuan dari tim tersebut. ”Jika ada temuan yang dianggap tidak layak fungsi, kami harus membenahinya. Dan itu butuh waktu,” cetusnya.

Koordinator BMKG Jateng, Tuban Wiyoso, mengatakan, musim penghujan awal tahun ini puncaknya pada Januari-Februari. Saat ini, intensitas hujan dan angin kencang sudah mulai menurun. Tapi cuaca ekstrem akan masih terjadi lagi saat pancaroba.

”Memang sekarang angin kencang dan hujan mulai menurun, namun April mulai pancaroba dari musim hujan ke kemarau, jadi cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kecang masih terjadi,” katanya.

Dibeberkan, wilayah yang lebih awal terjadi kemarau pada Mei-Juni di bilangan pantai utara (pantura), sedangkan untuk daerah pegunungan curah hujan masih terhitung tinggi. (amh/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here