Perhutani Ogah Disebut Penyebab Banjir Dieng

293
DAMPAK BANJIR: Rumah milik Darmadi di Dusun Krakal Kelurahan Kejajar Wonosobo yang ambrol setelah bagian bawahnya terkikis aliran sungai Serayu pada 28 Februari 2017 lalu. (DOK SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)
DAMPAK BANJIR: Rumah milik Darmadi di Dusun Krakal Kelurahan Kejajar Wonosobo yang ambrol setelah bagian bawahnya terkikis aliran sungai Serayu pada 28 Februari 2017 lalu. (DOK SUMALI IBNU CHAMID/RADAR KEDU)

WONOSOBO—Spekulasi beberapa pihak yang menuding bahwa penyebab banjir Dieng dipicu banjir kiriman atau longsoran dari lahan Perhutani, serta-merta dibantah pihak Perhutani Kedu Utara. Alasan mereka, luasan area lahan milik Perhutani, hanya sepertujuh dari total lahan yang ada di wilayah Dieng.

Perhutani pun buru-buru mengklarifikasi bahwa longsor besar yang terjadi di kawasan Gunung Perahu–sebagaimana yang dituduhkan sebagai penyebab terjadinya banjir bandang dua pekan lalu—bukanlah tanah milik Perhutani.

“Di Gunung Perahu memang terjadi longsor kecil-kecil waktu itu. Tapi nggak sebesar yang terlihat dari desa. Kalau yang itu bukan milik Perhutani,” kata Asper Kedu Utara, Firmansyah, meluruskan isu yang berkembang, akhir-akhir ini.

Ia meneguhkan pendapatnya bahwa di area Dieng, lahan yang dimiliki Perhutani hanya 2.535,36 hektare (ha). Atau, sepertujuh lahan milik warga. Karena itu, tidak tepat jika pemicu banjir dan longsor lembah Dieng, semata-mata karena kiriman air dan material longsor dari lahan Perhutani.

Ia juga mengklarifikasi anggapan bahwa hutan area Dieng saat ini telah rusak. Firmansyah menegaskan, pohon keras di area hutan Dieng sampai saat ini masih terjaga. Adapun isu banyak pohon keras yang dicabuti, bukanlah tanaman yang berada di lahan Perhutani. “Nggak ada, kalau yang dicabuti itu tanaman keras di lahan warga. Yang mana dulu pernah ada program penanaman.”

Mandor pendamping tingkat desa, Edi Haryanto, yang turut mendampingi Asper membeber, kerusakan hutan pernah terjadi pada 1998-2000-an. Selepas itu, hutan Kedu Utara kembali membaik setelah dilakukan reboisasi terus-menerus. Dikatakan, sejak awal, hutan di area Dieng dinyatakan sebagai hutan lindung. Artinya, tak bisa diswakelolakan dengan masyarakat. Hutan hanya difokuskan untuk ditanami pohon keras.

Penanaman sangat rapat, berjarak tanam 3×2 meter. Artinya, setiap hektare tanah Perhutani Kedu Utara di kawasan Dieng, berdiri 1.600-an pohon keras. Bahkan, tanaman keras tidak boleh dilakukan penjarangan. Jenis pohon yang ditanam pun telah disesuaikan. Antara lain, pohon Bintami, Ikaliptus, Keningar, dan Akasia Decuren. “Kalau ada yang bilang banyak yang mati pasti ada, tapi jumlahnya tak terlalu banyak,” katanya. (cr2/isk)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here