Mewujudkan Bawen Ramah Anak

333
RAMAH ANAK : Perlombaan melukis pelajar TK menggunakan talenan di halaman kantor Kecamatan Bawen oleh mahasiswa KKN UPGRIS, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAMAH ANAK : Perlombaan melukis pelajar TK menggunakan talenan di halaman kantor Kecamatan Bawen oleh mahasiswa KKN UPGRIS, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN–Banyaknya kasus kekerasan yang menimpa anak menginisiasi mahasiswa KKN Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) untuk menjadikan Kecamatan Bawen ramah anak.

“Pengertian layak anak ini memberikan lingkungan yang bisa tumbuh kembang anak secara optimal,” kata Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UPGRIS, Suwarno Widodo usai Festival Budaya di halaman kantor Kecamatan Bawen yang digelar oleh mahasiswa KKN UPGRIS yang didukung oleh Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (5/3) kemarin.

Menurutnya, saat ini pemerintah daerah khususnya di Kabupaten Semarang harus segera mewujudkan wilayah yang ramah anak. Dimana anak mulai dilibatkan dalam setiap kegiatan. “Anak harus mendapatkan hak-haknya,” tuturnya.

Adapun hak tersebut, lanjutnya, yaitu properti, proteksi, dan partisipasi. Properti dalam hal ini, mendapatkan pendidikan yang layak, makanan yang bergizi, dan lingkungan yang sehat. Sementara proteksi yaitu anak harus terlindungi dari kekerasan baik itu fisik maupun psikis. Sedangkan partisipasi yaitu anak harus dilibatkan dalam setiap kegiatan. “Dalam implementasinya, mahasiswa kami melibatkan anak di setiap kegiatan selama KKN. Baik itu di tingkat kelurahan, RT, dan RW,” katanya.

Kegiatan tersebut seperti halnya mendirikan kelompok belajar di setiap desa dan kelurahan di Kecamatan Bawen. Pelatihan kepada orangtua bagaimana mendidik anak agar dapat berkembang dengan baik juga dilakukan. Yaitu menyelamatkan anak melalui pelestarian dolanan tradisional. Maraknya budaya mainan dari luar membuat hasil budaya lokal seperti halnya mainan sering dilupakan. “Sehingga kami juga mengembangkan melalui pengembangan dolanan tradisional,” tuturnya.

Dimana anak-anak di desa setempat diberikan pemahaman dan pelatihan dolanan tradisional. “Ada pertunjukan wayang binatang yang beberapa waktu lalu dilakukan. Itu semua untuk menjadikan Kecamatan Bawen menjadi lebih ramah anak,” tuturnya.

Hal itu juga dilakukan di semua desa dan kelurahan di Kecamatan Bawen. Dimana masing-masing mahasiswa yang KKN di desa tersebut membuat program untuk mendukung misi pendirian wilayah ramah anak. “Anak di Indonesia banyak mengalami kekerasan. Terlihat di media. Hampir setiap hari ada kekerasan terhadap anak,” katanya.

Dijelaskan Suwarno, kekerasan terhadap anak juga acapkali terjadi di keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Disebabkan minimnya pemahaman dan pendidikan menangani anak dari masing-masing orangtua. Sehingga, anak kerap menjadi sasaran kemarahan dari orangtua, sekolah, maupun lingkungan. “Sehingga kita ingin mengkampanyekan gerakan lindungi anak,” ujarnya.

Anak yang merupakan generasi penerus bangsa harus disiapkan untuk dapat memberikan kemajuan kepada bangsa kelak. “Jika harus kita tidak siapkan dengan baik agar mampu mengukir nasib bangsa ke depan,” ujarnya.

Ditegaskannya, dalam hal ini Pemkab Semarang harus meneruskan program yang sudah dilakukan oleh UPGRIS tersebut. Seperti halnya program-program sebelumnya yang dilakukan oleh mahasiswa KKN di daerah, akan mandek ketika program KKN sudah berakhir. “Biasanya mandek dan tidak diteruskan. Namun pihak kecamatan dan desa serta kelurahan memastikan hal itu akan berlanjut,” ujarnya.

Dosen Pembimbing Lapngan (DPL) sekaligus Koordinator Mahasiswa KKN UPGRIS Kecamatan Bawen, Kiswoyo juga mengatakan hal serupa. Festival budaya di halaman kantor Kecamatan Bawen juga melibatkan banyak anak.

Seperti halnya melukis di atas talenan oleh siswa-siswi TK di Kecamatan Bawen. Dimana anak dibebaskan untuk berimajinasi dan menuangkannya ke media talenan. “Talenan biasanya digunakan untuk proses memasak. Esensinya sama dengan menggambar,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, siswa-siswi dari berbagai desa dan kelurahan di Kecamatan Bawen tersebut bebas menuangkan segala bentuk imajinasinya. “Jadi TK itu kelasnya tidak hanya mewarnai, namun harus diberikan kebebasan imajinasi kepada mereka. Ini kami lakukan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, ratusan siswa-siswi TK di semua desa dan kelurahan di Kecamatan Bawen terlibat. Mereka sudah asik dengan kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.30.

Beberapa dari orangtua juga terlihat menyemangati putra-putri mereka dalam menuangkan imajinasinya di talenan. Ada yang melukis tentang keluarga dan tidak sedikit yang melukis pemandangan. Silvia, 5, salah satu peserta, melukis gambar ayah dan ibunya. “Ini dibantu (diarahkan) bapak dalam mewarnai,” ujarnya lugu. (ewb/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here