Menengok Mbah Supini di Panti Rehabilitasi Sosial Among Jiwo

Minta Diantar Pulang, Mengaku Stres

433
MASIH SHOCK: Mbah Supini terkulai lemas di Panti Rehabilitasi Sosial Among Jiwo. (kanan) Mbah Supini saat di Mapolresta Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MASIH SHOCK: Mbah Supini terkulai lemas di Panti Rehabilitasi Sosial Among Jiwo. (kanan) Mbah Supini saat di Mapolresta Semarang. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sehari semalam di UPTD Panti Rehabilitasi Sosial Among Jiwo Dinas Sosial Kota Semarang, nenek Supini, 93, rupanya masih shock. Lansia yang diduga menjadi korban trafficking (perdagangan orang) karena disuruh mengemis oleh Suwarno, 35, ini hanya terkulai lemas di tempat tidur ruang pembinaan.

ABDUL MUGHIS

SIANG kemarin (7/3), UPTD Panti Rehabilitasi Sosial Among Jiwo Dinas Sosial Kota Semarang di Jalan Bringin, Ngaliyan, tampak seperti hari-hari biasa. Hanya bedanya, kali ini ada penghuni baru yang cukup istimewa. Ya, Mbah Supini sempat menjadi viral di media sosial. Ia diduga dieksploitasi menjadi pengemis di sekitar traffic light RSUP dr Kariadi oleh Suwarno, yang kini telah diamankan di Mapolrestabes Semarang.
Kemarin, Supini tampak masih stres, karena sehari sebelumnya terus dicerca berbagai pertanyaan oleh berbagai pihak. Baik pengurus panti, wartawan, hingga penyidik kepolisian. Kondisi psikologi Mbah Supini tampak belum stabil. Kadang nada bicaranya ramah. Namun seketika kerap marah-marah.

”Aku diterke mulih ae, neng kene aku stres (saya diantarkan pulang saja, di sini saya stres),” ujar Supini saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di ruang Bougenvile Panti Rehabilitasi Sosial Among Jiwo Ngaliyan ditemani pengurus panti, kemarin.

Pihak pengurus panti masih melakukan perawatan intensif terhadap Supini dan belum diperbolehkan pulang ke Grabag, Magelang. Sebab, keberadaan Supini masih dibutuhkan untuk melengkapi keterangan penyidik Polrestabes Semarang untuk keperluan proses hukum tersangka Suwarno.

Supini sendiri mengaku sudah tidak ingat lagi sejak kapan tinggal sebagai gelandangan di Kota Semarang. Namun sebelum menjadi gelandangan, Supini merupakan seorang pedagang sayuran di Pasar Johar Semarang. Bahkan dulu, ia bisa menyewa truk untuk kulakan berbagai sayuran di Bandungan. ”Saya dulu jualan sayuran, ada kobis, telo, dan lain-lain. Berangkat dari Grabag,” kenangnya.

Meski pendengaran dan pelafalan kalimat masih jelas, Mbah Supini terkadang berbicara ngelantur ngalor-ngidul. Ia juga sering berubah-ubah saat dinyata di mana tepatnya desa tempat tinggalnya. ”Aku ra nduwe omah, ra nduwe bojo, ra nduwe anak. Lha wong ra nduwe anak kok ditakoni anak terus. Wis, aku pengin mulih ae soko kene,” kata Supini.

Kepala UPTD Panti Rehabilitasi Sosial Among Jiwo Dinas Sosial Kota Semarang, Sudiyono, mengatakan, pihaknya saat ini masih melakukan perawatan terhadap Supini. ”Dia (Supini) sementara di sini kami rawat dengan baik. Dia kan sebagai korban dugaan trafficking, sekarang dalam binaan di sini. Sewaktu-waktu diperlukan keterangannya oleh penyidik Polrestabes Semarang. Selama masih diperlukan untuk kepentingan proses hukum, dia kami rawat di sini,” ujarnya.

Selama perawatan, selain diberikan waktu istirahat cukup, pihaknya juga mendampingi Supini untuk diajak beraktivitas bersama-sama penghuni panti yang lain. ”Kami dampingi untuk pemulihan kejiwaannya. Kondisi kejiwaannya stabil, hanya saja dia kan masih trauma atas kejadian kemarin. Nanti kalau semua sudah beres,  bisa segera kembali ke rumah. Dalam waktu dekat, kami juga akan mencari keberadaan alamat rumah yang informasinya di daerah Grabag, Magelang,” katanya.

Sudiyono mengaku, hingga kemarin, belum ada pihak yang mengaku sebagai keluarga Mbah Supini. ”Kami nanti akan mencari kebenaran informasi lebih lanjut alamatnya. Soalnya tahu sendiri lah, berbicara dengan teman-teman di sini harus sabar. Karena hampir semua pasien yang tinggal di sini sekarang bicara A, besok bisa berubah B, C dan seterusnya. Jadi ya harus didampingi dengan sabar,” ujarnya.

Secara umum, lanjut Sudiyono, pihaknya memang mengakui kewalahan karena banyaknya penghuni di Panti Rehabilitasi Among Jiwo. Sebab secara ideal, Among Jiwo hanya bisa menampung sebanyak 70 orang. ”Namun saat ini overload hingga 120 orang,” imbuhnya.

Salah satu pengurus, Adi Pratondo, mengatakan, Among Jiwo sejauh ini memang dalam kondisi kekurangan fasilitas. Hanya memiliki jumlah pegawai 15 orang. ”Setiap satu petugas mendampingi 7-10 pasien. Rata-rata pasien merupakan psikotik atau mengalami gangguan jiwa. Psikotik yang dalam kategori parah memiliki perilaku ekstrem, sehingga mereka harus dirawat di dalam sel, karena sangat berbahaya,” katanya.

Pihaknya berharap, Among Jiwo ke depan bisa memiliki psikiater khusus. Karena selama ini tidak memiliki psikiater. Pihak kampus yang memiliki jurusan psikologi juga masih sangat jarang ada yang bekerja sama. Padahal hal itu sangat dibutuhkan. ”Kami berharap ada pihak-pihak kampus yang bekerja sama. Selama ini memang ada, tapi masih bersifat insidentil. Misalnya dari mahasiswa UIN Walisongo sering ikut melakukan pembinaan keagamaan,” ujarnya.

Selain itu masih minim fasilitas. Misalnya, mobil ambulans dalam kondisi rusak, dan tidak memiliki klinik obat. Dikatakannya, dulu sebenarnya memiliki klinik dan obatnya disuplai dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ). ”Tapi sekarang sudah tidak terintegrasi lagi sejak ada BPJS. Para pasien ini seharusnya kan juga butuh mendapat jaminan kesehatan. Apabila mendadak sakit dan seterusnya. Tetapi prosedur saat ini tidak memungkinkan. BPJS pun tidak bisa mem-back up karena persyaratannya harus memiliki KTP Semarang. Padahal mereka ini nama sendiri saja banyak yang tidak tahu, apalagi ditanya KTP. Itu kendala kami. Sedangkan prinsip penanganannya harus menampung siapa pun,” katanya.

 

Perekam Video

Terungkapnya praktik trafficking ini tak lepas dari peran warga yang merekam aksi eksploitasi tersebut hingga kemudian diunggah di akun Instagram @lambe_turah dan menjadi viral. Ada 4 video yang sempat di-posting hingga menjadi perhatian ribuan netizen, termasuk Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Ditemui Jawa Pos Radar Semarang di tempat kerjanya, wanita berinisial R yang telah merekam aksi Suwarno mengeksploitasi Mbah Supini mengaku, hampir satu minggu dirinya mengamati gerak-gerik keduanya. ”Saya sering lihat mbah itu ngemis di bangjo depan situ (traffic light RSUP dr Kariadi arah Jalan Kaligarang, Red), kasihan sudah tua. Trus saya amati setiap jam 12.00 siang, dia setor ke laki-laki yang ngaku sebagai cucunya,” terang R yang tidak mau diungkap identitasnya secara jelas lantaran khawatir dengan keamanannya.

Melihat itu, R berusaha meyakinkan diri dengan terus mengamati perilaku Suwarno sejak Jumat (3/3) lalu.

Ia mengaku sedih, namun tidak berani untuk menolong. Ia takut karena pernah tepergok Suwarno saat dirinya memperhatikan keduanya. Saat itu, dia sedang makan di warung seberang tempat nenek Supini istirahat.

”Saya nggak berani untuk maju, makanya waktu itu diam saja pas sedang makan di warung. Wong saya dipelototi sama dia (Suwarno, Red),” ungkapnya.

Setelah melakukan pengintaian bersama rekan-rekannya, ia pun memutuskan untuk merekam aksi Suwarno saat bersama Mbah Supini. Ia lantas berinisiatif untuk melaporkan ke Wali Kota Semarang melalui media SMS Lapor Hendi. Namun tidak langsung ditanggapi.

”Sabtu pagi kalau gak salah, saya SMS ke Lapor Hendi, tapi nggak direspons, mungkin karena banyak laporan yang masuk ya. Akhirnya saya buka Instagram lagi dan lihat akun @cakbudi yang terkenal dengan aksi sosialnya,” terangnya.

Ia pun akhirnya menghubungi nomor yang disediakan oleh Cak Budi dan menceritakan kronologi kepada Mbak Lina sebagai wakilnya. Tidak lama berselang, yakni pada Senin (6/3) videonya menjadi viral dan penuh komentar netizen.

”Saya nggak nyangka aja jadi viral gitu, tapi kurang nyaman juga karena takut dicari sama pelakunya kalau proses hukumnya selesai nanti,” paparnya

R mengungkapkan ketakutannya muncul karena ia khawatir jika nanti pelakunya tidak dihukum berat, dan telah selesai menjalani masa hukuman, kemudian melihat video tersebut dan mendatanginya. Namun dirinya juga menyebutkan tidak mau berurusan dengan kepolisian, karena ia murni melakukannya karena rasa empati.

”Jujur sekarang saya jadi takut, kalau nanti dia sudah keluar terus lihat video itu. Karena kan jelas banget, ini juga menyangkut pekerjaan dan tempat saya bekerja,” katanya.

Ia berharap, Suwarno segera ditindak dan Mbah Supini dirawat dengan baik, karena ia sedih melihat eksploitasi pada  nenek tua itu. ”Semoga dia segera disadarkan atas perbuatannya, dan Mbah Supini baik-baik saja di Among Jiwo,” harapnya.

Sementara itu, hingga kemarin  polisi masih menelusuri dugaan adanya pelaku lain yang terlibat dalam kasus trafficking tersebut. ”Masih terus dikembangkan oleh anggota di lapangan. Terus kita telusuri,” ungkap Kasatreskrim Polrestabes Semarang AKBP Wiyono Eko Prasetyo kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (7/3) kemarin.

Pihaknya mengaku telah menemukan seorang teman dekat tersangka Suwarno. ”Ada seorang perempuan. Sering ke tempat kos dia (Suwarno). Masih ditelusuri anggota di lapangan. Mudah-mudahan ada barang bukti baru yang bisa kita dapatkan,” katanya. (mg26/mha/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here